Home Blog Page 6

Fentoat : Bahan Aktif Insektisida Dengan Bau Yang Menyengat

0
Fentoat : Bahan Aktif Insektisida Dengan Bau Yang Menyengat

Bisatani.com, Fentoat - Suatu pertanian dikatakan sukses apabila hasil panen yang didapatkan melimpah serta harga jual produknya tinggi. Hal tersebut akan diperoleh apabila telah menerapkan sistem pertanian yang tepat. Tentunya, untuk mencapai itu semua ada berbagai hal dasar yang perlu diperhatikan.

Langkah awal yang mesti dilakukan seperti pengolahan lahan yang sesuai dengan jenis tanaman. Pemilihan bibit atau benih yang berkualitas serta upaya pengendalian hama dan penyakit yang mengganggu.

Dalam hal pengendalian hama kita bisa menggunakan insektisida yang mana terbilang cepat dan efektif. Penggunaan insektisida juga harus disesuaikan dengan jenis tanaman berserta hama yang menyerang.

Salah satu bahan aktif yang terkandung dalam insektisida adalah fentoat. Untuk bahan aktif sendiri biasanya petani tidak terlalu memperhatikan dan cenderung terpaku dengan merk. Maka dari itu tim bisatani telah merangkum tentang bahan aktif fentoat, langsung saja simak penjelasannya dibawah ini.

Apa itu bahan aktif fentoat ?

Klorfenapir : Insektisida Pengendali Hama Pengganggu Pada Tanaman

Fentoat merupakan salah satu zat kimia yang biasa digunakan dalam pertanian sebagai obat untuk mengendalikan hama. Biasanya bahan aktif ini tersedia dipasaran dalam bentuk cairan dengan warna coklat kekuningan dengan sifat mudah dilarutkan.

Selain itu ciri khas dari bahan aktif ini adalah mempunyai bau yang sangat menyengat dan cenderung membuat pusing hingga mual. Maka dari dari itu dalam pengaplikasiannya harus menggunakan APD yang lengkap.

Bahan aktif fentoat merupakan insektisida yang masuk kedalam golongan pestisida organosfat. Mekanisme kerja bahan aktif ini sama dengan bahan aktif asefat, klorpirifos, profenofos, dimetoat, dan lain sebagainya.

Cara kerja bahan aktif fentoat

Bahan aktif ini masuk kedalam golongan organosfat yang bekerja dengan menghambat sistem syaraf. Fentoat merupakan salah satu insektisida sebagai racun kontak dan lambung. Yang mana akan bekerja apabila zat ini telah terjadi kontak ataupun tertelan oleh hama sasaran.

Bahan aktif ini termsuk jenis insektisida yang disukai oleh petani karena mempunyai daya basmi yang cepat dan sudah terbukti kualitasnya. Penggunaan obat yang bersifat organosfat ini sangat dianjurkan oleh Departemen Pertaian karena mempunyai sifat mudah hilang di alam.

Cara Aplikasi

Bahan aktif ini berupa cairan yang sangat mudah untuk dilarutkan. Hal itu tentu akan memudahkan dalam proses pengaplikasian. Sebelum digunakan bahan aktif ini perlu untuk dilarutkan terlebih dahulu menggunakan air yang bersih. Untuk dosisnya sendiri disesuaikan dengan jenis tanaman dan hama yang menyerang. Berikut ini adalah contoh aplikasi menggunakan obat dengan bahan aktif fentoat dari berbagai merk dagang.

  • Veto dengan kandungan sebesar 650 g/l yang bisa digunakan pada tanaman cabai dan kedelai untuk mengendalikan ulat grayak. Besaran dosis yang diperlukan adalah 1 - 2 ml/l
  • Dharmasan dengan kandungan fentoat sebesar 600 g/l yang dapat digunakan pada berbagai tanaman. Pada tanaman bawang merah digunakan untuk mengendalikan hama ulat grayak dengan dosis 1 - 2 ml/l. Untuk tanaman kapas dapat digunakan untuk mengendalikan hama pengerek buah dan pucuk, yang memerlukan dosis 2 l/ha. Sedangkan pada tanaman lada dapat digunakan untuk mengendalikan hama pengisap buah (Dasynus pipeis) dengan membutuhkan dosis 1,5 - 3 ml/l.

Jenis hama yang dapat dikendalikan

Fentoat : Bahan Aktif Insektisida Dengan Bau Yang Menyengat

Bahan aktif ini dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama pada tanaman. Berikut ini adalah beberapa contoh hama yang dikendalikan dengan bahan aktif fentoat, diantaranya :

  1. Ulat grayak

Siapa petani yang tidak tahu tentang ulat ini? Karena seorang petani sudah pasti tahu tentan hama yang satu ini. Hama ulat yang hampir ada pada semua jenis tanaman. Ulat grayak memiliki ciri fisik seperti tidak memiliki bulu dan pada tubuhnya berwarna kehijauan dan memiliki motif seperti baju tentara. Sehingga sebagian orang menyebutnya dengan ulat tentara.

Serangan hama ulat grayak terbilang masif dan kerusakan yang ditimbulkan juga cukup parah. Dalam waktu satu malam ulat ini dapat mengahabiskan suatu tanaman. Ulat jenis ini biasanya aktif pada malam hari sedangkan pada siang hari biasanya akan bersembunyi di permukaan tanah.

2. Lembing atau Walang sangit

Hama yang satu ini memiliki ciri khas yaitu dapat mengeluarkan aroma bau dari dalam tubuhnya. Hama walang sangit dapat dengan mudah dijumpai pada tanaman padi. Walang sangit akan merusak tanaman dengan cara menghisap cairan yang ada pada tanaman.

Biasanya hama ini akan menghisap cairan tanaman mulai dari pangkal sampai pada buah. Hal itu tentu akan membuat tanaman menjadi kekurangan akan nutrisi dan lama-kelamaan akan membuat tanaman menjadi menguning.

3. Lalat buah

Biasanya hama ini akan menyerang tanaman baik buah-buahan ataupun sayuran. Dampak serangan hama ini terbilang cukup serius karena dapat berakibat pada gagalnya panen.

Hama lalat buah merusak tanaman dengan cara memakan daging buah, yang mana hal tersebut akan membuat tanaman menjadi rusak. Lalat betina juga akan meletakkan telurnya dalam buah, sehingga larva yang telah menetas akan memakan dan menyebabkan buah menjadi busuk.

Merk dagang

Pada saat ini untuk mendapatkan bahan aktif fentoat bisa dengan mengunjungi toko pertanian ataupun bisa memesan melalui marketpalce. Untuk pilihan merk yang tersedia pun tidak banyak, hanya ada beberapa saja. Berikut ini adalah merk dagang obat dengan bahan aktif fentoat, seperti :

  • Bahsan 650 EC diproduksi oleh PT Bahtera Boniaga Lestari
  • Dharmasan 600 EC diproduksi oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero)
  • Tridasan 600 EC diproduksi oleh PT Trida Kimia sakti (Jakarta)
  • Veto 650 EC diproduksi oleh PT Mitra Kreasidharma (Jakarta)

Siprokonazol, Bahan Aktif Fungisida Dari Golongan Triazol

0
Siprokonazol, Bahan Aktif Fungisida Dari Golongan Triazol

Bisatani.com, Siprokonazol - Bicara tentang penyakit, bukan hanya manusia saja yang bisa terserang penyakit tetapi tanaman juga dapat terserang penyakit juga. Serangan penyakit pada tanaman akan menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat, hasil panen yang menurun bahkan bisa menyebabkan gagal panen.

Perlu penanganan yang tepat dan akurat dalam mengendalikan penyakit pada tanaman. Terkadang ada beberapa petani yang melakukan pengobatan setelah tanaman terkena penyakit yang cukup parah. Padahal jika tanaman sudah mengalami gejala awal serangan penyakit, petani sudah harus melakukan pengendalian. Dilakukannya pengendalian serangan penyakit dengan segera agar penyakit tidak segera menyebar atau menular pada tanaman yang sehat. Terkadang pengendalian juga bisa dilakukan sebelum tanaman terserang penyakit.

Ada beberapa cara untuk mengendalikan penyakit, pengendalian secara kimiawi merupakan salah satu jenis pengendalian penyakit yang sampai saat ini masih sering digunakan. Pengendalian kimiawi merupakan pengendalian menggunakan pestisida. Fungisida merupakan jenis pestisida yang digunakan untuk mengendalikan penyakit pada tanaman. Ada berbagai macam jenis bahan aktif yang terkandung didalam fungisida sesuai dengan penyakit yang akan dikendaliakan. Contoh beberapa bahan aktif fungisida seperti Mankozeb, Klorotalonil, Simoksanil, Azokistrobin, Difenokonazol, Siprokonazol, Tembaga, Sulfur dan lain-lain.

Siprokonazol merupakan salah satu jenis bahan aktif fungisida yang akan kita bahas kali ini. Untuk informasi lebih lengkapnya terus simak artikel ini.

Apa itu bahan aktif Siprokonazol?

