Home Blog Page 7

Beta siflutrin : Bahan Aktif Insektisida Pengendali Hama Pada Tanaman

0
Beta siflutrin : Bahan Aktif Insektisida Pengendali Hama Pada Tanaman

Bisatani.com, Beta siflutrin - Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa serangan hama dalam pertanian semakin meningkat dan beraneka ragam. Ada banyak sekali jenis hama yang dapat kita jumpai pada tanaman. Jenis hama yang menyerang antara tananam satu dengan yang lainnya juga berbeda.

Baik dari sebelum tanam, awal tanam, masa pertumbuhan sampai mendekati masa panen ada saja hama yang menyerang. Maka dari itu kita perlu melakukan upaya pengendalian agar tanaman tidak terserang dan tidak rusak oleh hama tersebut.

Salah satu upaya pengendalian hama dengan penyemprotan menggunakan insektisda. Penggunaan insektisda juga harus disesuaikan dengan jenis hama dan juga bahan aktifnya. Hal itu dilakukan agar pengendalian hama menjadi tepat sasaran dan tidak sia-sia.

Salah satu bahan aktif yang dapat kita gunakan adalah beta siflutrin. Untuk mengetahui lebih jauh tentang bahan aktif beta siflutrin tim bisatani telah merangkumnya. Mari simak penjelasan berikut ini.

Apa itu bahan aktif beta siflutrin? 

Beta siflutrin : Bahan Aktif Insektisida Pengendali Hama Pada Tanaman

Beta siflutin merupakan salah satu bahan kimia yang biasa digunakan sebagai insektisida. Sama seperti bahan aktif sipermetrin bahan aktif ini masuk kedalam golongan insektisida piretroid. Zat ini termasuk bahan yang berbahaya dan beracun bagi serangga sedangkan pada manusia tidak lebih beracun.

Jika penggunaannya sesuai dengan anjuran, bahan aktif ini tidak akan menimbulkan efek fitotoksik. Yang berarti tumbuhan tidak akan menjadi beracun walaupun ada percampuran mineral.

Bahan aktif beta siflutrin biasanya berbentuk pekatan yang mudah larut dalam air. Dengan sifat tersebut akan memudahkan dalam pengaplikasiannya.

Cara kerja bahan aktif beta siflutrin

Beta siflutrin menjadi salah satu insektisida yang bekerja sebagai racun kontak dan lambung. Cara kerja bahan aktif ini akan melumpuhkan serangga apabila telah terjadi kontak. Maupun hama telah memakan tanaman yang sudah disemprot bahan aktif ini.

Daya kerja beta siflutrin dengan cara merusak sistem saraf dari serangga sehingga membuat kejang kemudian membuat hama menjadi mati.

Bahan aktif ini termasuk salah satu jenis insektisida yang cukup banyak digunakan. Permintaan akan bahan aktif ini juga terbilang tinggi. Karena memang sudah terbukti efektif mampu mengendalikan berbagai hama yang menyerang tanaman.

Kegunaan

Bahan aktif beta siflutrin biasa digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama pada masa pertumbuhan. Seperti hama ulat, thrips,lalat buah dll. Selain itu terkadang petani juga melakukan eksperimen dengan menggunakannya pada hama awal tanam seperti gangsir, jontrot dan ulat lutung.

Yang pada mulanya penanggulangan hama awal tanam hanya menggunakan bahan aktif lamda sihalotrin sekarang mulai di rolling dengan bahan aktif beta siflutrin.

Jenis hama yang dapat dikendalikan

Beta siflutrin : Bahan Aktif Insektisida Pengendali Hama Pada Tanaman

Ada banyak sekali jenis hama yang dapat dikendalikan dengan menggunakan babhan aktif beta siflutrin. Penerapannya bisa pada berbagai jenis tanaman. Dibawah ini adalah beberapa jenis hama dan tanaman yang dapat diaplikasikan dengan bahan aktif ini.

