Home Blog Page 11

Budidaya Bawang Merah (Allium ascalonicum)

0
Budidaya Bawang Merah (Allium ascalonicum)

Bisatani.com –  Bawang mrah atau dalam bahasa latin Allium ascalonicum merupakan salah satu jenis tanaman holtikultura yang mempunyai nilai ekonimi tinggi di pasaran. Namun terkadang karena produksi hasil dari pertanian harganya juga bisa anjlok.Bukan hanya itu, anjloknya harga juga bisa dipengaruhi oelh kebijakan impor yang diterapkan oleh pemerintah.

Tanaman bawang merah merupakan jenis tanaman musiman sehingga untuk menghindari fluktuasi harga yang membuat kerugian bagi petani. Untuk menghindari hal tersebut petani perlu membudidayakan bawang merah diluar musim dan membatasi budidaya dimusim puncak.

Adapaun sentra budidaya bawang merah yang paling besar di Indonesia adalah di daerah Brebes.

Syarat untuk budidaya bawang merah :

  1. Daerah yang cukup cahaya matahari karena budidaya bawang merah memerlukan pencahayaan matahari lebih dari 12 jam dalam sehari.
  2. Dibudidayakan di dataran rendah (ketinggian 0-900 meter diatas permukaan laut).
  3. Daerah dengan suhu 25-32 derajat celcius.
  4. Keasaman tanah sekitar pH 5,6-7.

Pemilihan benih bawang merah

Budidaya Bawang Merah (Allium ascalonicum)Ada banyak jenis varietas bawang merah yang bisa dipilih untuk budidaya bawang merah, baik itu benih dari lokal maupun benih hibrida yang di impor. Bentuk benih bawang merah ini ada yang berupa biji, ada juga yang berupa umbi. Tapi kebanyakan petani bawang merah di sentra produksi menggunakan benih yang berupa umbi.

Berikut cara memilih benih umbi bawang merah yang baik :

  1. Umbi yang dipanen tua merupakan benih umbi bawang merah yang paling baik, kisaran 80 hari untuk dataran rendah dan 100 hari jika di daerah dataran tinggi.
  2. Benih umbi bawang merah telah disimpan selama 2-3 bulan.
  3. Pilih ukuran benih sekitar 1,5-2 cm dengan bentuk bagus, tidak memiliki cacat dan memiliki warna merah tua mengkilap.

Dalam budidaya bawang merah benih yang dibutuhkan tergantung dari varietas, ukuran benih dan juga jarak tanam. Jika jarak tanam 20×20 dan bobot umbi 5 gram, benih yang dibutuhkan sekitar 1,4 ton per hektar. Dan jika jarak tanam 15×15, benih yang dibutuhkan sekitar 2,4 ton per hektar. Apabila bobot umbi lebih kecil lagi, benih umbi yang dibutuhkan lebih sedikit per hektarnya.

Mengolah tanah dan penanaman untuk bawang merah

  1. Buatlah bedengan tanah dengan lebar 1-1,2 meter, tinggi bedengan sekitar 20-30 cm dan panjang bedengan menyesuaikan dengan kondisi kebun. Berilah jarak antar bedengan sekitar 50 cm dan jadikan parit dengan kedalaman 50 cm. Cangkul bedengan sedalam 20 cm lalu gemburkan tanahnya. Untuk permukaan atau bagian atas bedengan, buatlah menjadi rata dan jangan melengkung.
  2. Berikan dolomit atau kapur khusus pertanian sebanyak 1-1,5 ton per hektar jika tingkat keasaman tanah kurang dari pH 5,6. Berikan dolomit dengan jangka 2 minggu sebelum penanaman bawang merah.
  3. Gunakan pupuk dasar seperti pupuk kompos atau pupuk kandang, tebarkan diatas bedengan dan campur merata dengan tanah. Bisa juga menambahkan pupuk Urea, Za, SP 36 dan KCL dengan takaran 47kg, 100kg, 311kg dan 56kg di setiap hektarnya. Campurkan pupuk terlebih dahulu sebelum di apikasikan dan diamkan selama seminggu sebelum awal tanam.
  4. Siapkan benih bawang merah yang sudah siap untuk ditanam. Jika umur umbi masih kurang dari 2 bulan, lakukan pemogesan terlebih dahulu. Pemogesan merupakan pemotongan dibagian ujung umbi bawang merah, kira-kira sekitar 0,5 cm. Hal ini dilakukan untuk memecahakan masa dorman dan membuat tanaman cepat tumbuh.
  5. Tanam bawang merah dengan jarak 15×15 pada musim kemarau dan jarak 20×20 pada musim hujan. Benamkan seluruh bagian umbi kedalam tanah saat menanam benih bawang merah.

Cara perawatan tanaman bawang merah

  • Lakukan penyiraman bawang merah dua hari sekali, pagi dan sore. Penyiraman dilakukan sampai umur tanaman 10 hari. Setelah itu penyiraman bisa dilakukan sehari sekali saja.
  • Berikan pupuk susulan setelah tanaman bawang merah berumur 2 minggu. Pupuk terdiri dari campuran Urea, Za, dan KCL dengan komposisi pupuk 93 kg, 200 kg, dan 112 kg yang diaduk rata untuk perhektarnya. Kemudian pada minggu ke-5 berikan pupuk susulan dengan takaran Urea 47 kg, ZA, 100 kg, KCL 56 kg yang dicampur rata perhektar. Berikan pupuk dengan cara membuat garitan disamping tanaman.
  • Lakukan penyiangan gulma dua kali dalam satu musim tanam. Untuk menghemat biaya, lakukan penyiangan dan pemberian pupuk susulan secara bersama-sama. Jika serangan gulma terlalu lebat dan cepat, segera lakukan penyiangan gulma tanpa menunggu pemberian pupuk susulan.

Pengendalian hama dan penyakit

Hama ulat dan penyakit layu merupakan jenis hama dan penyakit yang paling sering menyerang di sentra pertanian bawang merah daripada hama dan penyakit lain.

Jenis hama ulat Spodotera sp merupakan hama yang biasa menyerang bawang merah. Hama ini menyerang daun. Adapun gejala dari serangan hama ini adalah bercak daun yang terdapat pada daun. Jika diamati daun seperti ada gigitan ulat. Cara menanggulangi hama ini adalah sebagai berikut:

  1. Cara manual, yakni dengan cara memungut langsung ulat dan telur lalu musnahkan.
  2. Kimiawi, menggunakan insketisida dengan bahan aktif Metomil dan Klorpirifos.

Untuk penyakit layu fusarium biasanya disebabkan oleh cendawan. Gejalanya seperti daun menguning dan terpilin, pangkal batang membusuk. Adapun cara penanggulangan:

  1. Manual, cabut tanaman yang mati kemudian musnahkan dengan cara dibakar.
  2. Kimiawi, semprot dengan fungisida berbahan aktif Mankozeb, Azokistrobin, Difenokonazol atau Klorotaronil.

Masa panen tanaman bawang merah

Berikut ciri-ciri tanaman bawang merah yang siap dipanen:

  • 60%-70% daun pada tanaman bawang merah sudah mulai merebah atau cek umbi secara acak. Untuk benih yang berupa umbi, tingkat kerebahan daun harus mencapai 90% keatas.
  • Masa penanaman sudah mencapai 55-70 hari sejak awal tanam.

Hasil produktivitas tanaman bawang merah bervariasi, hal itu dipengaruhi kondisi lahan, cuaca, iklim dan varietas bawang merah yang ditanam.

Bawang merah yang dipanen harus dikeringkan dahulu, penjemuran bisa dilakukan hingga 7-14 hari. Jangan lupa dilakukan pembalikan setiap 2-3 hari. Kadar air akan menjadi 85% jika sudah kering. Bawang kemudian siap untuk disimpan dan dipasarkan.

Cara Mengatasi Ujung Daun Menguning (Busuk) Pada Tanaman Bawang

0
mengatasi busuk daun pada daun bawang

Bawang merupakan salah satu tanaman umbi yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu rempah-rempah. Tanaman bawang ini banyak di tanam oleh petani di Indonesia dengan tingkat produksi yang tinggi.

Jika kita lihat masakan di Indonesia hampir menyeluruh menggunakan bumbu dari bawang. Mulai dari bawang putih hingga bawang merah, hingga daun bawang juga digunakan dalam bumbu masakan.