Siprokonazol merupakan salah satu jenis bahan aktif fungisida. Menurut FRAC (Fungicide Resistence Action Committeebahan aktif ini masuk kedalam golongan Triazole dengan kode kerja 3. Adapun bahan aktif lain yang juga termasuk kedalam golongan ini adalah Azakonazol, Difenokonazol, Heksakonazol, Propikonazol, dan Tebukonazol.

Golongan ini memiliki resiko resistensi yang sedang terhadap patogen jamur penyebab penyakit. Bahan aktif ini tergolong Monosite inhibitor yaitu bahan aktif ini bekerja dengan cara mengganggu membran sel jamur patogen yang menyebabkan penyakit pada tanaman.

Karena Siprokonazol termasuk dalam golongan triazol, bahan aktif ini juga memiliki sifat untuk merangsang pertumbuhan atau biasa disebut zat pengatur tumbuh (ZPT).

Cara kerja bahan aktif Siprokonazol

Siprokonazol merupakan jenis bahan aktif ini bekerja secara sistemik yang bersifat protektif dan juga kuratif. Karena bekerja secara sistemik setelah dilakukan penyemprotan pada tanaman, bahan aktif ini juga akan terserap oleh tanaman dan akan disebarkan keseluruh bagian tanaman melalui jaringan tanaman. Hal ini akan mencegah serangan jamur patogen pada tanaman.

Bahan aktif ini juga mempunyai spektrum yang luas sehingga mampu mengendalikan beberapa jenis jamur patogen penyebab penyakit pada tanaman.

Bahan aktif ini bekerja dengan cara menghambat demetilasi sterol pada jamur patogen. Biosisntesis ergosterol pada membran sel jamur patogen akan terganggu dan terhambat sehingga akan menyebabkan perkembangan jamur patogen terhanti.

Dosis dan cara penggunaan

Siprokonazol, Bahan Aktif Fungisida Dari Golongan Triazol

Untuk dosis dan cara penggunaan kita menggunakan sampel dari beberapa merk dagang fungisida berbahan aktif siprokonazol yang ada di pasaran :

  1. Acapela System 280 SC dengan dosis Siprokonazol 80 g/l. Untuk mengendalikan penyakit bercak ungu (Alternaria porri) pada tanaman bawang merah. Gunakan dosis dengan konsentrasi 700 ml acapela system untuk setiap 1 hektar lahan.
  2. Dkcyprobin 280 SC dengan dosis Siprokonazol 80 g/l. Untuk mengendalikan penyakit karat daun (Phakospora sp) pada tanaman kedelai. Gunakan dosis dengan konsentrasi 1,5 ml dkcytrobin untuk setiap 1 liter air.
  3. Kingstar 84 WG dengan dosis Siprokonazol 24%. Untuk mengendalikan penyakit bercak coklat sempit (Cercospora janseana). Gunakan dosis dengan konsentrasi 2 gram kingstar untuk setiap 1 liter air.

Selalu gunakan pestisida sesuai dosis yang dianjurkan. Hindari menggunakan dengan takaran yang dilebihkan dari dosis yang tertera agar tidak menyebabkan penyakit menjadi resisten, tanaman mengalami overdosis serta menyebabkan pencemaran lingkungan.

Manfaat dan keunggulan bahan aktif Siprokonazol

  1. Bahan aktif fungisida yang bekerja secara sistemik, bersifat protektif dan kuratif.\
  2. Siprokonazol merupakan bahan aktif fungisida dengan spektrum luas.
  3. Membuat daun atau tanaman lebih hijau dan sehat.
  4. Mengendalikan penyakit dari luar dan dalam.

Jenis penyakit yang bisa dikendalikan

Siprokonazol, Bahan Aktif Fungisida Dari Golongan Triazol

Berikut jenis-jenis penyakit yang mampu dikendalikan oleh fungisida berbahan aktif Siprokonazol :

  1. Bercak ungu (Alternaria porripada tanaman bawang merah.
  2. Antraknosa (Colletrichum circinaspada tanaman bawang merah.
  3. Hawar pelepah (Rhizoctonia solanipada tanaman padi.
  4. Blas (Phyricularia oryzaepada tanaman padi.
  5. Bercak daun (Cercospora oryzaepada tanaman padi.
  6. Bulir kotor (Dirty paniclepada tanaman padi.
  7. Busuk batang (Helminthosporium oryzaepada tanaman padi.
  8. Karat daun (Phakospora sppada tanaman kedelai.
  9. Bercak coklat sempit (Cercospora janseanapada tanaman padi.

Merk dagang fungisida dengan bahan aktif Siprokonazol

Adapun merk dagang fungisida berbahan aktif Siprokonazol yang ada di pasaran adalah sebagai berikut :

  1. Acapela System 280 SC yang diproduksi oleh PT DuPont Agricultural Indonesia.
  2. Cougar 280 yang diproduksi oleh PT UPL Indonesia.
  3. Dkcyprobin 280 SC diproduksi oleh PT Danken Indonesia.
  4. Kenisa 280 SC yang diproduksi oleh CV Artha Buana Mandiri.
  5. Kingstar 84 WG yang diproduksi oleh PT Rainbow Agrosciences.

 

Demikian penjelasan mengenai fungisida berbahan aktif Siprokonazol. Semoga bermanfaat bagi petani yang baru belajar serta bisa menambah wawasan bagi petani yang sudah berpengalaman.

Propineb : Bahan Aktif fungisida Yang Banyak digunakan Petani

0
Propineb : Bahan Aktif fungisida Yang Banyak digunakan Petani

Bisatani.com, Propineb - Pada saat ini ada berbagai cara yang dapat dilakukan oleh para petani dalam upaya pengendalian penyakit pada tanaman. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan pemilihan benih yang berkualitas dan juga pengolahan lahan yang tepat.

Selain itu, salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan pestisida dari jenis fungisida. Penggunaan fungisida dirasa lebih efektif dan cepat dalam mengatasi berbagai jenis penyakit yang menyerang tanaman.

Saat ini ada berbagai jenis fungisida baik yang berbentuk cairan ataupun tepung sampai yang bekerja secara sistemik maupun kontak. Bahan aktif dari fungisida ada mankozeb, simoksanil, klorotalonil, propineb, azoksistrobin, difenonazol dan lain sebagainya.

Pada artikel kali ini tim bisatani.com akan membahas lebih jauh tentang bahan aktif propineb. Untuk lebih lengkapnya langsung saja simak penjelasan dibawah ini.

Apa itu bahan aktif propineb ? 

Propineb : Bahan Aktif fungisida Yang Banyak digunakan Petani

Propineb merupakan bahan aktif dari fungisida yang biasa digunakan untuk mengendalikan penyakit yang menyerang tanaman. Bahan aktif ini termasuk senyawa kimia dari golongan dithiocarbamates (organosulfur) dan senyawa zink.

Bahan aktif propineb biasanya berbentuk tepung berwarna kuning yang larut dalam air dan mempunyai sifat mudah terbakar. Fungisida ini mempunyai sifat berspektrum luas sehingga bisa digunakan untuk berbagai jenis tanaman.

Dalam lingkup global, bahan aktif ini teah digunakan di Malta dan rumania. Menurut Directive 91 /414/ EEC bahan aktif ini penggunaannya telah disetujui di benua Eropa. Meski begitu untuk di Negara Austria, Swiss dan Jerman belum mendapat persetujuan. Pada saat ini obat dengan bahan aktif propineb juga tersedia di Negara Brazil dan Afrika Selatan.

Cara kerja bahan aktif propineb

Sama seperti bahan aktif mankozeb dan klorotalonil, bahan aktif propineb juga bekerja sebagai fungisida kontak. Bahan aktif ini bersifat protektif untuk melindungi dari tanaman dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh jamur.

Bahan aktif ini bekerja dengan meningkatkan metabolisme tanaman agar tidak mudah terserang penyakit. Selain itu juga berperan untuk mencegah penyebaran penyakit agar tidak menular pada tanaman yang masih sehat.

Karena termasuk fungisida organosulfur yang mana sangat tepat untuk tindakan preventif atau pencegahan. Akan tetapi fungisida ini kurang efektif apabila tanaman telah terinfeksi jamur

Tata cara dan dosis penggunaan

Dalam prakteknya penggunaan bahan aktif ini biasanya diberikan pada tanaman yang masih muda. Sedangkan jika tanaman sudah berumur maka penggunaan fungisida akan diganti dengan bahan aktif lain.

Untuk penggunaan agar lebih efektif bisa dengan diroling dengan fungisida yang bekerja secara sistemik. Hal itu dilakukan guna untuk mencegah resistensi terhadap fungisida ini.