  • Hama Ulat grayak (Spodoptera litura) : Apel, anggur dan anggrek
  • Ulat grayak  (Spodoptera exigua), Thrips tabaci : Bawang  merah dan bawang putih
  • Lalat buah (Dacus sp) pada tanaman Belimbing
  • Kutu daun (Myzus persicae), Lalat buah (Dacus ferrugineus), Ulat grayak (Spodoptera litura) pada tanaman Cabai
  • Belalang (locusta migratoria), Ulat penggerek tongkol (Helicoverpa armigera), Ulat grayak (Spodoptera litura) pada tanaman Jagung
  • Kutu putih (Ferisia virgata) pada tanaman Jeruk
  • Hama perusak daun (Spodoptera sp) dan Penggerek polong (Maruca testulasis) pada tanaman Kacang panjang
  • Aphis sp, Phyllocnistis citrella pada tanaman jeruk
  • Hama penghisap buah (Helopeltis antonii) dan Penggerek buah (Conopomorpha cramerella) pada tanaman Kakao
  • Penggerek buah (Earias sp), Penggerek pucuk (Heliothis sp), Penghisap daun (Empoasca sp) pada tanaman Kapas
  • Hama thrips pada tanaman Kentang
  • Ulat api (Thosea asigna) pada tanaman Kelapa sawit
  • Penggerek buah (Hypothenemus hampei) pada tanaman Kopi
  • Hama perusak daun (Plutella xylostella) dan Ulat krop (Crocidolomia binotalis) pada tanaman Kubis.

Merk Dagang

Pada saat ini ada berbagai macam merk obat dengan bahan aktif beta siflutrin yang beredar dipasaran. Kita bisa dapat dengan mudah menemukannya di toko pertanian yang ada di sekitar kita. Untuk harga sendiri biasanya tergantung dari kadar dan perusahaan pembuatnya. Berikut ini adalah beberapa contoh perusahaan pembuat & merk obat dengan bahan aktif beta siflutrin.

  1. PT Rabana Agro Resources : Bulfidor 300 SC
  2. CV Uni Agro Chemica : Amorin 50 EC
  3. PT Bayer Indonesia : Buldok 25 EC
  4. PT Mitra Kreasidharma : Inova 25 EC
  5. CV Graha Agritech : Vastkill 125 EC
  6. PT Dharma Guna Wibawa : Expander 57 EC
  7. PT Agro Sejahtera Indonesia : NApir-plus 150 EC
  8. CV Abadi Jaya : Liebas 50 EC
  9. PT Multi Sarana Indotani : Raydock 28 EC
  10. PT Deltagrow Mulia Sejati : Prado 25 EC
  11. CV Golden Farm Indonesia : Betamix 470 EC
  12. PT Belirang kalisari : Sumo 50 EC
  13. PT Global Agrotech : Passport 28 EC
  14. CV Artha Buana Mandiri : Ratchet 50/200 EC
  15. PT Trida Kimia Sakti : Sildok 50 EC

Semoga daftar merk dagang diatas bisa digunakan sebagai acuan sebelum anda membelinya. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan anda. Selalu kunjungi website bisatani.com untuk memperoleh informasi yang lengkap seputar pertanian.

Tiametoksam, Bahan Aktif Insektisida Yang Tergolong Baru

0
Tiametoksam, Bahan Aktif Insektisida Yang Tergolong Baru

Bisatani.com, Tiametoksam - Serangan hama merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil panen. Dalam kasus tertentu serangan hama juga bisa menyebabkan gagal panen jika dibiarkan saja atau ditanggulangi dengan cara yang kurang tepat. Untuk menganggulangi petani perlu paham dengan hama yang menyerang termasuk gejala-gejala dari serangan hama teresebut.

Kenapa petani harus paham dengan hama pada tanaman dan juga gejalanya? Hal ini disebabkan karena setiap hama memiliki cara penanggulangan yang berbeda-beda. Ada beberapa cara untuk mengendalikan serangan hama pada tanaman seperti pengendalian secara teknis, kultural, biologi serta pengendalian secara kimiawi. Pengendalian secara kimiawi merupakan salah satu pengendalian yang paling sering dilakukan untuk saat ini.

Pengendalian secara kimiawi yakni pengendalian serangan hama menggunakan obat-obatan kimiawi. Obat-obatan kimiawi yang dimaksud disini adalah insektisida. Ada banyak sekali jenis insektisida yang beredar dipasaran. Tetapi dari sekian banyak insektisida, beberapa insektisida memiliki bahan aktif yang sama. Nah bahan aktif inilah yang perlu petani pahami karena serangan hama pada tanaman ini bisa dikendalika dengan bahan aktif yang terkandung dalam insektisida tersebut. Oleh sebab itu alangkah baiknya bagi petani untuk memagahami bahan aktif yang terkandung dalam insektisida bukan terpaku pada merk dagangnya saja.

Ada banyak sekali jenis bahan aktif yang terkandung dalam insektisida sesuai dengan target hama yang akan dibasmi. Tiametoksam merupakan salah satu jenis bahan aktif insektisida yang ada dipasaran. Apa yang dimaksud dengan insektisida dengan bahan aktif Tiametoksam, terus simak tentang artikel ini.

Apa itu bahan aktif Tiametoksam ?