Proses penanaman bawang biasanya dilakukan dengan mempervanyak umbi secara vegetatif. Petani ada yang menanam bawang untuk dijadikan sayuran, ada juga untuk dijadikan benih kembali.

Penyakit Pada Tanaman Bawang Merah dan Bawang Putih

mengobati ujung daun bawang menguning pada tanaman bawang

Beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman bawang disebabkan oleh jamur, hama serangga, virus dan lain sebagainya.

Hama serangga pada bawang biasanya ulat penggerek daun dan tanah, wereng, lalat hingga thrips. Hama inilah yang menurunkan hasil panen dari tanaman bawang.

Selain itu bawang juga sering terkena layu fusarium (penyakit moler) atau serangan jamur yang menyebabkan daun bawang menguning.

Penyebab Ujung Daun Bawang Menguning

Sebelum mendefinisikan penyakit yang menyerang tanaman bawang kita. Ada baiknya kita mengamati keadaan dari tanaman.

Jika tanaman kita hanya kuning bagian ujungnya biasanya disebabkan oleh jamur dan kekurangan nutrisi. Nutrisi yang kurang bisa membuat tanaman bawang memiliki ujung kuning. Misalkan pemupukan yang kurang tepat yang membuat bawang tidak subur.

Sedangkan bawang yang terkena layu fusarium (penyakit moler) ditandai dengan :

  • Tanaman layu secara menyeluruh
  • Daun berwarna kuning dan berbentuk melengkung (moler)
  • Jika dicabut akarnya membusuk
  • Terdapat jamur di umbi yang membuat tanaman mati

Cara Mengatasi Daun Menguning Pada Tanaman Bawang Merah dan Bawang Putih

mengatasi busuk daun pada daun bawang

Mengatasi daun menguning pada tanaman bawang atau layu fusarium bisa dilakukan dengan berbagai cara diantara :

  1. Melakukan rotasi penanaman yang berbeda dari umbi-umbian. Hal ini bertujuan untuk memutus siklus jamur dan virus penyebab kuning bawang.
  2. Pemilihan bibit yang berkualitas. Karena bibit awal bisa mengandung jamur fusarium yang berpotensi mengakibatkan penyakit moler lebih awal.
  3. Buang tanaman yang sudah terkena penyakit layu fusarium. Tanaman yang terkena layu fusarium biasanya hanya berapa batang agar tidak menular ke tanaman lain
  4. Menjaga kelembapan udara dengan selalu membersihkan rumput disekitar tanaman bawang
  5. Jika hanya ujung daun yang menguning bisa menggunakan beberapa obat fungisida yang memiliki bahan aktif azoksistrobin untuk busuk dan juga klorotalonil untuk penguat daun
  6. Jangan lupa pemberian nutrisi cadangan seperti pupuk Gromitan yang bisa anda beli di mitra kami marketplace utamatani

Percobaan Penyembuhan Layu Pada Bawang

Pada percobaan kali ini Bisatani.com mencoba untuk mencegah sekaligus pengobatan di lahan bapak tyo yang terletak di Desa Reco, Kecamatan Kertek, Wonosobo.

Bawang milik bapak tyo hanya terkena ujung daun banyak menguning, tidak terserang layu fusarium.

Pengobatan dilakukan dengan penyemprotan obat yang mengandung bahan azoksistrobin yang dicampur dengan bahan klorotalonil.

Bahan aktif azoksistrobin diharapkan mampu mengatasi busuk pada tanaman. Klorotalonil membantu mempertahankan daun bawang dari serangan berbagai virus.

Penyemprotan dilakukan 2x dalam satu minggu karena curah hujan cukup tinggi pada saat itu. Setelah dilakukan 4x penyemprotan sudah kelihatan perbedaan.

Daun yang mulai tebal karena efek klorotalonil dan pemberian nutrisi tepat. Juga busuk ujung daun bawang yang mulai hilang karena pengobatan menggunakan bahan azoksistrobin.

Mungkin itu penjelasan cara mengatasi busuk daun pada tanaman bawang. Jangan follow sosial media kita di @bisatanicom dan juga youtube bisatani.

Mengenal Hama Pada Tanaman Dan Cara Mengatasinya

0
Mengenal Hama Pada Tanaman Serta Pengendaliannya

Bisatani.com – Mempunyai tanaman yang sehat dan hasil panen yang bagus merupakan harapan dari setiap petani. Tapi ada beberapa faktor yang menyebabkan dua harapan tersebut terpupus, salah satunya serangan hama.

Ada berbagai jenis hama yang menjadi sumber masalah bagi para petani. Petani juga dapat mengalami kerugian besar karena serangan hama di pertanian dan perkebunan mereka. Oleh karena itu, petani harus bisa mengetahui jenis hama yang menyerang dan gejalanya pada tanaman.

Memang serangan hama sudah menjadi hal biasa dalam budidaya berbagai tanaman. Namun jika dapat mengendalikannya dengan cara yang tepat, petani tetap bisa mendapatkan hasil yang baik.

Jenis Hama serta Pengendaliannya

Mengenal Hama Pada Tanaman Serta PengendaliannyaHama merupakan organisme yang mengganggu dan merugikan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Organisme yang dimaksud disini adalah hewan. Hewan disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem dan menjadi sumber penyakit bagi manusia.

Dalam pertanian, hama yang dimaksud adalah hewan yang merugikan bagi petani dan perkebunan atau pertanian mereka. Berikut jenis-jenis hama yang menyerang pertanian sekaligus cara mengendalikannya :

  • Tikus

Tikus merupakan hama yang paling banyak merugikan bagi para petani. Hama ini memiliki mobilitas yang tinggi, daya adaptasi disetiap lingkungan dan perkembangbiakan yang sangat tinggi.

Hama ini biasa menyerang tanaman padi dan lebih sering bergerak di malam hari. Biji dan batang tanaman padi merupakan target utama serangan tikus. Hama tikus memakan biji-bijian padi menggunakan giginya yang tajam. Biasanya tikus membuat tempat tinggal dengan membuat lubang atau bersembunyi didalam semak-semak.

Berikut cara-cara mengendalikan hama tikus :

  1. Tutuplah lubang yang diindikasi sebagai tempat tinggal dan persembunyian tikus. Jangan lupa tangkap tikus yang bersembunyi.
  2. Melepas predator(pemangsa) murni tikus seperti burung hantu dan ular.
  3. Gunakanlah pembasmi tikus atau racun khusus untuk tikus. Ingat, aplikasikan dengan hati-hati.
  • Ulat

Ulat merupakan salah satu jenis hama yang paling sering dilihat di lingkungan sekitar. Hama menyerang daun dengan memakan daun dan batang pada tumbuhan. Ulat juga merupakan hama yang bisa cepat berkembang biak jika dibiarkan saja.

Berikut cara mengendalikan hama ulat pada tanaman :

  1. Bersihkan telur kupu-kupu yang berwarna putih  yang tersembunyi dibawah daun.
  2. Cobalah menggenangi tempat persemaian dengan air supaya ulat naik keatas sehingga mudah untuk dibasmi.
  3. Gunakanlah insektisida dengan bahan aktif abamectin, imidakloprid, metomil, emamectin benzoat, achepat, spinetoram, dan lain-lain.
  • Walang Sangit

Walang sangit memiliki ciri-ciri :

  1. Berbentuk memanjang sekitar 2 cm.
  2. Berwarna coklat kelabu.
  3. Mempunyai belalai (proboscis) yang berguna untuk menghisap cairan pada tumbuhan.
  4. Walang sangit juga memiliki pertahanan diri ketika merasa terancam, yakni dengan mengeluarkan aroma yang menyengat hidung (sangit).

Hama ini menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan dari tangkai bunga (paniculae). Bukan hanya itu, cairan buah padi yang masih muda atau tahap masak susu juga akan dihisap. Tanaman padi yang terserang ini lama-lama akan kekurangan unsur hara dan menguning (klorosis). Setelah itu perlahan-lahan tanaman padi akan melemah.