Untuk dosis dan penggunaannya kita menggunakan beberapa sampel dari merk obat dengan bahan aktif propineb yang berbeda, seperti :

  • Antracol 70 Wp yang sudah dilengkapi dengan zinc untuk mengendalikan penyakit embun tepung, bercak daun pada tanaman apel dan cabai. Untuk dosis yang digunakan sebesar 4 gr/liter air. Waktu pengaplikasian apabila telah ditemukan gejala serangan penyakit dengan interval selama 7 hari.
  • Goneb 78 WP dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit bercak ungu (Alternaria porri) pada tanaman bawang merah. Untuk dosis setiap penyemprotan sebesar 1 gr/liter. Aplikasikan apabila telah muncul serangan penyakit dengan penyemprotan volume tinggi.
  • Zinckol 70/6 Wp dengan 2 bahan aktif sekaligus yaitu propineb dan simoksanil untuk mengendalikan penyakit busuk daun pada tanaman kentang. Penggunaannya membutuhkan dosis sebesar 1.5 gr/liter. Penyemprotan dengan volume tinggi apabila telah muncul gejala penyakit yang menyerang.

Jenis Penyakit yang dapat dikendalikan

Propineb : Bahan Aktif fungisida Yang Banyak digunakan Petani

Dengan sifat berspektrun luas menjadikan bahan aktif propineb dapat digunakan pada berbagai jenis tanaman dan penyakit. Berikut ini adalah beberapa tanaman dan penyakit yang bisa dikendalikan, seperti :

  1. Bawang Merah : Penyakit Bercak daun (Alternaria porri)
  2. Cabai : Antraknosa (Colletotrichum capsici) dan Bercak daun (Cercospora sp)
  3. Kentang : Penyakit Hawar daun (Phytophthera infestans)
  4. Padi : Penyakit Hawar Pelepah (Rhizoctonia solani) dan Bercak coklat (Cercospora janseana)
  5. Anggrek : Bercak daun (Cercospora dendrobii) dan Busuk hitam (Phytophthora nicotianae)
  6. Anggur : Penyakit Embun tepung (Plasmophara viticola)
  7. Apel : Penyakit Embun tepung (podosphaera leucontricha) dan Bercak daun (Marssonina coronaria)
  8. Daun bawang : Bercak ungu (Alternaria porri)
  9. Cengkeh : Penyakit Cacar daun (Phyllosticta sp)
  10. Jagung : Penyakit Bulai (Peronosclerospora maydis) dan hawar daun (Helminthosporium turcicum)
  11. Jeruk : Penyakit tepung (Oidium Tingitanuinum)
  12. Kacang panjang : Penyakit Karat (Uromyces vignaee)
  13. Lada : Penyakit Busuk pangkal batang (Phytophthora palmivora var.piperis)
  14. Kubis : Penyakit rebah/mati bibit (Phythium sp)
  15. Tomat : Penyakit busuk daun (Phytophthora infestans)

Merk dagang

Pada saat ini ada berbagai merk dagang obat dengan bahan aktif propineb yang tersedia dipasaran. Yang mana obat ini bisa didapatkan ditoko petanian. Berikut ini adalah beberapa contoh merk dagang obat dengan bahan aktif propineb, diantaranya :

  • Mitracol 70 WP dipoduksi oleh PT Mitra Kreasidharma (Jakarta)
  • Greenacol 70 WP diproduksi oleh PT Green Apel Indonesia (Jakarta)
  • Trivia 73 WP diproduksi oleh PT Bayer Indonesia (Jakarta)
  • Satgaz 75 WP diproduksi oleh PT Petrosida Gresik (Gresik)
  • Zenith 75 WP diproduksi oleh PT Nufarm Indonesia (Jakarta)
  • Dargo 76 WP diproduksi oleh PT Deltagro Mulia sejati (jakarta)
  • Prodemorf 78 WP diproduksi oleh PT Multi sarana indotani (Mojokerto)
  • Goneb 78 WP diproduksi oleh PT Persada Agro Sukses
  • Santacol 80 WP dproduksi oleh PT Jirona Agritama (Tangerang)
  • Propineb 80 TC diproduksi oleh PT Bayer Indonesia (Jakarta)

Nitenpiram, Bahan Aktif Insektisida Yang Bersifat Sistemik

0
Nitenpiram, Bahan Aktif Insektisida Yang Bersifat Sistemik

Bisatani.com, Nitenpiram - Serangan hama dan penyakit merupakan salah satu pokok permasalahan yang selalu dialami oleh setiap petani. Berbagai cara bisa dilakukan untuk mengendalikan serangan hama dan juga penyakit. Ada yang menggunakan cara secara teknis, biologi serta kimiawi. Pengendalian hama secara kimiawi merupakan jenis pengendalian yang paling sering digunakan oleh para petani.

Pengendalian secara kimiawi merupakan pengendalian serangan hama dan penyakit menggunakan pestisida. Insektisida merupakan jenis pestisida untuk mengendalikan serangan hama sedangan fungisida merupakan jenis pestisida untuk mengendalikan penyakit pada tanaman.

Ada banyak sekali jenis bahan aktif insektisida menyesuaikan dengan jenis hama yang ditanggulangi. Nitenpiram merupakan salah satu bahan aktif insektisida yang digunakan untuk mengendalikan hama pada tanaman. Untuk mengetahui info lengkap mengenai insektisida ini terus simak artikel berikut.

Apa itu bahan aktif Nitenpiram?

 

NItenpiram, Bahan Aktif Insektisida Sistemik

Nitenpiram merupakan salah satu jenis bahan aktif insektisida. Dalam IRAC (Insecticide Resistence Action Committee) dimasukan kedalam golongan Neonicotinoid. Nitenpiram memiliki kode kerja 4A dan termasuk golongan jenis baru. Golongan ini pertama kali didaftarkan oleh US-EPA (United States Enviromental Protection Agencypada tahun 1990an.

Secara kimiawi golongan ini termasuk dekat dengan zat kimia nikotin. Adapun beberapa bahan aktif yang termasuk satu golongan dengan Nitenpiram seperti Imidakloprid, Tiametoksam, Dinotefuran, Asetamiprid, Klotianidin, Tiakloprid dan lain-lain.

Berbeda dengan golongan Organofosfat, golongan Neonicotinoid tidak memiliki toksisitas yang tinggi. Jadi golongan ini kurang beracun untuk burung dan mamalia. Nitenpiram oleh EPA dikategorikan dalam kelas 2 dan 3 yang diberi label warna biru “Perhatian” dan kuning “Berbahaya“.

Cara kerja bahan aktif Nitenpiram

Nitenporam merupakan bahan aktif insektisida yang bekerja secara sistemik sebagai racun kontak dan juga lambung. Bahan aktif ini juga masuk kedalam golongan yang mempunyai spektrum luas yang sangat efektif untuk mengendalikan jenis hama berkulit lunak.

Setelah penyemprotan pada tanaman, bahan aktif ini akan terserap kedalam jaringan dan akan disebarkan keseluruh bagian tanaman. Jika ada hama yang menyerang, serangga akan mati karena efek keracunan memakan bagian tanaman.

Ketika nitenpiram terkena serangga atau serangga ini mengkonsumsi bagian tanaman akan terjadi sebuah reaksi didalam tubuh serangga. Dimana reaksi dari bahan ini akan mengakibatkan gangguan saraf pusat pada hama serangga. Saraf dan otot serangga mengalami getaran hebat yang menyebabkan serangga kejang-kejang lalu mati. Serangga akan kehilangan kemampuan untuk makan, berjalan dan juga terbang.

Dosis dan cara penggunaan

Untuk dosis dan cara penggunaan kita mengambil sampel dari beberapa merk dagang insektisida yang mengandung bahan aktif Nitenpiram :

  1. Hades 123 SL dengan dosis Nitenpiram 123 g/l. Untuk mengendalikan hama wereng cokelat (Nilaparvata lugens) pada tanaman padi. Gunakan dosis dengan konsentrasi 1 ml hades untuk setiap 1 liter air.
  2. Cypran 12,5 WP dengan dosis Nitenpiram 12,5%. Untuk mengendalikan hama trips (Thrips parvispinus) pada tanaman cabai. Gunakan dosis dengan konsentrasi 1,5 gram cypran untuk setiap 1 liter air.
  3. Ares 100 SL dengan dosis Nitenpiram 100 g/l. Untuk mengendalikan hama kutu daun (Myzus persicae) pada tanaman cabai. Gunakan dosis dengan konsentrasi 0,75-1 ml ares untuk setiap 1 liter air.

Ingat, selalu gunakan insektisida sesuai dosis anjuran agar tidak menyebabkan hama menjadi resisten, tanaman mengalami overdosis dan menyebabkan pencemaran tanah serta lingkungan.

Manfaat dan keunggulan bahan aktif Nitenpiram

Berikut beberapa manfaat serta keunggulan insektisida berbahan aktif Nitenpiram :

  1. Merupakan insektisida yang bekerja secara sistemik sebagai racun kontak dan lambung.
  2. Golongan insektisida yang mempunyai spektrum luas.
  3. Tidak menimbulkan toksisitas yang tinggi pada burung dan mamalia.