Tiametoksam merupakan salah satu bahan aktif insektisida yang termasuk dalam golongan Neonicotinoid yang memiliki kode kerja 4A. Bahan aktif ini termasuk masih baru. Golongan ini didaftarkan pertama kali oleh US-EPA (United States Enviromental Protection Agencypada tahun 1990an.

Secara kimiawi Neonicotinoid dekat dengan zat kimia nikotin. Beberapa bahan aktif yang masuk dalam golongan ini seperti Imidakloprid, tiametoksam, klotianidin, dinotefuran, asetamiprid, tiakloprid dan lain-lain.

Golongan ini termasuk golongan yang kurang beracun untuk burung dan mamalia sehingga dikembangkan untuk menggantikan golongan Organofosfat dan golongan bahan aktif insektisida lain yang mempunyai toksisitas tinggi. Oleh EPA Neonicotinoid dikategorikan dalam kelas 2 dan 3 serta diberi label warna biru “Perhatian“.

Cara kerja bahan aktif Tiametoksam

Tiametoksam merupakan bahan aktif insektisida bekerja secara sistemik. Bahan aktif insektisida ini juga memiliki spektrum yang luas. Teametoksam bersifat sebagai racun kontak dan juga racun lambung. Setelah diaplikasikan pada tanaman, bahan aktif ini akan terserap dan disebarkan ke seluruh bagian jaringan pada tanaman. Jika ada hama yang terkena pada saat penyemprotan, serangga tersebut bisa mati dan jika ada hama yang memakan bagian jaringan pada tanaman seperti daun, batang dan akar hama tersebut juga akan mati.

Insektisida dengan bahan aktif tiametoksam bekerja dengan cara mengganggu sistem syaraf pusat serangga. Sistem syaraf penerima Nictonic acetylcholinei akan terganggu sehingga serangga menjadi kehilangan kemampuan untuk berjalan, makan, dan terbang. Lama - kelamaan serangga akan mati.

Dosis dan cara penggunaan

Tiametoksam, Bahan Aktif Insektisida Yang Tergolong Baru

Untuk dosis dan cara penggunaan kita mengambil dari beberapa sampel merk dagang insektisida dengan bahan aktif tiametoksam yang beredar di pasaran :

  1. Pandawa 60 WP dengan dosis tiametoksam 10% untuk mengendalikan hama penggerek batang kuning (Scircophaga incertulas) pada tanaman padi. Gunakan dosis dengan konsentrasi 1 kg pandawa untuk 1 hektar lahan.
  2. Thioxam 54 WP dengan dosis tiametoksam 50% untuk mengendalikan hama kutu daun (Myzus persicae). Gunakan dosis dengan konsentrasi 0,75 gram thioxam untuk 1 liter air.
  3. Virtako 300 SC dengan dosis tiametoksam 200 g/l untuk mengendalikan hama ulat grayak (Spodoptera litura). Gunakan dosis dengan konsentrasi 0,15 ml untuk setiap 1 liter air.

Selalu gunakan insektisida sesuai dosis yang dianjurkan agar hama tidak menjadi resisten, tanaman mengalami overdosis serta memberikan dampak pencemaran terhadap lingkungan.

Manfaat dan keunggulan bahan aktif Tiametoksam

  1. Bahan aktif tiametoksam bekerja secara sistemik, kontak dan lambung.
  2. Memiliki spektrum yang luas.
  3. Pada beberapa merk dagang bisa digunakan untuk perlakuan benih.
  4. Memiliki tosisitas yang rendah terhadap mamalia dan burung.

Jenis-jenis hama yang bisa dikendalikan

Tiametoksam, Bahan Aktif Insektisida Yang Tergolong Baru Tiametoksam, Bahan Aktif Insektisida Yang Tergolong Baru

Beriku jenis-jenis hama yang bisa dikendalikan menggunakan insektisida berbahan aktif tiametoksam :

  1. Kutu daun (Rhopaloshiphum maidis) pada tanaman jagung.
  2. Lalat bibit (Atherigona sp) pada tanaman jagung.
  3. Wereng (Peregrinus maidis) pada tanaman jagung.
  4. Kutu daun (Aphis sp) pada tanaman kacang tanah.
  5. Kutu daun (Myzus persicae) pada tanaman cabai.
  6. Ulat grayak (Spodoptera litura) pada tanaman cabai.
  7. Penggerek batang (Scirpophaga incertulas) pada tanaman padi.
  8. Wereng coklat (Nilaparvarta lugens) pada tanaman padi.
  9. Penggerek polong (Etiella zincenella) pada tanaman kedelai.
  10. Ulat grayak (Spodoptera exigua) pada tanaman bawang merah.
  11. Penggerek polong (Maruca testulalis) pada tanaman kacang panjang.