Berikut cara mengendalikan hama walang sangit pada tanaman :

  1. Lakukanlah sistem tanam yang serentak.
  2. Selalu jaga kebersihan sawah dari rumput liar.
  3. Tangkaplah walang sangit jika menemukan di lahan tanaman.
  4. Jangan basmi laba-laba, karena hewan ini merupakan predator alami walang sangit.
  5. Gunakan insektisida dengan bahan aktif fipronil, imidakloprid, klopirifos.
  • Wereng

Wereng merupakan salah satu jenis hama yang berupa serangga yang berukuran kecil dan bersayap. Ada 3 jenis warna dari wereng yaitu wereng hijau, wereng cokelat dan wereng punggung putih.

Hama ini menyerang tanaman dengan menyerap nutrisi dari daun dan batang tanaman. Bukan hanya itu, wereng juga merupakan vektor (pembawa) dari beberapa penyakit pada tumbuhan. Salah satunya penyebar virus tungro yang akan menyebabkan hasil panen besar pada tanaman.

Berikut cara untuk mengendalikan hama wereng pada tanaman :

  1. Mengatur pola penanaman dengan cara menenam secara bersamaan atau bergilir agar siklus hidup hama wereng terputus.
  2. Penggunaan predator alami seperti laba-laba Lycosa Pseudoannulata, kumbang Paederuss Fuscipes, dan Ophinea Nigrofasciata.
  3. Gunakan insektisida dengan bahan aktif Abamectin, Fipronil, Imidakloprid, Profenofos, dan lain-lain.
  • Tungau

Tungau merupakan salah satu jenis kutu kecil yang sering menyerang rumah bahkan tanaman hias dan tanaman dikebun. Hama ini menyerang dengan menyebabkan daun keriting menggulung kebagian bawah seperti sendok yang terbalik. Daun menjadi kaku dan tebal sehingga pembentukan pucuk menjadi terhambat. Jika dibiarkan lama kelamaan daun akan berubah menjadi cokelat lalu mati.

Berikut cara-cara menanggulangi serangan hama tungau:

  1. Potong pucuk tanaman yang terserang jika tidak parah. Jika tanaman terserang parah, cabut dan musnahkan dengan cara dibakar agar tidak menular ketanaman yang lain.
  2. Selalu jaga kebersihan lahan.
  3. Spray tanaman dengan pestisida berbahan aktif abamectin, piridaben dan lain-lain.
  • Kutu daun

Kutu daun merupakan jenis hama yang biasanya menyerang tanaman cabai. Jenis hama ini seperti kutu kebul atau trips ini mennyerang tanaman cabai hampir pada semua fase umur. Adapun gejala yang ditimbulkan yakni daun menjadi keriput dan kerdil. Untuk tingkat serangan yang parah akan menyebabkan tanaman layu dan mati.

Berikut cara pengendalian serangan hama kutu daun pada tanaman:

  1. Melepas atau jangan membasmi predator alami kutu daun seperti cresson.
  2. Potonglah bagian tanaman yang terserang hama kutu daun jika tidak terlalu parah. Jika serangan terlalu parah, cabut tanaman dan musnahkan dengan cara dibakar agar tidak menulari tanaman lain.
  3. Sprai tanaman dengan insektisida dengan bahan aktif Abamektin, imidakloprid, fipronil dan lain-lain.
  • Lalat Buah

Biasanya jenis lalat buah yang menyerang tanaman cabai adalah jenis lalat Bractocera dorsalis. Serangan lalat buah akan menyebabkan buah cabai mengembung dan rontok sebelum masak untuk dipanen. Cabai yang rontok ditanah apabila dibelah didalamnya terdapat larva lalat. Jika dibiarkan siklus lalat akan terus terjadi sehingga populasi lalat akan terus bertambah banyak.

Adapun cara untuk mengendalikan serangan hama lalat buah pada tanaman:

  1. Pungut dan kumpulkan buah cabai yang berjatuhan kemudian musnahkan dengan cara dibakar. Hal ini dilakukan agar siklus hidup lalat (larva-pupa-lalat) tidak terjadi.
  2. Gunakanlah perangkap lalat buah seperti atraktan yang mengandung methyl eugenol dan lem khusus untuk menjebak hama.
  3. Sprai tanaman menggunakan pestisida dengan bahan aktif metomil, fipronil, imidakloprid, dimetoat dan lain-lain.

Mengendalikan Hama Lalat Buah Pada Tanaman Cabai

0
Mengendalikan Hama Lalat Buah Pada Tanaman Cabai

Mengendalikan Hama Lalat Buah Pada Tanaman Cabai – Musim hujan, disamping membawa keuntungan bagi petani karena tanaman dapat tumbuh lebih subur tetapi membawa hal buruk bagi petani jika tanaman kurang dirawat dengan baik. Tanaman cabai sangat rentan terserang penyakit pada musim hujan seperti Antraknosa atau Busuk buah, busuk daun, busuk karena serangan lalat buah, dan lain-lain.

Salah satu hama penyerang yakni lalat buah merupakan ancaman yang sangat dikhawatirkan oleh petani. Tidak semua lalat buah yang menyerang tanaman cabai, tetapi hanya lalat buah berjenis kelamin betina saja yang membuat buah cabai busuk dan juga rontok sebelum tanaman cabai matang.

Serangan Lalat Buah pada Tanaman Cabai

Mengendalikan Hama Lalat Buah Pada Tanaman CabaiLalat buah Bactrocera dorsalis merupakan jenis hama lalat yang menyerang tanaman cabai. Jenis lalat buah betina yang sudah dewasalah yang menyerang tanaman cabai dengan menusukkan ovipositornya kedalam buah cabai yang masih muda(biasanya masih berwarna hijau) untuk menyimpan telur-telurnya.

Dalam bertelur lalat buah betina bisa menghasilkan 100 – 120 butir. Setelah 2 – 3 hari, telur yang tersimpan didalam buah cabai akan menetas dan kemudian menjadi larva(berenga). Larva yang ada didalam cabai akan merusak dan menyebabkan buah cabai membusuk dan rontok sebelum panen. Bukan hanya itu, larva yang menetas akan membuat terowongan dengan memakan daging buah cabai yang berlangsung kurang lebih 2 minggu.

Ketika larva sudah menjadi dewasa akan keluar dari buah cabai dan jatuh ketanah. Kemudian larva akan membuat terowongan didalam tanag kurang lebih sedalam 2 -5 cm. Dalam waktu sekitar 7 – 8 hari larva ini akan menjadi lalat buah dewasa. Siklus daur hidup lalat buah berkisar antara 23 – 34 hari. Dalam waktu 1 tahun lalat buah dapat menghasilkan kurang lebih 8 – 10 generasi.

Gejala Tanaman Cabai yang Terserang Hama Lalat Buah

Adapaun gejala tanaman cabai yang telah terserang hama lalat buah :

  • Buah cabai mudah rontok dan rapuh.
  • Biji buah berwarna hitam jika buah cabai dibelah.
  • Daging buah cabai membusuk.
  • Didalam buah cabai terdapat belatung (larva) dari lalat buah. Belatung ini merupakan bakal calon lalat yang telah menetas dari telur yang sudah disuntikkan oleh induk lalat.

Jika petani mengabaikan gejala tersebut, nanti ulat yang ada dalam buah cabai akan tumbuh membesar dan keluar dari buah. Setelah jatuh ketanah, lalat akan masuk ketanah untuk melakukan proses hidup selanjutnya, yakni menjadi pupa. Pupa adalah fase dimana lalat dalam tahap kepompong. Setelah fase pupa selesai, kemudian terciptalah lalat baru.

Dan jika proses ini berlangsung terus-menerus dan dibiarkan, maka populasi serangan lalat buah akan semakin bertambah banyak.

Cara Mengendalikan Lalat Buah pada Tanaman Cabai

Berikut cara-cara pengendalian serangan hama lalat buah pada tanaman cabai :

  1. Tanamlah cabai di lahan yang steril

    Usahakan selalu menanam tanaman cabai di lahan yang baru. Jangan menanam cabai di lahan bekas tanaman inang seperti gambas, timun atau pare. Tanaman ini merupakan jenis tanaman yang disukai lalat buah. Di lahan bekas tanaman ini kemungkinan besar regenerasi lalat buah telah berlangsung terus-menerus. Jangan lupa musnahkan tanaman buah yang tidak terawat yang berada disekitar lokasi lahan tanaman cabai seperti jambu air dan jambu biji.