Jenis hama yang bisa dikendalikan

Nitenpiram, Bahan Aktif Insektisida Yang Bersifat Sistemik Nitenpiram, Bahan Aktif Insektisida Yang Bersifat Sistemik

Berikut jenis-jenis hama yang bisa dikendalikan dengan insektisida berbahan aktif Nitenpiram :

  • Wereng coklat (Nilaparvata lugens)

  • Hama Trips (Thrips parvispinus)

  • Kutu daun (Myzus persicae)

Merk dagang insektisida berbahan aktif Nitenpiram

Berikut beberapa merk dagang dengan bahan aktif Nitenpiram yang ada di pasaran :

  1. Ares 100 SL yang diproduksi oleh PT Deltagro Mulia Sejati.
  2. Cypiran 12,5 WP yang diproduksi oleh PT Indagro.
  3. Desanto 200 SL yang diproduksi oleh PT Mitra Indotani Abadi.
  4. Devotion 10 SP yang diproduksi  oleh PT Mitra Indotani Abadi.
  5. Gavin 35 WP yang diproduksi oleh CV Artha Buana Mandiri.
  6. Hades 123 SL yang diproduksi oleh PT Prima Karya.
  7. Ketave 100 SL yang diproduksi oleh PT Excel Meg Indo.
  8. Niten 100 SL yang diproduksi oleh CV Indotraco.
  9. Ohio 10 WP yang diproduksi oleh CV Indotraco.
  10. Qaishar 10 WP yang diproduksi oleh CV Indo Agro Chemical
  11. Teballo 250 SL yang diproduksi oleh PT Petrosida Gresik.
  12. Zeus 10 WP yang diproduksi oleh CV Artha Buana Mandiri.

Demikian penjelasan mengenai bahan aktif Nitenpiram. Semoga bermanfaat dan membantu para petani yang baru belajar dan menambah ilmu bagi petani yang sudah berpengalaman.

Diafentiuron : Bahan Aktif Insektisida Pengendali Hama Tanaman

0
Diafentiuron : Bahan Aktif Insektisida Pengendali Hama Tanaman

Bisatani.com, Diafentiuron - Pada saat ini berbagai cara yang dapat dilakukan dalam upaya pengendalian hama. Bisa menggunakan cara manual yaitu dengan langsung membuang hama yang muncul. Jika hama yang muncul jumlahnya sedikit, kita bisa menggunakan cara tersebut. Berbeda jika serangan hama sangat banyak maka cara manual/tradisional tidak akan efektif.

Maka dari itu kita memerlukan pestisida dari jenis insektisida dalam upaya untuk mengendalikan hama. Penggunaan insektisida memiliki kelebihan yaitu sangat efektif untuk mengendalikan berbagai jenis hama dan tentu akan menghemat waktu.

Sekarang ini ada berbagai jenis bahan aktif yang terkandung dalam suatu insektisida. Seperti lamda sihalotrin, asefat, dimehipo, abamectin, emamektin benzoat, klorpirifos, profenofos dan lain sebagainya. Agar lebih efektif dalam penggunaan insektisida harus disesuaikan dengan jenis bahan aktif dan jenis hama yang menyerang.

Pada artikel kali ini tim bisatani.com berkesempatan untuk membahas tentang bahan akif diafentiuron. Untuk informasi lebih lengkapnya lansung saja simak penjelasan dibawah ini.

Apa itu bahan aktif diafentiuron ?

Diafentiuron : Bahan Aktif Insektisida Pengendali Hama Tanaman

Bahan aktif diafentiuron merupakan senyawa kimia yang biasa digunakan untuk mengendalikan hama yang menyerang tanaman. Bahan aktif ini termasuk kedalam golongan tiourea.

Diafentiuron pertama kali diperkenalkan pada tahun 1990 oleh Ciba-Geigy yang digunakan sebagai insektisida dan akarisida. Bentuk dari bahan aktif ini berupa padatan dan tidak berwarna dan bersifat tidak mudah larut dalam air.

Zat ini termasuk bahan aktif yang sangat beracun pada serangga dan ekosistem dalam air. Maka dari itu penggunaannya harus digunakan secara bijak dan jangan sampai mencemari ekosistem air.

Cara kerja bahan aktif diafentiuron

Bahan aktif diafentiuron merupakan salah satu dari sekian banyak zat yang bekerja sebagai racun kontak dan lambung. Yang mana bahan aktif ini akan bekerja apabila telah terjadi kontak dan juga telah tertelan oleh hama sasaran.

Berdasarkan IRAC (Insecticide Resistance Action Commite) diafentiuron merupakan bahan aktif yang akan menyasar sistem pernafasan dengan menghambat sintesis ATP. Bahan aktif ini akan menghambat enzim yang mana sebagai pensintesis ATP pada mitokondria.

Cara Aplikasi

Kita dapat dengan mudah menemukan obat dengan bahan aktif dalam bentuk pekatan yang mudah dilarutkan dalam air. Dengan begitu maka akan memudahkan pengaplikasian pada tanaman.

Sama seperti obat lain kita perlu mencampurkan terlebih dahulu dengan air bersih. Jumlah dosis yang diperlukan untuk setiap kali penyemprotan harus disesuaikan dengan jenis tanaman dan jenis hama yang menyerang.

Untuk konsentrasi formulasi 0,5 ml - 2 ml/ liter air atau 0,25 - 1 liter prod./ha dalam 500 liter air per hektar. Yang mana harus disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan suatu tanaman dan juga serangan hama.

Jenis hama yang dapat dikendalikan

Cara mengobati daun cabai keriting

Karena termasuk jenis insektisida dan juga akarisida bahan aktif diafenturon dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama. Berikut ini adalah beberapa jenis hama yang dapat dikendalikan.

  • Tungau 

Tungau biasanya hidup dibalik daun cabai dan biasanya akan banyak dijumpai pada tanaman yang masih muda. Hama ini akan menyerang tanaman dengan cara menghisap caiaran pada daun. Yang mana akan membuat jaringan tanaman menjadi rusak. Hal itulah yang menyebabkan psoses fotosintesis tanaman menjadi terganggu.

Serangan hama tungau terjadi baik musim kemarau maupun musim hujan. Akan tetapi, puncak serangan tungai terjadi pasa musim kemarau. Hal tersebut dikarenakan perkembangbiakan hama tungau sangat cepat pada kondisi yang kering.

Tanaman yang terserang hama ini akan menunjukkan gejala seperti munculnya bintik kuning pada permukaan daun. Lama-kelamaan akan melebar dan berubah menjadi kecoklatan. Pada daun cabai yang masih muda akan membuat daun cabai menjadi keriting.

  • Kutu kebul 

Merupakan hama serangga yang mempunyai ukuran kecil dan biasanya berwarna putih. Hama ini dapat menyerang pada berbagai jenis tanaman baik palawija, sayuran, buah-buahan dan lain lain. Sama dengan hama tungau kutu kebul juga bisanya bersembunyi dibalik daun.

Hama ini termasuk hama yang berbahaya karena dapat merusak secara langsung dan juga tidak langsung. Dikatakan secara langsung karena hama dapat membuat daun menjadi kuning, mengkerut, keriting dan membuat tanaman menjadi kerdil.

Selain itu hama ini juga merupakan hama yang berperan sebagai pembawa vektor penyakit virus gemini. Virus gemini dibawa dan disebarkan oleh hama kutu kebul. Tanaman yang sudah terserang virus gemini pertumbuhannya menjadi tidak maksimal. Hal itu akan membuat tanaman menjadi tidak produktif.

  • Hama Perusak daun

Hama ini biasanya menyerang pada tanaman kubis, memiliki ciri dengan bentuk kecil dan berwarna hijau. Gejala tanaman yang terserang tanaman ini seperti daun yang berlubang.

Apabila dibiarkan dan terlambat dalam pengendaliannya akan berakibat pada gagalnya panen. Yang tentu akan membua petani mengalami kerugian.

Merk Dagang

Sekarang ini hanya ada berapa merk dagang obat dengan bahan aktif diafentiuron yang dapat kita dapatkan ditoko pertanian. Untuk harga sendiri biasanya tergantung pada besaran dosis dan juga perusahaan pembuatnya. Berikut ini adalah beberapa merk dagang obat dengan bahan aktif diafentiuron

  1. Agus 500 SC diproduksioleh PT Advancia Indotani ( Tangerang)
  2. Pegasus 500 SC diproduksi oleh PT Syngenta Indonesia (Jakarta)
  3. Alcan 375 SC diproduksi oleh PT Advancia Indotani (Tangerang)

 

 

Spinetoram, Bahan Aktif Insektisida Biologi Bersifat Translaminar

0
Spinetoram, Bahan Aktif Insektisida Biologi Bersifat Translaminar

Bisatani.com, Spinetoram - Sampai saat ini masih banyak petani yang menggunakan pestisida pada semua lahan budidayanya. Baik itu insektisida, fungisida, herbisida, bakterisida, moluskisida, dan lain-lain.

  1. Insektisida untuk mengendalikan hama pada tanaman.
  2. Fungisida untuk mengendalikan penyakit karena jamur patogen pada tanaman.
  3. Herbisida untuk mengendalikan gulma atau rumput liar.
  4. Bakterisida untuk mengendalikan bakteri pada tanaman.
  5. Moluskisida untuk mengendalikan siput.

Sekarang banyak sekali merk dagang pestisida yang ada dipasaran, salah satunya insektisida. Ada banyak jenis insektisida sesuai dengan bahan aktif yang terkandung didalamnya.