Merk dagang insektisida berbahan aktif Tiametoksam

Berikut beberapa merk dagang insektisida dengan bahan aktif tiametoksam yang ada di pasaran:

  1. Actara 25 WG (PT Syngenta Indonesia).
  2. Agita 10 WG (PT Novindo Agritech Hutama).
  3. Alimo 247 SC (PT Advansia Indotani).
  4. Bm Hamati 25 WG (PT Behn Meyer Agricare).
  5. Colam 247 ZC (PT Rainbow Agrosciences).
  6. Dektin 30 WG (PT Harina Chemicals Industry).
  7. Edo 25 WG (PT Deltagro Mulia Sejati).
  8. Gavin 35 WP (CV Artha Buana Mandiri).

Demikian penjelasan mengenai insektisida dengan bahan aktif Tiametoksam semoga bisa membantu petani yang baru belajar dan bisa menambah wawasan tambahan bagi petani yang sudah berpengalaman. Ingat, selalu bijak dalam menggunakan obat-obatan kimia agar tidak merusak lingkungan sekitar.

Tebukonazol : Bahan Aktif fungisida Pengendali Penyakit Pada Tanaman

0
Tebukonazol : Bahan Aktif fungisida Pengendali Penyakit Pada Tanaman

Bisatani.com, Tebukonazol - Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan suatu pertanian adalah pengendalian hama dan penyakit. Biasanya, hama dan penyakit tersebut muncul dan mengakibatkan tanaman menjadi tidak produktif. Jika terus dibiarkan tanpa adanya upaya pengendalian bukan tidak mungkin akan berkibat pada kerugian.

Untuk mengatasi hama dan penyakit yang muncul kita bisa menggunakan pestisida. Insektisida untuk mengendalikan hama dan fungisida untuk mengendalikan penyakit yangdisebabkan oleh jamur.

Saat ini ada banyak sekali jenis bahan aktif yang terkandung dalam pestisida. Dalam penggunaan insektisida harus disesuaikan dengan jenis hama dan dosisnya. Sedangkan fungisida, walaupun memiliki bahan aktif yang berbeda kegunaannya sama sama untuk mengatasi penyakit.

Pada kesempatan kali ini tim bisatani.com telah merangkum salah satu bahan aktif dari fungisida yaitu tebukonazol. Mungkin dari kalian sudah ada yang tahu dan ada yang belum, maka dari itu langsung saja simak penjelasan dibawah ini.

Apa itu bahan aktif Tebukonazol ?

Tebukonazol : Bahan Aktif fungisida Pengendali Penyakit Pada Tanaman

Tebukonazol merupakan salah satu bahan aktif fungisida yang bersifat sistemik dan fungitoksik. Bahan aktif ini masuk kedalam fungisida golongan triazol seperti difenokonazol dan heksakonazol.

Fungisida dengan bahan aktif tebukonazol memiliki sifat protektif, preventif, erdikatif, kuratif dan didalamya sudah terdapat zat pengatur tumbuh.

Bahan aktif ini biasanya tersedia dalam bentuk tepung dan juga larutan. Memiliki warna putih seperti susu dan mudah dilarutkan dalam air

Cara kerja bahan aktif Tebukonazol

 

Sama seperti jenis fungisida triazol lainnya, tebukonazol bekerja secara sistemik. Jika zat ini telah disemprotkana pada tanaman maka akan dengan mudah terserap oleh tanaman, selanjutnya akan diedarkan pada seluruh jaringan tanaman.

Bahan aktif ini akan menghambat pertubuhan cendawan jamur sebagai penyebab daripada penyakit. zat ini bekerja dengan menghancurkan dinding sel dan menghambat metabolisme cendawan.

Manfaat dan Kegunaan

Tebukonazol : Bahan Aktif fungisida Pengendali Penyakit Pada Tanaman

Tebukonazol berguna untuk mengendalikan berbagai jenis penyakit pada tanaman yang disebabkkan oleh jamur. Bahan aktif ini mampu mengendalikan penyakit baik pada daun, akar, batang, buah dll.

Selain bersifat sebagai fungisida, bahan aktif ini dikenal juga sebagai ZPT. Hal itu dikarenakan tebukonazol berguna juga dalam pembentukan sel jaringan dan meningkatkan jumlah korofil pada tanaman.