  2. Perangkap Lalat dengan Bahan Aktif Atraktan Metyl Eugenol

    Atraktan Metyl Eugenol merupakan perangkap yang bekerja dengan cara memikat lalat buah. Sasaran dari perangkap ini adalah jenis lalat buah jantan. Lalat buah jantan akan tertarik dan masuk kedalam perangkap. Setelah masuk kedalam perangkap, lalat buah jantan akan mati dan tidak bisa membuahi lalat betina. Karena tidak dibuahi lalat betina tidak akan bertelur dan menyerang buah cabai.

    Untuk pemasangan perangkap metyl eugenol sebaiknya sejak tanaman cabai masih kecil atau tanaman masih berusia 1 bulan dari awal tanam.

  3. Lem Khusus Perangkap Lalat Buah

    Lem perangkap disini merupakan lem yang digunakan khusus memerangkap hama serangga perusak tanaman seperti kutu-kutuan dan juga lalat buah. Dalam penggunaan lem khsus ini juga tergolong mudah dan praktis. Cara pengaplikasiannya pun dioleskan pada botol bekas atau lembaran kertas dan letakan beberapa buah di lahan pertanian. Lem ini biasanya berwarna kuning dan memiliki bau memikat untuk menarik hama dan lalat buah untuk mendekat dan berakhir menempel pada perangkap lem tersebut.

  4. Pengendalin Lalat Buah Secara Teknis (Manual)

    Pengendalian secara kultur teknis atau manual dilakukan dengan cara memetik serta membuang buah cabai yang berjatuhan. Hal ini dilakukan untuk mencegah ledakan populasi lalat. Kemudian cabai yang dikumpulkan harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur yang dalam. Dengan memusnahkan cabai yang terserang hama lalat buah otomatis telur dan larva lalat buah yang ada didalam buah cabai juga musnah.

  5. Pengendalian Hama Lalat Buah dengan Insektisida Kimia (Kimiawi)

    Untuk memaksimalkan pengendalian serangan hama lalat buah sebaiknya juga dibarengi dengan pengendalian secara kimiawi agar pengendalian berhasil dengan tuntas. Tapi perlu diingat, jika ke empat pengendalian diatas dirasa sudah cukup dan hama lalat buah sudah bisa diatasi pengendalian secara kimiawi tidak perlu dilakukan lagi. Pengendalian secara kimiawi dapat menggunakan jenis pestisida dengan bahan aktif Profenofos, Metomil atau Dimetoat.

Mengenal Penyakit Layu Pada Tanaman

0
Mengenal Penyakit Layu Pada Tanaman

Mengenal Penyakit Layu Pada Tanaman – Setiap petani menginginkan tanaman di lahannya sehat dan mempunyai hasil panen yang bagus. Tetapi tak bisa dipungkiri, terkadang tanaman bisa tersrang hama dan hama yang mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu bahkan mati. Salah satu penyakit yang menyerang tanaman adalah layu tanaman.

Layu pada tanaman terkadang diartikan petani karena kekurangan air. Padahal layu pada tanaman juga disebabkan oleh faktor lain seperti bakteri dan jamur.

Layu karena kekurangan air biasanya petani tinggal melakukan perawatan tanaman dengan menambahkan air sesuai kebutuhan tanaman. Untuk layu yang disebabkan karena bakteri dan jamur harus ditangani dengan pestisida dengan bahan aktif yang tepat dan sesuai dosis.

Untuk memastikan bahwa tanaman terserang bakteri dan jamur masih bisa diamati secara kasat mata dengan melihat gejala serangan. Bisa memastikan jenis serangan merupakan hal penting yang harus dimiliki petani untuk menentukan langkah pengendalian yang tepat.

Jenis Penyebab Layu Pada Tanaman

Mengenal Penyakit Layu Pada Tanaman

  • Tanaman Kekurangan Air

Jenis layu ini yang paling mudah diatasi. Tanda-tanda layu karena kekurangan air berawal dari tanaman yang kelihatan segar. Kemudian pada waktu siang atau sore hari tanaman menjadi layu.

  • Layu Karena Bakteri (Pseudomonas solanacearum)

Jenis layu bakteri adalah jenis layu yang disebabkan oleh bakteri. Jenis bakteri yang membuat layu yakni bakteri Pseudomonas solanacearum. Layu bakteri juga biasa disebut penyakit lender pada tanaman. Adapun karakteristik jenis bakteri in :

    1. Sel bakteri Pseudomonas solanacearum  berbentuk batang dan bergerak menggunakan satu flagel.
    2. Bakteri ini mampu bertahan dalam tanah dan dengan cepat berkembang biak pada kondisi tanah yang lembab.
    3. Bakteri ini mengeinfeksi akar tanaman yang terluka karena proses pemindahan bibit, luka karena gigitan dari serangga dan nematoda. Bukan hanya itu, bakteri ini juga menginfeksi tanaman melalui daun yang terluka.
    4. Jenis tanaman yang diserang oleh bakteri seperti tomat, pisang, cabai, kentang, terung dan jenis tanaman lain termasuk keluarga Solanaceae.
    5. Patogen ini menyerang ke dalam jaringan pengangkut air sehingga mengganggu sirkulasi transportasi air pada tanaman inangnya. Kemudian tanaman menjadi layu, kerdil dan menguning. Dan pada akhirnya dalam beberapa hari tanaman akan mati.
    6. Enzim dan toksin yang dihasilkan oleh bakteri ini dapat melarutkan dinding sel akar dan perubahan warna pada jaringan pengangkut. Hal ini dapat dilihat dengan memotong melintang batang tanaman. Pada tanaman tomat dan tembakau gejala ditandai dengan berubahnya warna pada bagian berkas pembuluh yang menjadi warna cokelat. Lama kelamaan warna ini akan meluas sampai ketulang daun bahkan sampai bagian empulur. Lama kelamaan akar tanaman yang sakit ini akan menjadi warna cokelat.

Pada umumnya, gejala pertama kali terlihat pada tanaman yang berumur kurang lebih 6 minggu. Gejala yang terlihat adalah daun yang menjadi layu, diawali dari tunas atau daun termuda. Biasanya dimulai dari sebagian daun saja seperti tulang daun yang menjadi kuning. Lama kelamaan akan menyebar dan semua daun akan menguning dan kering. Akhirnya semua daun menjadi layu dan tanaman akan mati.

  • Layu Karena Jamur atau Fungi

Jenis layu ini karena tanaman terserang jamur Fusarium oxysporum. Adapun karakteristik jamur ini sebagai berikut :

    1. Jamur Fusarium oxysporum berkembang biak dengan menghasilkan spora. Jamur ini memiliki dua macam spora, yaitu mikrokonidia dan makrokonidia. Mikrokonidi ini memiliki  sel satu, tidak mempunyai warna, berbentuk lonjong atau bulat seperti telur. Makrokonidia memiliki bentuk seperti bulan sabit, tidak memiliki warna, bersekat dua atau tiga. Biasanya dibagian bawah pangkal batang akan terlihat miselium jamur yang berwarna putih.
    2. Jenis tanaman yang diserang jamur ini seperti tanaman cabai, ketimun, tomat dan lain-lain.
    3. Jamur patogen ini biasa menyerang pada bagian batang dan akar tanaman. Mengakibatkan rusak dan terhambatnya pembuluh kayu. Dampak dari hal ini akan mengakibatkan proses pengangkutan air terganggu sehingga tanaman akan mengalami kelayuan.
    4. Enzim dan toksin yang dihasilkan oleh jamur ini dapat menganggu proses fermeabilitas mebran sel dan merusak dinding sel pembuluh kayu pada tanaman. Akibatnya, fungsi pembuluh kayu menjadi terganggu.
    5. Jamur ini merupakan jenis patogen tanah dan mampu bertahan di dalam tanah selama 10 tahun meskipun tanpa memiliki tanaman inang. Tanah yang sudah terinfeksi sangat sulit disterilkan dari jamur ini.
    6. Jamur ini masuk kedalam jaringan batang atau akar melalui luka yang disebakan pada saat pemindahan bibit, serangan serangga atau nematoda. Selain itu jamur juga dapat masuk melalui ujung akar. Jamur ini berkembang sebentar didalam jaringan parenkim, lalu menetap dan berkembang di dalam berkas pembuluh.
    7. Percikan air hujan, tanah terinfeksi yang terbawa oleh air irigasi dan benih terinfeksi juga bisa menjadi media penyebaran jamur.