Oleh karena itu petani sebaiknya paham dengan insektisida yang akan digunakan. Biasanya insektisida digunakan menyesuaikan target dari serangan hama yang menyerang. Untuk mengetahuinya petani bisa melihat dari bahan aktif yang terkandung. Ada banyak jenis bahan aktif salah satunya adalah Spinetoram. Apa itu insektisida dengan bahan aktif spinetoram dan apa saja target hama yang bisa dikendalikan? Untuk informasi lebih lanjut terus simak artikel ini.

Apa itu bahan aktif Spinetoram?

Spinetoram merupakan salah satu jenis insektisida biologi. Insektisida biologi meerupakan bahan aktif yang berasal dari isolat racun yang dihasilkan bakteri tertentu. Keunggulan dari jenis ini adalah efikasinya yang sangat tinggi dan mampu untuk mengatasi hama-hama yang sudah kebal terhadap jenis insektisida sintetik lainnya.

Bahan aktif ini mempunyai efek sistemik lokal atau translaminar.  Jenis bahan aktif ini juga mampu merangsang aktivitas biologis tanaman untuk memperbaiki sebagian jaringan sel pada tanaman yang telah rusak karena serangan hama.

Spinetoram oleh IRAC(Insecticide Reistence Action Committeedimasukkan dalam golongan Spinosin dengan kode kerja 5. Spinosin merupakan isolate metabolit Saccharopolyspora spinosa, actinomycete penghuni tanah. Bahan aktif lain yang termasuk jenis golongan ini adalah Spinosad. Golongan insektisida ini berspektrum luas karena mampu untuk mengendalikan hama dari golongan ulat atau larva, thrips, penghisap maupun rayap. Mempunyai efek residu yang lebih lama.

Cara kerja bahan aktif Spinetoram

Spinetoram adalah jenis bahan aktif insektisida yang mempunyai efek sistemik local atau translaminar sebagai racun kontak dan racun lambung. Translaminar yaitu kemampuan bahan aktif untuk melakukan penetrasi kedalam kutikula daun hingga kedalam jaringan bawah daun tempat dimana terkadang larva dan hama penghisap bersembunyi. Untuk racun kontak, jika ada hama yang terkena langsung bahan aktif ini, hama akan mati. Sedangkan untuk racun lambung jika ada hama yang memakan bagian pada tanaman, hama akan mati.

Bahan aktif ini akan menyerang sistem saraf dan otot pada hama yang menyerang. Saraf neurotransmiter pada serangga akan mengalami gangguan. Allosterically akan mengaktifkan nAChRs sehingga menyebabkan hyperexcitation dari sistem syaraf. Hama akan mengalami kejang-kejang, getaran yang hebat kemudian akan lemas dan mati.

Dosis dan cara penggunaan

Spinetoram, Bahan Aktif Insektisida Biologi Bersifat Translaminar

Untuk dosis dan penggunaan kita mengambil sampel dari beberapa merk dagang yang mengandung bahan aktif Spinetoram yang ada dipasaran :

  1. Endure 120 SC dengan dosis Spinetoram 120 g/l.
    • Ulat grayak (Spodoptera exigua) pada tanaman bawang merah. Gunakan dosis dengan konsentrasi 0,5-1 ml endure untuk setiap 1 liter air.
    • Hama Trips (Thrips parvispinus) dan penggerek buah (Helicoverpa armigera) pada tanaman cabai. Gunakan dosis dengan konsentrasi 0,5-1 ml endure untuk setiap 1 liter air.
  2. Tenano 360 SC dengan dosis Spinetoram 60 g/l dan Methoxyfenozide 300 g/l. Untuk mengendalika hama penggerek batang (Scirpopaga incertulas) pada tanaman padi sawah. Gunakan dosis dengan konsentrasi 450 ml tenano untuk setiap 1 hektar lahan.

Ingat, selalu gunakan insektisida sesuai dosis yang dianjurkan agar tidak menimbulkan resistensi hama, overdosis pada tanaman serta meracuni lingkungan serta alam.

Manfaat dan kenggulan bahan aktif Spinetoram

  1. Insektisida biologi yang berasal dari bakteri.
  2. Mempunyai efek sistemik lokal atau translaminar.
  3. Bekerja sebagai racun kontak dan racun lambung.
  4. Memiliki spektrum yang luas.
  5. Merangsang aktivitas biologis tanaman untuk memperbaiki sebagian jaringan sel yang rusak karena serangan hama.

Jenis-jenis hama yang bisa dikendalikan

Spinetoram, Bahan Aktif Insektisida Biologi Bersifat Translaminar

Berikut jenis-jenis hama yang bisa dikendalikan mengguanakan insektisida berbahan aktif Spinetoram :

  1. Ulat Kantong (Metisa planapada tanaman kelapa sawit.
  2. Penggerek daun (Scirpophaga incertulaspada tanaman padi.
  3. Pelipat daun (Cnaphalocrosis medinalis pada tanaman padi.
  4. Ulat grayak (Spodoptera liturapada tanaman cabai.
  5. Hama thrips (Thrips parvispinuspada tanaman cabai.
  6. Penggerek buah (Helicoverpa armigerapada tanaman cabai.
  7. Penggorok daun (Liriomyza huidobrensispada tanaman tomat.
  8. Ulat buah (Helicoverpa armigerapada tanaman tomat.
  9. Ha am ulat daun (Plutella xylostellapada tanaman kubis.
  10. Ulat krop (Crocidolomia pavonanapada tanaman kubis.
  11. Hama ulat grayak (Spodoptera exiguapada tanaman bawang merah.

Merk dagang insektisida berbahan aktif Spinetoram

Berikut merk dagang insektisida dengan bahan aktif spinetoram yang ada di pasaran :

  1. Endure 120 SC (PT Dow AgroScience Indonesia).
  2. Tenano 360 SC (PT Dow AgroScience Indonesia).
  3. Delegate 25 WG (PT Dow AgroScience Indonesia).
  4. Integrate 4o WG (PT Dow AgroScinece Indonesia).

Demikian penjelasan mengenai bahan aktif Spinetoram. Semoga bermanfaat bagi petani yang baru belajar dan menambah wawasan bagi petani yang sudah berpengalaman.

Klorfenapir : Insektisida Pengendali Hama Pengganggu Pada Tanaman

0
Klorfenapir : Insektisida Pengendali Hama Pengganggu Pada Tanaman

Bisatani.com, Klorfenapir -  Banyak hal yang mesti dilakukan oleh seorang petani agar proses produksi suatu tanaman dapat maksimal dan menguntungkan. Mulai dari pemilihan jenis bibit yang unggul, perawatan, upaya pengendalian hama maupun penyakit dan prediksi harga pasca panen.

Pemilihan bibit yang berkualitas tentunya akan meningkatkan tingkat keberhasilan karena cenderung lebih tahan penyakit. Perawatan dapat berupa pemberian nutrisi (pupuk) agar kebutuhan akan unsur hara terpenuhi. Pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara tepat, sesuai dengan jenis hama maupun penyakit yang menyerang. Prediksi harga panen juga merupakan hal yang penting untuk dilakukan agar waktu panen kita bisa mendapatkan harga yang bagus dan pastinya menguntungkan.

Pada bab ini tim bisatani.com masih akan membahas seputar bahan aktif dari insektisida yaitu bahan aktif klorfenapir. Untuk lebih lanjut langsung saja simak penjelasan berikit ini. Selamat membaca.

Apa itu bahan aktif klorfenapir ?

Klorfenapir : Insektisida Pengendali Hama Pengganggu Pada Tanaman

Klorfenapyr merupakan racun dari jenis insektisida yang berguna untuk mengendalikan hama pada tanaman. Bahan aktif ini biasanya berbentuk pekatan yang mudah dilarutkan dan memiliki warna kuning agak kecoklatan.

Pada awal kemunculannya bahan aktif ini didaftarkan pada tahun 2000 tetapi ditolak oleh Badan perlidungan Lingkungan Amerika serikat. Hal tersebut diakibatkan adanya kekhawatiran bahwa zat ini dapat meracuni burung.

Selanjutnya pada bulan Januari tahun 2001, EPA (Environmental Ptotection Agency) mendaftarkan bahan aktif klorfenapir yang akan diaplikasikan pada tanaman bukan pangan. Lalu pada tahun 2005 EPA menetapkan toleransi residu untuk berbagai jenis tanaman.

Cara Kerja bahan aktif klorfenapir

Sama seperti jenis insektisida dengan bahan akrif Emamektin benzoat dan Beta siflutrin, klorfenapir juga bekerja secara kontak dan lambung. Bahan aktif ini akan masuk kedalam tubuh hama lalu mengacaukan sistem pernafasan dan juga saraf. Sehingga hal tersebut akan mengakibatkan hama menjadi tak berdaya dan kemudian mati.

Insecticide Resisteance Action Center (IRAC) menggolongkan bahan aktif ini kedalam kode kerja 13 . Bahan aktif ini akan menghambat metabolisme sehingga mengganggu proses fostorilasi oksidatif dalam pembentukan energi.