Jenis tanaman yang dapat diaplikasikan

Berikut adalah jenis tanaman dan penyakitnya yang bisa diaplikasikan menggunakan bahan aktif tebukonazol, diantaranya :

  1. Anggrek : Bercak daun (Cercospora dendrobii) dan Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides)
  2. Apel : Bercak daun (Marssonina coronaria) dan (Phodospaera leucontrica)
  3. Cabai merah : Bercak daun (Cercospora capsici) dan Antraknosa (Colletotricum capsici)
  4. Jagung : Penyakit bulai (Perenos clerospora maydis) & (Helminthosporium turcicum)
  5. Jeruk : Penyakit embun tepung (Oidium tingitaninum) dan Antraknosa (Colletotrichum gleosporoides)
  6. Kacang hijau : Penyakit karat (Uromyces phaseoli) dan Bercak daun (Cercospora canescens)
  7. Bawang Merah : Bercak daun (Alternaria Porri)
  8. Kacang panjang : Penyakit karat (Uromyces vignanae)
  9. Padi : Penyakit blas (Byricularia oryzae)
  10. Kacang tanah : Penyakit karat (Puccinia arachidis)
  11. Kakao : Penyakit pembuluh kayu (Oncobasidium theobromae)
  12. Karet : Penyakit bidang sadap (Ceratocystis fimbriata)
  13. Kedelai : Penyakit karat (Phakopsora pachirhizi)
  14. Mangga : Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides)
  15. Krisan : Penyakit Karat (Puccinia chrysantemi)
  16. Tembakau : Rebah semai (Rhizoktonia solani)

Merk dagang 

Saat ini ada beberapa merk dagang obat dengan bahan aktif tebukonazol yang ada disekitar kita. Kita dapat dengan mudah mendapatkannya di toko pertanian. Berikut ini adalah beberapa merk obat dengan kandungan bahan aktif tebukonazol, diantaranya :

  • Ariku 430 SC

Merk dagang obat ini diproduksi oleh PT Advansia Indotani kota tangerang selatan dengan dosis 430 EC. Dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit bercak daun ( Cercospora vignae) pada tanaman kacang panjang.  Untuk dosis yang digunakan dalam penyemprotan membutuhkan 1 ml/l. Merk dagang obat ini memiliki izin tetap sampai tanggal 06 Oktober 2022.

  • Bettup 200 EC

Bettup diproduksi oleh PT UPL Indonesia dan berbentuk pekatan 200 EC berguna untuk mengendalikan penyakit antraknosa ( Colletetrichum capsici) dan bercak daun (Cercospora capsici) pada tanaman cabai. Dosis yang diperlukan dalam pengaplikasiannya sebanyak 1 ml/l. Obat ini memliki izin tetap sampai tanggal 30 Agustus 2022.

  • Tonikur 250 EC

Tonikur 250 EC diprodukai oleh CV Saprotan Utama yang bersalamat di kota Semarang. berbentuk pekatan yang berguna untuk mengendalikan penyakit bercak daun (Alternaria porri)pada tanaman bawang merah. Untuk dosis yang diperlukan cukup 0.5 ml/l. Tonikur memiliki izin tetap sampai tanggal 22 Aggustus 2021.

  • Rolitop 475 SC

Berbeda dengan merk obat diatas, Rolitop 475 SC memiliki kombinasi 3 bahan aktif sekaligus. yaitu Azoksistrobin 60 g/l, Karbendazim 250 g/l, dan tebukonazol 165 g/l. Obat ini diproduksi oleh PT Rolimex Kimia Nusamas yang beralamat di Jakarta. Berguna untuk mengendalikan penyakit blast pyricularia oryzae, untuk dosisnya sendiri cukup 1 ml/l.

  • Nativo 75 WG

Jika obat diatas berbentuk pekatan maka Nativo 75 wg ini berbentuk butiran. diproduksi oleh PT Bayer Indonesia, memiliki perpaduan 2 bahan aktif yaitu tebukonazol 50 % dan trifloksistrobin 25 %. Berguna untuk mengendalikan berbagai penyakit pada tanaman bunga, sayuran, buah, palawija dll. Dosis yang diperlukan untuk setiap hektarnya adalah 200 g/l.

Profenofos : Insektisida Pengendali Hama Pada Tanaman

0
Profenofos : Insektisida Pengendali Hama Pada Tanaman

Bisatani.com, Profenofos - Salah satu bentuk pengendalian hama yang menyerang tanaman adalah dengan menggunakan insektisida. Saat ini kita dapat menjumpai berbagai jenis insektisida. Mulai dari jenis bahan aktif yang berbeda, kegunaan, hama sasaran, dosis dan juga cara kerjanya.

Dibandingkan dengan pembasmian hama dengan cara tradisional, sekarang ini penggunaan insektisida lebih sering digunakan. Cara kerja insektisida terbilang lebih cepat dan efektif dibandingkan dengan menggunakan cara tradisional.