 

Penyakit Akar Gada dan Pengendaliannya pada Tanaman Kubis

0
Penyakit akar gada dan pencegahannya pada tanaman kubis

Penyakit Akar Gada dan Pengendaliannya pada Tanaman Kubis – Di Indonesia banyak bermacam-macam komoditas hortikultura. Dari berbagai macam jenis komoditas ini, hanya beberapa saja yang memiliki nilai ekonomi tinggi, salah satunya kubis.

Meski kebanyakan tanaman kubis ditanam di daerah dataran tinggi, namun saat ini juga sudah berkembang di daerah dataran menengah dan rendah. Ada dua jenis kubis yang biasa ditanam oleh para petani, yakni kubis daun dan bunga kol atau brokoli.

Akar Gada (Club Root) merupakan salah satu penyakit yang paling sering menyerang tanaman kubis. Akar gada atau akar bengkak adalah salah satu jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur Plasmadiophora brassicae. Biasanya serangan patogen ini menyerang pada musim hujan.

Dampak penyakit akar gada bisa mencapai 50 % hingga diatas 80 % atau bahkan bisa sampai gagal panen total. Penyakit ini tergolong sulit dikendalikan karena yang sifatnya mampu bertahan bertahun-tahun di dalam tanah.

Akar gada akan menyebabkan pertumbuhan tanaman kubis menjadi terhambat dan menjadi kerdil, tidak dapat membentuk krop dan akan mati.

Tingkat serangan penyakit akar gada yang parah terjadi di daerah endemik, yakni daerah yang menjadi sentra penanaman kubis-kubisan dalam waktu yang lama. Penyakit ini dilaporkan hampir terdapat di sentra penanaman kubis diseluruh Indonesia, seperti Sumatra Utara, Jawa barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan dan Irian Jaya.

Faktor Penyebab Penyakit Akar Gada

Penyakit akar gada dan pencegahannya pada tanaman kubisPlasmodiopora brassicae merupakan cendawan tingkat rendah dari kelas Plasmodiophoramycetes, cendawan atau patogen inilah yang menyebabkan penyakit akar gada pada tanaman kubis-kubisan.

Berawal dari infeksi masuknya spora melalui bulu-bulu akar yang kemudian menginfeksi jaringan akar yang menjadi luka. Luka tersebut akan membentuk benjolan seperti gada karena bentuk akar yang menjadi bengkak.

Penyebaran dan perkembangan patogen ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan, yaitu suhu, intensitas cahaya, kelembaban tanah dan pH tanah.

    • Kelembaban tanah yang tinggi sangat mendukung spora dalam menginfeksi inangnya. Kondisi tanah yang asam serta sisa-sisa spora yang terdapat didalam tanah. Hal ini disebabkan karena spora dari patogen ini mampu bertahan selama lebih dari 10 tahun didalam tanah.
    • Suhu 20-25C merupakan suhu yang sangat cocok untuk perkembangan spora dan menginfeksi tanaman. Apabila hujan, serangan patogen ini juga akan meningkat karena tanah menjadi basah. pH tanah juga mempengaruhi perkembangan patogen ini. Patogen ini sangat menyukai pH tanah yang rendah (asam) daripada pH tanah yang tinggi (basa).
    • Tenaman kubis lebih rentan terinfeksi di lingkungan denga intensitas cahaya tinggi daripada cahaya rendah.
    • Lahan pertanian yang telah terinfeksi penyakit akar gada sudah lama.

Mekanisme serta Gejala Serangan Akar Gada

Penyakit akar gada merupakan momok permasalah bagi petani tanaman kubis karena dapat menyebabkan gagal panen. Serangan patogen ini akan menyebabkan akar pada tanaman kubis membengkak seperti umbi atau kentang. Patogen ini menyerang sistem perakaran pada tanaman kubis sehingga akar akan menyatu seperti gada. Pembesaran ini kemudian akan menghambat jalur transportasi air dan juga nutrisi pada pangkal batang tanaman.

Ketika tanaman terserang patogen Plasmodiopora brassicae (penyebab akar gada), tanaman tampak layu seperti kekurangan air dan daun terlihat berwarna hijau kebiruan atau ungu.

Gejala seperti ini akan tampak lebih jelas di siang hari atau cuaca yang panas, tetapi ketika pagi atau sore hingga malam hari tanaman kubis terlihat segar kembali. Kemudia tanaman yang terserang akan menjadi kerdil karena nutris dan air yang dibutuhkan tanaman terhambat. Jika ini terjadi, lama kelamaan tanaman kubis tidak akan membentuk krop dan akhirnya mati. Jika dicabut, akar tanaman akan terlihat membengkak seperti benjolan atau bintil-bintil.

Patogen ini dapat menginfeksi akar kubis sejak tanaman baru ditanam hingga umur 49 hari. Infeksi patogen ini dengan cepat menyebar pada kondisi tanah dengan pH rendah (asam).

Media Penyebaran Jamur Plasmodiopora Brassicae (Akar Gada)

  1. Media tanah atau pupuk kandang (soil borne).
  2. Aliran air (water borne).
  3. Bibit (germ borne), jika asal bibit yang ditanam berasal dari daerah endemik. Maka daerah bukan endemik yang ditanami berpotensi menjadi daerah endemik baru.
  4. Media alat (mechanic borne), tanah daerah endemik yang menempel pada alat atau sentuhan tangan yang berinteraksi dengan patogen.

Cara Mencegah dan Mengendalikan Penyakit Akar Gada

Berikut beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan (meminimalisir) serangan penyakit akar gada pada tanaman kubis :

  1. Selalu gunakan bibit unggulan yang sehat dan tahan terhadap serangan patogen.
  2. Untuk mengurangi pH asam pada tanah selalu lakukan pengapuran dengan dolomit atau kapur pertanian.
  3. Rendam benih kubis dengan ekstrak bawang putih atau fungisida yang dianjurkan selama kurang lebih 2 jam.
  4. Gunakan tanah dan pupuk kandang yang steril untuk melakukan persemaian.
  5. Musnahkan tanaman yang telah terinfeksi.
  6. Melakukan rotasi tanaman agar memutus siklus patogen, misal jangan selalu menanam tanaman kubis terus menerus, bisa bergantian dengan menanam tanaman kubis.
  7. Aturlah drainase lahan agar tidak terjadi genangan ketika musim hujan. Genangan air akan mempercepat penyebaran patogen.
  8. Selalu jaga kebersihan kebun.
  9. Gunakanlah fungisida pada tanaman kubis dengan bahan aktif flusulfamide, karbendazim, klorotalonil, dazomet atau azokistrobin +difenokonazol, tapi gunakanlah sesuai dosis anjuran.

Mempercepat Pertumbuhan Tanaman Menggunakan Asam Giberelat GA3

0
cara meningkatkan pertumbuhan tanaman

Berkebun menjadi salah satu kegiatan untuk menghabiskan waktu dirumah. Apalagi di era pandemi seperti saat ini. Banyak orang ingin menanam sayuran baik di halaman rumah maupun di lahan yang besar.

Karena hal itu banyak petani atau masyarakat yang mengalami masalah dalam berkebunnya. Salah satu masalah yang timbul adalah pertumbuhan tanaman yang lambat.

Mempercepat pertumbuhan tanaman banyak dicari oleh sebagian petani. Padahal faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman ada banyak.

Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tanaman

Ada berbagai faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, bukan hanya faktor pupuk yang digunakan. Berbagai faktor tersebut diantaranya adalah :

1. Faktor Tanah

Mempercepat pertumbuhan tanaman harus memperhatikan tanah yang digunakan. Apakah tanah tersebut memiliki keasaman yang terlalu tinggi. Atau tanah tersebut kekurangan nutrisi yang membuat tanaman kurang subur.

Jika tanah kekurangan nutrisi biasanya menjadi lengket. Apalagi jika memiliki bebatuan yang terkandung di dalamnya membuat akar sulit untuk tumbuh dan mencari nutrisi di bawahnya.