KLorfenapir juga merupakan salah satu bahan aktif dengan toksistas yang rendah bagi kehidapan mamAlia maupun binatang dalam air.

Cara Aplikasi

Bahan aktif ini biasanya tersedia dalam bentuk pekatan yang mudah dilarutkan dalam air. Untuk pengaplikasinnya sendiri bisa dengan melarutkan pada air bersih dan dosisnya disesuaikan dengan jenis tanaman dan hama yang menyerang.

Jika sudah tercampur merata kita bisa melaKukan penyemprotan dengan alat spray baik yang electrik maupun manual. Satu hal yag perlu diingat bahwa bahan aktif akan bekerja dengan efektif jika dosis yang digunakan itu sesuai.

Pada tanaman yang masih muda apabila pemberian dosisnya terlalu over justru akan membuat tanaman menjadi gosong (kering)

Jenis tanaman dan hama sasaran 

Bahan aktif ini dapat digunakan untuk mengendalkan hama pada beragam tanaman. Berikut ini adalah beberapa contoh tanaman yang dapat diaplikasikAn menggunakan bahan aktif klorfenapir.

  • Cabai

Pada tanaman cabai bisa digunakan untuk mengendalikan hama Kutu daun (Myzuz persicae) dengan menggunakan dosis 0,5 ml/l. Untuk mengendalikan hama Thrips (Thrips parvispinus) memerlukan dosis 1 - 1,5 ml/l dan Ulat grayak (Spodoptera litura) dalam  penyemprotannya memerlukan sebanyak 1,125 ml/l.

  • Bawang merah

Digunakan untuk mengendalikan hama Ulat grayak (Spodoptera exigua) dengan dosis 0,5 - 1 ml/l dan Kutu daun (Myzus persicae) dengan dosis 1,5 ml/l.

  • Kacang Panjang

Untuk mengendalikan hama Penggerek polong (Maruca testulasis) dengan dosis 0,75 ml/l.

  • Kubis

Untuk mengendalikan hama Perusak daun (Plutella xylostella) dan Ulat krop (Crocidolomia pavonnana) dengan dosis 3 ml/l.

  • Padi Sawah

Untuk mengendalikan hama Penggerek batang (Scirpophaga incertulans) dan Wereng coklat (Nilaparvata lugens) dengan dosis 1 - 1,5 ml/l.

  • Apel

Untuk mengendalikan hama Kutu daun (Aphis sp) dengan menggunakan dosis 0,75 ml/l.

  • Semangka

Untuk mengendalikan hama Kutu daun (Myzus persicae), hama Thrips (Thrips sp.) dan Kumbang daun (Aulacophora sp.) dengan dosis 2 ml/l.

  • Tomat

Untuk mengendalikan hama Penggerek buah (Helicoverpa armigera) dengan dosis 0,75 ml/l.

  • Kentang

Untuk mengendalikan hama Perusak daun (Plutella xylostella), Ulat crop (Crocidolomia pavonnana), Pengorok daun (Liriomyza huidobrensis) dan Hama thrips (Thrips palmi). Dengan menggunakan dosis sebesar 0,75 l/ha.

Manfaat & kelebihan

  1. Salah satu insektisida dengan spektrum luas dalam mengendalikan hama
  2. Efektif mengendalikan hama pada berbagai jenis tanaman.
  3. Penggunaan cukup dengan dosis yang kecil (rendah)
  4. Langsung menyerang sistem pernafasan dan syaraf hama sasaran
  5. Mudah terserap tanaman dan tidak mudah menguap
  6. Mampu mengendalikan hama yang sudah kebal dengan bahan aktif lain

Merk dagang

Pada saat ini kita dapat dengan mudah menemukan merk dagang obat dengan bahan aktif klorfenapir di toko pertaian terdekat. Obat ini juga menjadi salah satu jenis insektisida yang cukup banyak digunakan oleh petani. Selain dengan kandungan klorfenapir murni ada juga beberapa merk yang memadukan dengan bahan aktif lain. Berikut ini adalah beberapa merk obat dengan bahan aktif klorfenapir, diantaranya:

  • Anjanie 300 EC diproduksi oleh CV Raja Grafika
  • Achiles 300 EC diproduksi oleh CV Agro Mulia
  • Fixus 360 SC diproduksi oleh PT Sentana Adi Jaya
  • Knocker 360 EC diproduksi oleh PT Agromanna Jaya Lestari
  • Neofoxs 200 EC diproduksi oleh CV Sinar Agro Kimia Indonesia
  • Rompes 250 EC diprodksi oleh PT Indagro
  • Welchem 500 SL diproduksi oleh PT Global Agrotech

Merk obat dengan bahan klorfenapir dengan campuran bahan aktif lain :

  • Aliaga 380 SC (Emamektin benzoat) diproduksi oleh PT Jirona Agritama
  • Belawan 365 EC (Abamectin) diproduksi oleh PT Sukses Bersama Makmur
  • Ratchet 50/200 EC (Beta siflutrin) diproduksi oleh CV Artha Buana
  • Sagri-m7 100/150 EC (Asefat) diproduksi oleh PT Satya Agro Indonesia
  • Dekapirim 400 SC (Imidakloprid) diproduksi oleh PT Harina Chemicals industry

 

Piridaben, Bahan Aktif Akarisida Sekaligus Insektisida

0
Piridaben, Bahan Aktif Akarisida Sekaligus Insektisida

Bisatani.com, Piridaben - Pemilihan pestisida yang tepat merupakan salah satu hal yang harus dipahami oleh setiap petani. Hal ini dimaksudkan agar petani tidak salah dalam penggunaan obat atau tepat sasaran. Baik itu target hama dan penyakit maupun dosis penggunaan sesaui anjuran.

Ada banyak berbagai macam pestisida baik itu insektisida yang digunakan untuk mengendalikan serangan hama pada tanaman, fungisida yang digunakan untuk mengendalikan serangan penyakit pada tanaman, herbisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma atau rumput liar, dan lain-lain.

Misal untuk mengendalikan hama ulat bisa menggunakan insektisida berbahan aktif Asefat, Sipermetrin, Klorpirifos, Abamektin, Dimetoat dan lain-lain. Ada juga hama tirps dan kutu daun yang bisa dikendalikan dengan bahan aktif Abamektin, Dimetoat, Profenofos, Imidakloprid, dan lain-lain. Ada salah satu bahan aktif insektisida sekaligus akarisida yang diperuntukan untuk mengendalikan hama tungau dan hama trips yaitu Piridaben. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai bahan aktif ini terus simak artikel ini.

Apa itu bahan aktif Piridaben?

Piridaben merupakan salah satu bahan aktif akarisida dan insektisida yang bekerja secara kontak. Bahan aktif ini oleh IRAC (Insecticide Resisteance Action Committe) masuk dalam golongan METI akarisida dan insektisida dengan kode kerja 21A.

Adapun bahan aktif lain yang masuk dalam satu golongan dengan Piridaben seperti Fenazakuin, Fenpiroksimat, Pirimidifen, Tebufenpirad dan Tolfenpirad.

Cara kerja bahan aktif Piridaben

Piridaben merupakan bahan aktif akarisida yang bekerja sebagai racun kontak. Bahan aktif ini akan mengendalikan hama dengan mengganggu proses respirasi atau pernafasan pada hama. Piridaben akan menghambat transpor elektron pada mitokondria pada sel hama sehingga mencegah pemanfaatan energi oleh sel.

Dimana sebenarnya respirasi mitokondria pada sel hama menghasilkan ATP. ATP ini merupakan sumber energi bagi semua proses pada sel-sel vital. Jika proses pelepasan energi ini terganggu, hama akan kekurangan energi dan lama-kelamaan akan mati lemas.

Dosis dan cara penggunaan

Untuk dosis dan cara penggunaan kita mengambil dari beberapa sampel merk dagang yang mengandung bahan aktif Piridaben :

  1. Samite 135 EC dengan dosis piridaben 135 g/l. Untuk mengendalikan hama tungau (Hemitarsonemus latus) pada tanaman cabai, gunakan dosis dengan konsentrasi 1 ml samite untuk setiap 1 liter air. Sedangkan untuk mengendalikan hama tungau (Tetranychus sp) pada tanaman jeruk, gunakan dosis dengan konsentrasi 0,5 ml samite untuk setiap 1 liter air.
  2. Torso 150 EC dengan dosis piridaben 150 g/l. Untuk mengendalikan hama Thrip (Trips parvispinus) pada tanaman cabai, gunakan dosis dengan konsentrasi 0,5 ml torso untuk setiap 1 liter air. Sedangkan untuk hama Tungau jingga (Polyphgotarsonemus latus) pada tanaman cabai, gunakan dosis dengan konsentrasi 0,5 ml torso untuk setiap 1 liter air.

Ingat, selalu gunakan obat-obatan kimia sesuai dengan dosis anjuran agar tidak menyebabkan overdosis pada tanaman, resistensi hama serta menimbulkan dampak pencemaran pada lingkungan serta alam.