Penggunaan insektisida biasanya digunakan pada setiap periode tanam. Baik sebelum penanaman itu sendiri sampai dengan masa panen. Pada saat sebelum tanam dan awal tanam biasanya digunakan obat dengan bahan aktif karbofuran & Lamda sihalotrin.

Jika tanaman sudah semakin besar hama yang muncul pun berbeda lagi. Salah satu bahan aktif yang biasa digunakan adalah bahan aktif profenofos. Kali ini tim Bisatani telah merangkum tentang bahan aktif profenofos. Langsung saja kita simak penjelasannya dibawah ini.

Apa itu bahan aktif Profenofos ?

Profenofos : Insektisida Pengendali Hama Pada Tanaman

Profenofos merupakan salah satu zat kimia dan masuk kedalam jenis insektisida organosfat. Ciri-ciri bahan aktif ini memiliki warna kuning pucat dengan bau yang cukup menyengat seperti bawang putih.

Bentuk dari bahan aktif ini berupa pekatan EC (Emulsifiable Concentrate ) yang dapat dengan mudah dilarutkan.

Bahan aktif profenofos pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 1982. Sedangkan pada tahun 2015 penggunaan bahan aktif ini telah dilarang di Uni Eropa.

Cara kerja bahan aktif Profenofos

Profenofos merupakan insektisida racun kontak dan lambung yang berguna untuk mengendalikan hama serangga pada tanaman. Bahan aktif ini bekerja dengan menghambat enzim asetilkolinesterase pada sistem syaraf serangga.

Bahan aktif ini akan berekasi apabila telah terjadi kontak dan telah termakan oleh serangga. Racun bahan aktif ini akan masuk ke jaringan tubuh dan menggangu sistem fisiologis dari serangga. Hal tersebut akan mengakibatkan hama menjadi mati.

Selain dengan cara kontak dan lambung, profenofos termasuk insektisida yang mampu bekerja secara translaminar. Artinya, walaupun ketika melakukan penyemprotan hama bersembunyi dibawah daun zat ini akan meresap dan mampu mengendalikan hama tersebut.

Profenofos termasuk bahan aktif yang cukup banyak digunakan karena sudah terbukti efektif dalam pembasmian hama. Penggunaannya pun bisa diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman.

Cara penggunaan

Untuk penggunaanya dilarutkan telebih dahulu menggunakan air bersih. Sesuaikan dosis dengan jenis tanaman yang akan disemprot. Rata-rata besaran dosis yang diperlukan antara 1-2 ml/l. Kemudian bisa disemprotkan menggunakan tangki semprot.

Insektisida ini juga bisa dan tetap dapat bekerja walapun dicampur dengan bahan aktif yang lain. Hal tersebut tentu sangat berguna untuk menghemat waktu.

Kelebihan 

  1. Menyerang langsung pada sistem syaraf dan mebasmi hama dalam waktu yang cepat.
  2. Sistem kerja ganda (kontak dan translaminar)
  3. Memiliki spectrum luas sehingga efektif mengendalikan hama pada setiap fase tanaman. Yang mana hal tesebut dapat menghemat biaya.
  4. Cepat terserap jaringan tanaman dan tidak mudah terbawa oleh air hujan.
  5. Bisa diaplikasikan pada banyak tanaman.

Jenis hama yang dapat dikendalikan

Profenofos : Insektisida Pengendali Hama Pada Tanaman

Ada berbagai jenis tanaman dan hama pengganggunya yang dapat diaplikasikan dengan menggunakan bahan aktif profenofos. Berikut adalah beberapa jenis tanaman beserta hamanya :

  • Bawang merah : Ulat grayak (Spodoptera exigua)
  • Cabai : Hama Thrips, Kutu daun (Myzuz Persicae, Lalat buah (Dacus ferugineus), dan ulat grayak.
  • Jeruk : Kutu loncat
  • Kacang hijau : Ulat grayak (spodoptera litura) dan Hama perusak daun (Plucia cslcites)
  • Kapas : Hama penggerek buah ( Earias sp.) dan penggerek pucuk (Heliothis sp.)
  • Kentang : Penggerek umbi (Phthorimaea operculella) dan hama thrips.
  • Kubis : Perusak daun (Plutella xylostella) dan Ulat krop (Crocidolomia pavonana)
  • Semangka : Kutu daun (Aphis sp.), thrips, kumbang pemakan daun (Aulacophora sp.) dan lalat buah.
  • Tebu : Penggerek batang (Chilo auricillius dan chilo saccariphagus).
  • Tembakau : Penggerek pucuk (Heliothis sp.) dan Ulat grayak.
  • Tomat : Ulat buah (Heliothis almigera).