2. Lokasi Penanaman

Lokasi penanaman sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Letak tanaman yang baik adalah ketika tanaman tersebut dapat menerima cahaya matahari pertama kali saat pagi hari. Biasanya lahan yang menghadap ke matahari secara langsung atau ke timur.

Jika lokasi tidak menghadap ke timur setidaknya tidak ada bangunan tinggi atau pohon tinggi yang menghalangi cahaya. Usahakan tanaman bisa terkena sinar matahari pagi secara langsung.

3. Pemupukan Tanaman

Mempercepat pertumbuhan tanaman juga harus melihat pupuk yang digunakan. Pengaplikasian pupuk yang tepat menjadi faktor utama pertumbuhan dari sayuran.

Misalkan pada saat musim penghujan, diusahakan pupuk yang digunakan jangan terlalu banyak mengandung unsur Nitrogen. Karena hujan sudah membawa kandungan Nitrogen.

4. Faktor Cuaca

Cuaca juga menjadi faktor utama pertumbuhan tanaman. Tergantung dari jenis tanaman yang ditanam. Misalkan untuk kentang sangat rawan terganggu jika saat musim penghujan. Daun kentang akan mudah busuk jika tidak diperkuat fungisida di dalamnya.

5. Benih/Bibit yang Digunakan

Pilihlah benih atau bibit yang memiliki kualitas unggul. Benih yang kuat terhadap kondisi cuaca yang buruk dan juga terhindar dari berbagai penyakit. Sesuaikan juga terhadap kondisi ketinggian tanah, biasanya benih memiliki spesifikasi ketinggian masing-masing.

Diera modern dan penuh teknologi seperti sekarang sudah banyak benih dengan penelitian yang tinggi. Benih yang tahan terhadap serangan berbagai hama dan penyakit. Apalagi biji yang kuat di tanam dalam kondisi ekstrim.

Masih banyak faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan dari tanaman/sayuran. Setidaknya 5 faktor di atas merupakan faktor penting yang mempercepat pertumbuhan tanaman.

Cara Mempercepat Pertumbuhan Tanaman

Cara mempercepat pertumbuhan tanaman baik untuk sayuran kubis, cabai, bawang, kacang, hingga bunga ada berbagai hal. Salah satu jalan untuk meningkatkan pertumbuhan adalah dengan menstimulus tanaman.

Sudah banyak teknologi terutama dari negara yang memiliki pertanian modern menghasilkan berbagai hormon. Hormon ini dapat mempercepat pertumbuhan tanaman.

Hormon yang bisa membantu pertumbuhan tanaman diantaranya adalah Asam Giberelat (GA3), Auksin, Sitokinin dan lainnya.

Asam Giberelat atau biasa disebut dengan Gibberelic Acid (GA3) merupakan salah satu obat yang biasa digunakan oleh petani untuk mempercepat pertumbuhan. Obat ini akan mempercepat hingga 30 persen pertumbuhan dari tanaman.

Giberelat ini mampu merangsang pertumbuhan tunas, bunga dan pembentukan buah. Penyemprotan GA3 mampu mengurangi pembentukan biji pada buah, sehingga daging buahnya lebih banyak.

Auksin juga merupakan hormon yang ada pada tumbuhan. Biasanya kandungan ini berfungsi untuk memperpanjang sel.

Hormon Auksin banyak terkandung di ujung batang, akar dan bunga. Kandungan ini mampu membantu merangsang pembungaan dan perkecambahan.

Pada percobaan kali ini Tim Bisatani.com mencoba memberikan nutrisi hormon asam giberelat dan auksin pada tanaman kubis. Lahan percobaan kali ini berada di Kapencar, Wonosobo milik bapak Tuyarno.

Tanaman kubis milik bapak Tuyarno sebagian mengalami perlambatan pertumbuhan. Untuk itu kami beri uji coba obat dengan merek SAGA dan juga Gromitan yang memiliki unsur hormon GA3 dan Auksin.

Penyemprotan dilakukan 2x dengan jarak 1 minggu. Dan setelah minggu ke 3 bisa dilihat hasilnya merata dari tanaman yang tidak disemprot. Pertumbuhannya bisa menyeimbangi tanaman lainnya.

Jika diamati lebih lanjut berbagai hormon ini dapat mempercepat penyerapan nutrisi dalam tanah. Sehingga sebisa mungkin pupuk atau nutrisi dalam tanah juga tercukupi.

Baca Juga : Jenis Pestisida dan Bahaya Penggunaannya Lengkap

Itulah beberapa cara mempercepat pertumbuhan tanaman sayuran dan bunga. Jangan lupa selalu update berita dan info pertanian modern di Bisatani.com.

 

 

Pestisida, Jenis dan Bahaya Penggunaannya Lengkap

0
Pestisida, Fungsi dan Bahaya Penggunaannya

Pestisida, jenis dan bahaya penggunaannya – PESTISIDA merupakan suatu bahan yang digunakan untuk mengendalikan, mengusir atau membasmi organisme pengganggu. Pestisida berasal dari kata pest dan cide. Pest yang berarti hama sedangkan cide yang baerarti pembasmi. Adapun sasaran dari penggunaan pestisida seperti serangga, burung, gulma, mamalia, ikan atau mikroba yang dianggap mengganggu.

Pestisida merupakan jenis bahan beracun yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan juga keanekaragaman hayati. Menyebabkan resujensi, resistensi dan menimbukan hama jenis baru, serta gangguan kesehatan pada manusia dan makhluk hidup lainnya.

Pestisida harus benar-benar dikelola dengan penuh kehati-hatian. Umumnya pestisida digunakan sehari-hari dengan cara dicampur dengan minyak, air dan tepung untuk mempermudah dalam penyebaran dan penyemprotan.

Golongan Pestisida Berdasarkan Organisme Sasaran

Berikut golongan pestisida berdasarkan organisme sasaran :

  • Herbisida yang sasarannya gulma.
  • Arbosida yang sasarannya semak belukar.
  • Algisida atau Algasida yang sasarannya alga.
  • Avisida yang sasarannya burung.
  • Bakterisida yang sasarannya bakteri.
  • Fungisida yang sasarannya fungi.
  • Insektisida yang sasarannya serangga.
  • Mitisida atau Akarisida yang sasarannya tungau.
  • Moluskisida yang sasarannya siput.
  • Nematisida yang sasarannya nematoda.
  • Rodentisida yang sasarannya pengerat.
  • Virusida yang sasarannya virus.
  • Larvisida yang sasarannya Ulat atau larva.
  • Silvisida yang sasarannya pohon hutan.
  • Ovisida yang sasarannya telur.
  • Pisida yang sasarannya ikan mujahir.
  • Termitisida yang sasarannya rayap.
  • Predasida yang sasarannya Predator atau hewan vertebrata.

Jenis Pestisida Berdasarkan Cara Kerjanya

Setiap pestisida memiliki cara yang berbeda-beda untuk mengendalikan sasarannya. Ada dua mekanisme pestisida dalam mengendalikan hama sasaran yaitu dengan meracuni hama sasaran secara langsung dan meracuni dulu tanaman. Kemudian hama yang memakan tanaman akan mati teracuni.

Pestisida, Fungsi dan Bahaya PenggunaannyaBerikut jenis pestisida yang biasa digunakan petani berdasarkan cara kerja :

  • Pestisida Jenis Racun Sistemik

Pestisida jenis racun sistemik bekerja dengan tidak langsung membunuh organisme penyerang tanaman. Racun pestisida akan menempel pada tabaman setelah disemprotkan. Racun ini akan diserap tanaman melalui daun dan akar. Kemudian hama yang memakan bagian tanaman akan teracuni. Contoh bahan aktif pestisida jenis racun sistemik:

    1. Insektisida sistemik : insektisida dengan bahan aktif abamectin, imidakloprid, dimehipo, asefat, fipronil, dll.
    2. Fungisida sistemik : fungisida dengan bahan aktif difenokonazol, karbendazim, dll.
    3. Herbisida sistemik : Herbisida dengan bahan akti glifosat, metal, metsulfuron, dll.
  • Pestisida Jenis Racun Kontak

Pestisida jenis ini bekerja dengan baik apabila terkena atau kontak langsung dengan organisme penyerang tanaman. Racun yang terkandung dalam pestisida akan masuk kedalam jaringan tubuh organisme target. Kemudian target akan mengalami kematian karena mengalami gangguan fungsi fisiologis.