Manfaat dan keunggulan bahan aktif Piridaben

  1. Berfungsi sebagai insektisida serta akarisida.
  2. Bekerja sebagai racun kontak pada serangan hama.
  3. Mengganggu proses pelepasan energi pada sel hama tungau.

Jenis-jenis hama yang bisa dikendalikan

Piridaben, Bahan Aktif Akarisida Sekaligus Insektisida

Berikut beberapa jenis hama yang bisa dikendalikan menggunakan bahan aktif Piridaben :

  • Tungau

Tungau merupakan salah satu hama yang biasa dijumpai pada tanaman jeruk dan tanaman cabai. Hampir semua jenis tanaman cabai yang diserang oleh hama ini, entah itu cabai rawit, cabai besar, cabai merah keriting bahkan jenis cabai paprika juga ikut diserang. Memang jenis hama ini mudah untuk ditangani, namun jika dibiarkan saja bisa menyebabkan tanaman tak bisa menghasilkan buah bahkan mati.

Hama ini menyerang tanaman dengan cara menghisapa cairan daun yang ada dalam jaringan mesofil. Jaringan mesofil yang rusak akan menyebabkan klorofil juga ikut rusak sehingga proses fotosintesis akan terhambat. Daun yang terserang akan timbul bercak hitam yang lama kelamaan akan menyebar.

Tungau menyerang tanaman pada semua musim baik itu musim penghujan maupun musim kemarau. Tetapi serangan yang parah akan terjadi pada musim kemarau dimana suhu yang optimal 27º sangat cock untuk perkembangbiakan hama ini. Pada kondisi yang kering hama ini akan berkembang biak dengan cepat karena telur-telur pada hama ini akan menetas lebih cepat ± 3 hari. Tungau akan tumbuh mencapai dewasa dan secara seksual dalam kurun waktu 5 hari setelah menetas. Untuk hama tungau betina bisa bertelur 20 butir setiap hari dan mampu hidup 2-4 minggu.

  • Trips

Trips merupakan jenis hama yang menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan pada permukaan daun bagian bawah, apalagi daun-daun yang masih muda. Gejala serang dari hama ini ditandai dengan munculnya bercak keperak-perakan. Lama kelamaan daun menjadi berwarna cokelat tembaga, mengeriting, keriput dan akhirnya tanaman akan mati.

Pada kondisi serangan parah daun, tunas atau pucuk daun akan menggulung kedalam, bahkan akan muncul benjolan pada daun seperti tumor. Tanaman akan tumbuh dengan lambat dan menjadi kerdil.

Hama ini menyerang pada musim hujan dan juga musim kemarau. Serangan parah terjadi pada musim kemaru karena kondisi musim yang sangat bagus dalam mempengaruhi perkembangan hama ini.

Merk dagang insektisida dengan bahan aktif Piridaben

Berikut merk dagang insketisida dengan bahan aktif piridaben yang ada dipasaran :

  1. Samite 135 EC (PT Multi Sarana Indotani).
  2. Torso 150 EC (PT Dalzon Chemicals Indonesia).

Berikut penjelasan mengenai insektisida atau akarisida berbahan akti Piridaben. Semoga bisa menjadi sumber ilmu bagi petani yang baru belajar dan menambah wawasan bagi petani yang sudah berpengalaman.

Emamektin Benzoat : Bahan Aktif Insektisida Pengendali Hama Tanaman

0
Emamektin Benzoat : Bahan Aktif Insektisida Pengendali Hama Tanaman

Emamektin benzoat - Hal yang diinginkan seorang petani adalah tanamannya tumbuh subur, terhindar dari hama maupun penyakit dan panen melimpah. Untuk mencapai itu semua perlu upaya untuk mewujudkannya. Tingkat keberhasilan suatu pertanian tidak lepas dari perlakun perawatan maupun upaya pengendalian hama dan penyakit yang tepat.

Tanaman yang subur akan didapatkan apabila kebutuhan nutrisi baik unsur mikro dan makro telah tercukupi. Dalam pertumbuhan tanaman tidak akan lepas dari yang namanya hama dan penyakit. Maka dari itu kita perlu melakukan tindakan pencegahan serta penanggulangannya.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama bisa menggunakan insektisida. Penggunaan insektisida terbilang efektif dan cepat dibandingakn dengan metode lain.

Diartikel kali ini tim bisatani.com akan berbagi informasi tentang salah satu bahan aktif yang terkandung dalam insektisida. Yaitu bahan aktif emamektin benzoat, untuk mengetahui lebih lengkapnya langsung saja simak penjelasannya dibawah ini.

Apa itu bahan aktif emamektin benzoat ?

Mempelajari bahan aktif yang terkandung dalam pestisida merupakan suatu hal yang perlu dilakukan. Dengan tujuan pengendalian hama menjadi tepat sasaran. Pada umumnya hama yang menyerang tananam berbeda beda, maka dari itu bahan aktif yang digunakan juga berbeda.

Emamektin benzoat merupakan salah satu bahan aktif insektisida yang biasa digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama pada tanaman. Bahan aktif emamektin benzoat merupakan turunan dari bahan aktif abamektin.

Secara umum, bahan aktif ini memiliki bentuk berupa bubuk putih agak kekuning-kuningan. Bahan aktif ini petama kali diperkenalkan oleh Regina D. Lesota, pradip K. Mookerje, John misselbrook dan robert F. Petersen pada tahun 2001 dan telah setujui pada tahun 2002.

Cara kerja bahan aktif emamektin benzoat

Emmamektin benzoat merupakan salah satu jenis insektisida yang bekerja secara kontak dan lambung. Bahan aktif ini akan bereaksi apabila telah terjadi kontak dengan hama sasaran. Selain itu juga efektif apabila hama telah memakan tanaman yang sudah disemprotkan bahan aktif ini.

Zat ini akan masuk kedalam tubuh hama dan merusak sistem syaraf sehingga mengakibatkan kelumpuhan.

Emamektin masuk kedalam keluarga avermetrin yang dapat menunjukkan toksisitas pada golongan nematoda, artropoda dan berbagai jenis hama lainnya. Selain itu bahan aktif ini juga bisa digunakan untuk memberantas kutu ikan pada budidaya ikan.

Cara aplikasi dan Hama Sasaran

Emamektin Benzoat : Bahan Aktif Insektisida Pengendali Hama Tanaman

Bahan aktif emamektin benzoat digunakan untuk mengendalikan berbagai hama pada beragam tanaman. Dengan spektrum yang luas memungkinkan untuk bisa menghemat biaya karena kita tidak memerlukan berbagai jenis obat untuk tanaman yang berbeda. Berikut ini adalah jenis tanaman dan sasaran hama yang bisa diaplikasikan menggunakan bahan aktif emamektin benzoat.

  • Tomat

Dapat digunakan untuk mengendalikan hama penggerek buah (Helicoverpa armigera) untuk dosis yagn diperlukan sebesar 1 ml/l.

  • Bawang merah

Dapat digunakan untuk mengendalikan hama Ulat grayak (spodoprtera exigua) dan pengorok daun (Liriomyza chinensis). Dosis yang diperlukan dalam penyemprotan adalah 2.25 - 4 ml/l.

  • Padi

Dapat digunakan untuk mengendalikan hama Pengerek batang (Scirpophaga intertulas) dan Wereng coklat (Nilaparvata Lugens). Besaran dosis yang diperlukan adalah 2.25 ml/l.

  • Kubis

Digunakan untuk mengendalikan hama Perusak daun (Plutella xylostella) dan Ulat Crop (Crocidolomia pavonana). Dosis yang diperlukan dengan volume tinggi sebesar 0.5 - 1 ml/l.

  • Cabai

Untuk mengendalikan hama ulat grayak (spodoptera litura) dengan dosis penyemprotan sebesar 0.5 - 1 ml/l.

  • Jagung

Digunakan untuk mengendalikan hama Belalang (locusta sp.) dengan dosis penyemprotan volume tinggi sebesar 1.5 ml/l.

  • Kedelai

Digunakan untk mengendalikan hama Ulat grayak (Spodoptera litura) dengan dosis ppenyemprotan sebesar 1.5 - 2 ml/l.

Merk dagang

Berikut ini adalah beberapa merk obat dengan bahan aktif emamektin benzoat. Selain mandiri terkadang ada beberapa merk produk yang memiliki kandungan 2 bahan aktif sekaligus. Ada yang dikemas dengan campuran bahan aktif dimehipo dan lain sebagainya.

Dengan begitu memungkinkan fungsi dari bahan aktif ini akan lebih maksimal dalam mengendalikan hama baik ulat maupun hama bersayap kecil.

Kita dapat dengan mudah mendapatkan merk dagang obat dengan bahan aktif emamektin benzoat ditoko pertanian. Untuk harga sendiri beda-beda tergantung dari besaran dosis dan juga perusahaan pembuatnya.