Merk Dagang

Pada saat ini ada berbagai merk obat pertanian yang memiliki bahan aktif profenofos. Setipa perusaahan saling bersaing untuk membuat merk obat dengan dosis dan harga yang berbeda pula. Kita dapat dengan mudah mendapatkan obat ini ditoko pertanian terdekat. Berikut ini adalah merk dagang beserta peusahaan pembuatnya yang bisa digunakan sebagai acuan sebelum kita membelinya.

  1. Acron 500 EC : PT Indagro
  2. Curacron 400 EC : PT sari Kresna Kimia
  3. Detacron 400 EC : PT Deltagrow Mulia Sejati
  4. Electric 500 EC : PT Dalzon Chemicals Indonesia
  5. Forester 550/220 EC : CV Agro Chemica
  6. Fortegold 500 EC : PT UPL Indonesia
  7. Licron 500 EC : PT Asiana Chemiclalindo Lestari
  8. Kenselec 500 EC : PT Kenso indonesia
  9. Pentacron 500 EC : CV saprotan Utama
  10. Rajendra 20/400 EC : PT Dharma guna Wibawa
  11. Rolicron 500 EC : PT Rolimex Kimia Nusa Mas
  12. Sidacron 510 EC : PT Petrosida Gresik
  13. Tamacron 500 EC : PT Fortuna Mulia Sejati
  14. Viper 600 EC : PT Ria Indo Agro
  15. Warship 500 EC : PT Dharma Guna Wibawa

Perlu diingat bahwa penggunaan segala jenis pestisida harus dilakukan dengan bijak. Tak terkecuali bahan aktif profenofos. Jika dilakukan secara sembarangan dan tanpa pengetahuan yang cukup, bukan tidak mungkin dapat menimbulkan dampak negatif.

 

 

Karbaril, Bahan Aktif Insektisida Racun Kontak Dan Lambung

0
Karbaril, Bahan Aktif Insektisida Racun Kontak Dan Lambung

Bisatani.com, Karbaril - Serangan hama merupakan salah satu faktor pemicu hasil panen yang berkurang. Terkadang jika mengalami kondisi serangan yang parah dapat menyebabkan gagal panen. Oleh karena itu, ntuk mengendalikan hama serangga perlu dilakukan tindakan yang tepat agar populasi hama bisa dikendalikan dengan cepat dan ditekan perkembangbiakannya.

Banyak cara untuk bisa mengendalikan serangan hama, salah satunya adalah secara kimiawi. Pengendalian hama secara kimiawi adalah menggunakan obat-obatan kimia yang berupa insektisida. Adapun dalam memilih insektisida, petani harus paham akan bahan aktif yang terkandung didalamnya. Setiap insektisida mengandung bahan aktif yang berbeda sehingga petani harus jeli agar tidak salah dalam memilih insektisida yang tepat sesuai target hama yang akan dikendalikan.

Banyak sekali merk dagang yang telah beredar di pasaran dengan kandungan bahan aktif yang bermacam-macam seperti abamektin, imidakloprid, profenofos, klorpirifos, spinetoram, karbaril, dan lain-lain. Untuk artikel kali ini kita akan membahas apa itu bahan aktif Karbaril. Untuk informasi lebih lengkap terus simak artikel ini.

Apa itu bahan aktif Karbaril ?

Karbaril merupakan salah satu zat kimia atau bahan aktif insektisida yang masuk dalam keluarga karbamat. Karbaril umumnya merupakan padatan kristalin putih. Bahan aktif ini ditemukan sekaligus diperkenalkan oleh Union Carbide pada tahun 1958. Union carbide merupakan kelompok bisnis kimia yang berada di Amerika Serikat yang ada di Danbury, Connecticut. Perusahaan ini telah didirikan pada tahun 1917.

Bahan aktif ini merupakan inhibitor enzim asetilkolinesterase yang tereversibel dengan lambat. Karbaril yang masuk dalam golongan karbamat ini merupakan salah satu terobosan besar dalam insektisida. Meskipun bahan aktif ini beracun bagi serangga tetapi karbaril ini akan didetoksifikasi dan dihilangkan dengan cepat pada tubuh vertebrata.

Bentuk dari insektisida dengan bahan aktif karbaril yang sudah ada dipasaran berupa padatan atau tepung WP (Wettable Powder) dan SP (Soluble Powder). Insektisida dengan bahan aktif ini biasanya digunakan untuk mengendalikan hama serangga pada tanaman dan juga pada gudang penyimpanan hasil panen.

Cara kerja bahan aktif Karbaril

Karbaril merupakan bahan aktif insektisida yang bersifat sistemik dan memiliki spektrum yang luas. Setelah diaplikasikan pada tanaman bahan aktif ini akan terserap dan kemudian melalui jaringan tanaman akan diedarkan pada seluruh bagian tanaman.