Insektisida, fungisida dan herbisida adalah jenis umum dari pestisida racun kontak. Untuk penggunaan insektisida jenis racun kontak sangat efektif untuk mengendalikan hama yang menetap dan tidak bersembunyi. Contoh hama seperti hama penghisap bunga lada (Diconocoris hewitl), penghisap buah lada (Dasynus piperis), ulat, kutu daun dan semut.

Pestisida racun kontak bekerja kurang baik terhadap serangga-serangga yang punya mobilitas tinggi dan suka bersembunyi. Contoh hama yang punya mobilitas tinggi seperti kutu kebul, lalat, belalang, atau hama yang berada dalam jaringan tanaman. Berikut bahan aktif pestisida jenis racun kontak :

    1. Insektisida racun kontak : insektisida dengan bahan aktif klorpirifos, bpmc, golongan piretroid (sipermetrin, deltametrin), dan lain-lain.
    2. Fungisida racun kontak : fungisida dengan bahan aktif mankozeb, ziram, zineb, dll.
    3. Herbisida racun kontak : herbisida dengan bahan aktif parakuat.
  • Pestisida Jenis Racun Lambung

Pestisida dengan jenis racun lambung baru bekerja jika salah satu bagian tanaman ayang telah disemprot pestisida dimakan oleh hama. Di dalam lambung racun ini akan bereaksi.

  • Pestisida Jenis Racun Pernafasan

Pestisida racun pernafasan ini dapat membunuh jika terhisap melalui organ pernafasan. Jenis racun pestisida ini sering digunakan untuk mengendalikan hama dalam rumah maupun gudang. Pestisida ini sering disebut racun fumigan.

Bahaya Pestisida Bagi Kesehatan

Pestisida merupakan zat beracun yang berbahaya bagi kesehatan dan bisa menyebabkan efek akut serta jangka panjang bagi pengguna yang terpapar. Paparan pestisida akan menyebabkan dampak bervariasi mulai dari iritasi mata, kulit dan juga pernafasan. Adapun dampak yang lebih mematikan seperti mempengaruhi sistem syaraf, sistem hormon reproduksi, dan menyebabkan penyakit kanker.

Bukan hanya itu, pestisida ini juga bisa menyebabkan keracunan baik itu ringan maupun berat. Belum juga ada yang melakukan bunuh diri dengan menggunakan pestisida.

Dampak Pestisida Bagi Lingkungan

Penggunaan pestisida secara terus menerus akan meningkatkan permasalahan pada lingkungan. Lebih dari 95% herbisida dan 90% insektisida yang diaplikasikan dengan cara disemprot menuju tempat yang bukan target. Pestisida yang tersuspensi di udara terbawa oleh angin kewilayah lain, sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran. Bukan hanya itu, pestisida juga merupakan masalah utama dalam polusi air. Beberapa pestisida merupakan polutan organik persisten yang mengkontaminasi tanah.

 

Mengenal Insektisida Dengan Bahan Aktif Imidakloprid

0
Mengenal insektisidsa dengan bahan aktif imidakloprid

Pertumbuhan pertanian akhir akhir memang terbilang meningkat. Hal itu juga berimbas pada meningkatnya penggunaan pestisida. Sekarang ini ada banyak sekali macam dari pestisida dari ratusan bahkan hingga ribuan.

Berbeda dengan zaman dahulu yang mana para petani mengendalikan hama dengan cara terpadu. Dari menggunakan cara mekanis sampai menanggulangi hama dengan cara biologis. Sekarang petani lebih memilih untuk menggunakan pestisida karena dinilai lebih efektif.

Dengan seringnya penggunaan pestisida juga harus di imbangi dengan pengetahuan tentang bahan kimia ini. berikut adalah beberapa aspek yang harus di ketahui dalam mengunakan bahan kimia untuk mengatasi hama :

  1. Tingkat serangan hama yang berbahaya dan seporadis.
  2. Ada atau tidaknya predator alami
  3. Kesehatan bagi orang yang menggunakannya.

Mengenal insektisidsa dengan bahan aktif imidakloprid

Imidakoropid adalah salah satu bahan kimia yang biasanya terkandung dalam insektisida. Imidakloropid pertama kali diperkenalkan ke publik pada tahun 1990 yang lalu.

Pada saat ini bahan aktif imidakloprid sudah sangat familiar dan bukan merupakan hal yang asing lagi. Hal itu disebabkan karena sudah banyak digunakan oleh para petani.

Cara Kerja Imidakloprid

Imidakloprid merupakan insektisida racun kontak dan lambung  yang berbentuk cairan atau tepung. Insektisida yang masuk kelompok neonikotinoid ini mempunyai sifat yang mudah larut dalam air.

Imidakloprid ini bekerja secara sistemik dan dapat bekerja dengan langsung menembus jaringan akar dan daun. Insektisida akan langsung masuk kedalam tubuh hama atau sasarannya. Hal tersebut akan mengakibatkan hama atau seranggga mati setelah terkena semprotan cairan ini.

Bahan aktif ini sangat tepat untuk menanggulangi kutu, wereng dan lalat buah.

Manfaat dan fungsi bahan akatif Imidakloprid

Ada berbagai jenis tanaman yang bisa diatasi dengan menggunakan insektisida ini. Berikut ini adalah beberapa contoh tanaman yang bisa diaplikasikan dengan imidakloprid :

  1. Cabai : Untuk mengatasi hama kutu daun (Myzus persicae), hama thrips (Thrips sp), dan lalat buah (Daccus ferrugineus).
  2. Jeruk : Dapat digunakan untuk mengatasi hama pengorok daun (phyllocmistis citrella), kutu daun aphid (Toxoptera citricida), kutu loncat (Diaporina citri).
  3. Kentang : Untuk membasmi hama pengorok daun (Liriomyza huidobensis), kutu daun dan hama thrips.
  4. Padi sawah : untuk menangani hama wereng coklat (Nilaparvata lugens), pengerek batang (Tryporiza incertulas), ganjur (Orseolia oryzae), lalat daun (Hydrellia sp).
  5. Lada : Untuk membasmi hama Penghisap buah (Dasynus piperis).

Dalam pengaplikasiannya gunakan air yang tidak mengandung lumpur ataupun juga kotoran lainnya. Waktu penyemprotan diusahakan dilakukan pagi hari. Lakukan penyemprotan saat cuaca cerah dan tidak terindikasi akan turun hujan. Serta jangan melebihi dosis yang sudah dianjurkan.

Macam merk obat dengan bahan aktif Imidakloprid

Saat ini akan mudah sekali kita jumpai berbagai merk obat dengan bahan aktif Imidakloprid. Banyak sekali produsen obat berlomba-lomba untuk membuat obat dengan bahan aktif ini. Kita bisa mendapatkannya di toko obat didekat rumah kita. Berikut adalah beberapa merk obat dan dosisnya yang bisa digunakan sebagai acuan jika ingin membelinya :

  • Winder 100 EC
  • Avidor 25 WP
  • Alena 200 SL
  • Centador 10 WP
  • Imidor 50 SL
  • Counter 50/1,8 SP
  • Samber 50 SL
  • Kachi 175 SC dan lain sebagainya.

Kelebihan bahan aktif Imidakloprid

Dibawah ini adalah beberapa kelebihan dari bahan aktif imidakloprid :

  • Mudah diserap oleh tanaman sehingga tidak mudah luntur oleh air hujan.
  • Memiliki cara kerja yang berbeda dengan golongan piretroid, organofosfat dan karbamat.
  • Dengan sifat long lasting efek yang berarti dapat bekerja walaupun penyemprotan sudah beberapa hari.
  • Dapat melindungi tunas dari gangguan hama.
  • Mudah diserap oleh akar dan mudah disebarkan ke seluruh jaringan tanaman.
  • Mudah merata keseluruh permukaan tanaman sehingga penyemprotan menjadi lebih efektif
  • Penggunaan dapat menggunakan dosis yang sedikit.

Terlepas dari beberapa keuntungan diatas, penggunaan obat ini harus digunakan secara bijak. Karena termasuk obat dengan bahan kimia pengunaannya harus dengan penuh kehati-hatian. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak menyebabkan pencemaran lingkungan dan hal buruk lainnya.