  • Bakti 10 ME : PT Supra Manunggal
  • Crumble 10 EC : PT Multi Sarana Indotani
  • Prothol 10 EC : PT Indagro
  • Dinamec 10 WG : PT Farmco Kimia
  • BM Ematez 19 EC : PT Behn Meyer AgriCare
  • Kooka 19 EC : PT Kogayama Indonesia
  • Jimat 20 EC : PT CAtur Manunggal Jaya Abadi
  • Enigma 21 EC : PT Delta Giri Wacana
  • Emma 22 EC : PT Bio Agritech Nusantara
  • Abenz 22 EC : PT Advansia indotani
  • Emacel 30 EC : PT Excel Meg Indo
  • Chrotz 45 EC : PT Jirona Agritama
  • Emaplus 50 EC : PT Agromanna Jaya Lestari
  • Konnex 65 EC : CV Boma Sakti Tani
  • Bruno 70 EC : PT Deltagro Mulia Sejati

Adapun merk dagang yang tidak hanya menggunakan bahan aktif emamektin benzoat tetapi dicampur dengan bahan aktif lain :

  • Srikandi 160/20 OD (Indoksakarb) : PT Belirang kalisari
  • Forester 550/20 EC (Profenovos) : CV Agro Chemica
  • Sagri-beat 7/30 WP (Klorbenzuron) : PT Satya Agro Indonesia
  •  Emclopir 300/20 EC (Klorfenapir) : PT Maju MAkmur
  • Ghajang 56/100 EC (Lufenuron) : CV Nusa Nur Agro

 

Metil Tiofanat, Bahan Aktif Fungisida Sistemik, Protektif Dan Kuratif

0
Metil Tiofanat, Bahan Aktif Fungisida Sistemik, Protektif Dan Kuratif

Bisatani.com, Metil Tiofanat - Wajib begi seorang petani untuk paham akan jenis serangan hama dan juga penyakit. Hal ini dimaksudkan agar petani lebih tepat dapat melakukan pengendalian serangan hama dan penyakit. Bukan hanya itu, petani juga tidak salah memilih obat-obatan dalam pengendalian hama secara kimiawi.

Pengendalian hama serta penyakit secara kimiawi yaitu dengan menggunakan pestisida. Jika petani tak paham dengan hama dan penyakit yang menyerang tanaman ada kemungkinan petani bisa salah memilih pestisida. Hal ini bisa menyebabkan penggunaan pestisida yang sia-sia serta hanya akan menyebabkan penggunaan pestisida yang berlebihan pada tanaman.

Ada banyak sekali bahan aktif pestisida yang beredar dipasaran dengan merk dagang pestisida yang bermacam-macam. Metil tiofanat merupakan salah satu jenis bahan aktif fungisida yang ada dipasaran. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap mengenai bahan aktif fungisida ini terus simak artikel ini.

Apa itu bahan aktif Metil Tiofanat?

Metil tiofanat merupakan salah satu jenis bahan aktif fungisida yang bekerja secara sistemik, protektif dan juga kuratif. Bahan aktif ini ditemukan pada tahun 1970. Oleh FRAC (Fungicide Resistance Action Committeebahan aktif aktif ini masuk dalam golongan tiofana dengan kode 1.

Jika digunakan sesuai dosis bahan aktif ini tidak menimbulkan fitotoksik pada tanaman. Oleh WHO bahan aktif ini dimasukkan dalam kelas bahaya yaitu kelas III  atau cukup bahaya. Di beri dengan warna pita piktogram yang berwarna biru tua dengan pernyataan “PERHATIAN”.

Bahan aktif ini memiliki resistensi yang bersilangan dengan kelompok yang sama tetapi tidak memiliki resistensi yang bersilangan dengan kelompok karbamat.

Cara kerja bahan aktif Metil Tiofanat

Metil Tiofanat, Bahan Aktif Fungisida Sistemik, Protektif Dan Kuratif

Fungisida dengan bahan aktif metil tiofanat bekerja secara sistemik, protektif dan juga kuratif. Setelah diaplikasikan bahan aktif ini akan terserap oleh tanaman dan akan disebarkan keseluruh bagian tanaman melalui jaringan pada tanaman. Karena cara kerjanya yang protektif bahan aktif ini akan melindungi tanaman dari serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur patogen. Sedangkan kuratif yaitu fungisida ini biasanya diaplikasikan jika sudah ditemukanya tanda-tanda gejala dari serangan penyakit.

Bahan aktif metil tiofanat bekerja dengan cara mengganggu mitosis dan pembelahan sel pada jamur patogen yang menyerang pada tanaman. Jamur patogen pertumbuhannya akan terhambat dan lama kelamaan akan mati.

Metil tiofanat memilik resistensi pada beberapa jenis spesies jamur dan resistensi yang berlawanan dengan kelompok yang sama tetapi tidak jika dengan kelompok karbamat. Bahan aktif ini juga bisa menimbulkan resiko yang tinggi terjadinya resistensi pada jamur patogen jika digunakan terlalu berlebihan.

Dosis dan cara penggunaan

Untuk dosis dan penggunaan kita menggunakan beberapa sampel fungisida dengan bahan aktif metil tiofanat dengan merk dagang tertentu yang ada dipasaran :

  1. Inari 72,5 WP dengan dosis metil tiofanat 35% untuk mengendalikan penyakit blast (Phrycularia oryzae) pada tanaman padi. Gunakan dosis dengan konsentrasi 375-562,5 gram inari untuk setiap 1 hektar lahan.
  2. Judo 70 WP dengan dosis metil tiofanat 70% untuk mengendalikan penyakit bercak daun (Cercospora capsici), antraknosa (Collectotrichum capsici) pada tanaman cabai merah. Gunakan dosis dengan konsentrasi 1,5 gram judo untuk 1 liter air.
  3. Murtox 520 SC dengan dosis metil tiofanat 520 g/l untuk mengendalikan penyakit hawar pelepah (Rhizoctonia solani) pada tanaman padi. Gunakan dosis dengan konsentrasi 0.75-1,5 ml murtox untuk setiap 1 liter air.
  4. Devote 10/35 WP dengan dosis metil tiofanat 35% untuk mengendalikan penyakit patik (Cercospora nicotanae) pada tanaman tembakau. Gunakan dosis dengan konsentrasi 1,5-2 gram devote untuk setiap 1 liter air.

Ingat, selalu gunakan fungisida sesua dosis yang dianjurkan agar tidak menimbulkan sifat resisten terhadap jamur patogen, overdosis tanaman serta pencemaran lingkungan. Bisa juga dengan melakukan penyempreotan selang seling dengan bahan aktfi lain yang tidak bertentangan.

Manfaat dan keunggulan bahan aktif Metil Tiofanat

Berikut beberapa manfaat dan keunggulan fungisida dengan bahan aktif ini :

  1. Fungisida bekerja secara sistemik, protektif dan juga kuratif.
  2. Mempunyai spektrum yang luas.
  3. Bisa diaplikasikan setelah ada gejala serangan penyakit
  4. Penggunaan sesuai dosis tidak menyebabkan fitotoksik pada tanaman.

Jenis-jenis penyakit yang bisa dikendalikan

Metil Tiofanat, Bahan Aktif Fungisida Sistemik, Protektif Dan Kuratif

Beberapa jenis penyakit yang bisa dikendalikan dengan bahan aktif metil tiofanat :

  1. Blast (Phricularia oryzaepada tanaman padi.
  2. Bercak daun (Cercospora capsiscipada tanaman cabai merah.
  3. Patik daun (Cercospora nicotinae) pada tanaman tembakau.
  4. Hawar pelepah (Rhizoctonia solanipada tanaman padi.
  5. Bercak ungu (Alternaria porripada tanaman bawang merah.
  6. Antraknosa (Collectrichum capsicipada tanaman cabai.
  7. Bidang sadapan (Cerotocytis fimbriatapada tanaman karet.
  8. Bercak coklat (Alternaria solanipada tanaman tomat.

Merk dagang fungisida dengan bahan aktif Metil Tiofanat

Berikut merk dagang fungisida dengan bahan aktif ini yang ada dipasaran :

  1. Accura 70 WP (PT Delta Giri Wacana).
  2. Accura 520 SC (PT Delta Giri Wacana).
  3. Antigermen Plus 520 SC (PT Jirona Agritama).
  4. Capital 200/300 SC (PT Santani Agro Mandiri).
  5. Devote 10/35 WP (PT Dharma Guna Wibawa).
  6. Inari 72,5WP (PT Agricon).
  7. Judo 70 WP (PT Belirang Kalisari).
  8. Murtox 520 SC (PT Santani Sejahtera).
  9. Tamipsin 500 SC (PT Tunas Harapan Murni).
  10. Thiocel 500 SC (PT Excel Meg Indo).
  11. Tillo 500 SC (PT Agro Sejahtera Indonesia).
  12. Topsida 75 WP (PT Petrosida Gresik).
  13. Topsindo 70 WP (PT Mitra Kreasidharma).
  14. Vallo 525 SC (PT Petrosida Gresik).

Demikian penjelasan mengenai fungisida berbahan aktif Metil Tiofanat. Semoga bermanfaat bagi petani yang baru belajar dan menambah wawasan bagi petani yang sudah berpengalaman.

Salam petani sukses.