Pestisdia ini termasuk ke dalam obat yang berbahaya. Obat ini dapat mengakibatkan keracunan apabila tertelan, terhirup atau mengenai kulit. Dapat menyebabkan iritasi mata, kulit dan juga dapat mengganggu sistem pernafasan.

Petunjuk keamanan dalam menggunakan imidakloprid

  1. Hindari untuk makan, minum ataupun merokok ketika mengunakan obat ini.
  2. Gunakan perlengkapan yang lengkap seperti masker, sarung tangan, penutup kepala, baju dan celana panjang serta menggunakan sepatu.
  3. Cucilah alat yang telah digunakan dalam penyemprotan menggunakan obat ini.
  4. Jangan sampai kabut semprotan terhirup ataupun mengenai mata.
  5. Jangan sampai mencemari lingkungan air.
  6. Jauhkan dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

Petunjuk pertolongan apabila terjadi keracunan

  • Segera bilas dengan air bersih apabila obat ini mengenai kulit.
  • Bilas dengan air bersih yang mengalir apabila obat ini mengenai mata.
  • Jika tidak sengaja obat ini tertelan, segera lakukan pemuntahan bisa dengan cara memasukkan jari kedalam tenggorokan. Usahakan pemuntahan dilakukan sampai muntahan berwarna bening. Segera hubungi dokter agar diberikan penanganan lebih lanjut.

 

 

 

 

 

Insektisida Translaminar Berbahan Aktif Metomil

0
Insektisida translaminar berbahan aktif metomil

Insektisida translaminar berbahan aktif metomil – Insektisida merupakan salah satu jenis pestisida yang digunkan untuk mengendalikan maupun membunuh hama mengganggu. Target hama biasanya yang sejenis ulat, kutu-kutuan, wereng, lalat dll.

Seorang petani harus bisa memahami hama penyerang maupun gejala yang disebabkan oleh hama pada tanaman. Jangan sampai ketika memilih obat tidak sesuai dengan target hama yang menyerang tanaman.

Insektisida translaminar adalah insektisida yang mempunyai kemampuan untuk melakukan penetrasi (terserap) kedalam kutikula daun hingga kedalam jaringan daun dibawahnya. Yang terkadang larva dan hama golongan penghisap berada. Dengan begitu, meskipun hanya bagian atas tanaman saja yang terkena penyemprotan bagian bawah daun juga masih terlindungi.

Insektisida dengan bahan aktif Metomil merupakan salah satu insektisida dengan kemampuan translaminar. METOMIL merupakan salah satu jenis senyawa pestisida N-metilkarbamat dari golongan karbamat yang bekerja dengan cara menghambat AChE (acetylcholinesterase), yang menyebabkan kerusakan pada sistem syaraf pusat yang dimiliki hama.

AChe merupakan enzim yang mengakhiri aksi rangsang neurotransmiter asetilkolin pada sinapsis saraf. Insektisida golongan karbamat relatif lebih mudah terurai di lingkungan dan terakumulasi oleh jaringan lemak milik hewan.

Metomil diperkenalkan pada tahun 1966 dan tergolong sangat beracun bagi manusia, ternak, hewan peliharaan dan juga satwa liar. Metomil memiliki daya racun oral yang akut pada saat diuji pada tikus sebesar 17,5 mg/kg dan daya racun dermal pada pengujian hewan kelinci sebesar 5000 mg/kg.

Insektisida dengan bahan aktif metomil merupakan jenis racun kontak dan lembung berspektrum luas yang ampuh membunuh berbagai macam ulat dan serangga. Bukan hanya itu, karena murapakan jenis insektisida translaminar mampu menembus jaringan daun dan membunuh hama yang bersembunyi dibalik daun.

Fungsi serta Manfaat Insektisida berbahan aktif Metomil

Insektisida berbahan aktif metomil merupakan insektisida sistemik racun kontak dan lambung berspekrtum luas yang mampu membunuh hama dengan cepat.

Insketisida ini dapat digunakan untuk mengendalikan hama pada berbagai jenis tanaman seperti bawang merah, cabai, kacang panjang, kedelai, kacang hijau, kubis, tomat, kakao, kelapa sawit, tembakau, jeruk dan lain sebagainya.

Insektisida translaminar berbahan aktif metomilBukan hanya itu, insketisida dengan bahan aktif metomil juga berfungsi sebagai ovisida, sehingga lebih tuntans dalam memberantas hama ulat sampai ketelur-telurnya. Ovisida merupakan jenis pestisida yang menghancurkan/perusak telur.

Manfaat insektisida dengan bahan aktif metomil pada berbagai jenis tanaman :

  1. Bawang merah untuk mengendalikan hama ulat grayak (Spodoptera exigua).
  2. Kacang hijau untuk mengendalikan hama lalat bibit (Agromyza sp), Ulat grayak (Spodoptera sp), Perusak daun (Plusia sp), Trips sp, Penghisap daun (Empoasca sp).
  3. Kacang tanah untuk mengendalikan hama penghisap daun (Empoasca sp).
  4. Kakao untuk mengendalikan hama penghisap daun (Helopeltis antonii).
  5. Kacang kedelai untuk mengendalikan hama Ulat grayak (Spodoptera litura), Penggerek polong (Etiella zinckenella).
  6. Kubis untuk mengendalikan hama perusak daun (Plutella xylostella), ulat krop (Crocidolomia binotalis).
  7. Kapas untuk mengendalikan hama penggerek pucuk (Heliothis sp), penggerek buah (Earias sp).
  8. Tebu untuk mengendalikan hama penggerek batang (Phragmatocia castanae).
  9. Teh untuk mengendalikan hama penghisap daun (Helopeltis sp), ulat jengkal (Hyposidra sp).
  10. Tembakau untuk mengendalikan hama penggerek pucuk (Heliothis sp), ulat grayak (Spodoptera litura).
  11. Tomat untuk mengendalikan hama penggerek buah (Heliothis sp).

Keunggulan Insektisida dengan Bahan Aktif Metomil

Insektisida translaminar berbahan aktif metomilMetomil merupakan salah satu jenis bahan kimia yang digunakan sebagai bahan aktif insektisida. Insektisida ini memiliki beberapa keunggulan daripada iensektisida yang menggunakan bahan aktif lain:

  1. Metomil merupakan insektisida  yang bekerja sebagai racun kontak yang mempunyai sifat translaminar, yaitu dapat membunuh hama secara cepat. Bukan hanya itu, insektisida ini dapat menembus jaringan daun dan membunuh hama yang bersembunyi dibalik daun meskipun tidak terpapar cairan insektisida.
  2. Insektisida ini bersifat ovisida, yaitu mampu membasmi hingga sampai ke telur-telurnya.
  3. Efek racun yang telah di sepray pada tanaman tidak akan mudah hilang meskipun terpapar sinar matahari dan pada suhu diatas 140 derajat selsius.
  4. Insektisida ini berspektrum luas yang artinya dapat mengendalikan serta membunuh semua jenis hama ulat dan serangga.
  5. Insektisida dengan bahan aktif metomil tidak akan menjadi racun (fitotoksik) atau berbahaya untuk tanaman setelah diserap.

Dosis Penggunaan Insektisida dengan Bahan Aktif Metomil

Insektisida dengan bahan aktif metomil masih efektif meskipun digunakan dengan konsentrasi rendah. Metomil bisa digunakan dengan dosis 1,5 – 2 gram per liter air atau 30 gram per tangki sepray dengan kapasitas 15 liter.

Peringatan dan Petunjuk Penggunaan

  • Insektisida ini bisa menyebabkan iritasi pada hidung, mata, tenggorokan serta kulit.
  • Metomil berbahaya bagi hewan ternak, peliharaan, ikan dan juga hewan liar.
  • Jauhkan dari jangkauan anak-anak dan simpan ditempat yang rapat.
  • Jangan pernah makan, minum serta merokok pada saat melakukan penyemprotan.
  • Selalu gunakan masker, sarung tangan, topi serta pakaian dengan lengan panjang dan celana panjang pada saat melakukan penyemprotan.
  • Selalu cuci tangan dengan air dan sabun setelah melakukan penyemprotan dan cucilah baju yang digunakan pada saat menyemprot dengan air dan sabun.