Bahan aktif ini bekerja mengendalikan hama dengan mengganggu fungsi normal sistem syaraf pada hama serangga. Impuls syaraf akan ditransmisikan dari satu syaraf menuju syaraf yang lainnya melalui senyawa kimia Acethylcholine. Karbaril akan mengganggu fungsi dari enzim Acetylcholonesterase pada saat menghancurkan Achetylcholine. Karena proses enzim ini yang terganggu akan menyebabkan kebingungan, kejang, kelumpuhan dan berakhir kematian pada serangga.

Dosis dan cara penggunaan

Untuk penggunaan serta dosis insektisida dengan bahan aktif karbaril menyesuaikan dengan umur tanaman serta serangan hama. Untuk mengambil contoh kita mengambil dari beberapa merk dagang yang sudah ada dipasaran :

  1. Sevin 85 SP dengan dosis karbaril 85 %, untuk mengendalikan hama penghisap buah (Helopeltis antonii) pada tanaman kakao. Gunakan dosis dengan konsentrasi 0,5 gram sevin dengan 1 liter air.
  2. Petrovin 85 WP dengan dosis karbaril 85 %, untuk mengendalikan hama kutu daun (Aphis sp) pada tanaman kedelai. Gunakan dosis dengan konsentrasi 3 gram petrovin dengan 1 liter air.
  3. Sanvin 88 SP dengan dosis karbaril 88%, untuk mengendalikan hama belalang (Oxya chinensis) pada tanaman jagung. Gunakan dosis 2 kg sanvin untuk setiap lahan 1 hektar.

Selalu gunakan sesuai dosis anjuran agar tidak menimbulkan resistensi terhadap hama, tanaman mengalami overdosis dan memberikan dampak parah pada lingkungan.

Manfaat bahan aktif Karbaril

  1. Insektisida yang bersifat sistemik dan mempunyai spektrum yang luas.
  2. Tidak menimbulkan toksiksitas pada tanaman.
  3. Meskipun beracun bagi serangga bahan aktif ini didetoksifikasi dan dihilangkan dengan cepat pada vertebrata.

Jenis-jenis hama yang bisa dikendalikan

Karbaril, Bahan Aktif Insektisida Racun Kontak Dan Lambung Karbaril, Bahan Aktif Insektisida Racun Kontak Dan Lambung

Berikut beberapa hama yang bisa dikendalikan dengan menggunakan bahan aktif karbaril :

  1. Penghisap buah (Helopeltis antonii) pada tanaman Kakao.
  2. Perusak Daun (Plusia chalcites) pada tanaman kacang tanah.
  3. Belalang (Oxya chinensis) pada tanaman jagung.
  4. Ulat api (Setora nitens) pada tanaman kelapa sawit).
  5. Kutu putih (Planococcus citri) pada tanaman kopi.
  6. Penghisap buah (Dasynus piperis) pada tanaman lada.
  7. Ulat grayak (Spodoptera litura) pada tanaman tembakau dan kedelai.
  8. Penghisap daun (Helopeltis sp) pada tanaman teh.
  9. Kutu daun (Aphis sp) pada tanaman kedelai.
  10. Ulat krop (Crocidolomia binotalis) pada tanaman kubis.

Merk dagang insketisida berbahan aktif Karbaril

Berikut merk dagang insektisida dengan bahan aktif Karbaril yang ada di pasaran :

  1. Indovin 85 SP (PT. Mekar Warna Sari).
  2. Petrovin 85 WP (PT Petrokimia Kayaku).
  3. Dangomushi 0,998 P (PT Fumakilla Nomos).
  4. Sanvin 88 SP (PT Santani Agro Perkasa).
  5. Sevin 85 SP (PT Agricon).

Demikian penjelasan mengenai insektisida dengan bahan aktif Karbaril. Ingat, selalu gunakan obat-obatan kimia dengan bijak agar tidak merusak alam dan lingkungan sekitar. Semoga artikel ini bisa membantu petani yang baru belajar dan bisa menambah ilmu bagi petani yang sudah berpengalaman.

Karbendazim, Bahan Aktif Fungisida Sistemik Dengan Banyak Manfaat

0
Karbendazim, Bahan Aktif Fungisida Sistemik Dengan Banyak Manfaat

Bisatani.com, Karbendazim - Serangan penyakit merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan hasil tanaman milik para petani. Penyakit pada tanaman jika ditangani secara tepat akan lebih mudah dikendalikan. Namun jika penanganan dilakukan secara lambat dan bahkan diabaikan akan berdampak pada hasil panen. Bahkan jika tingkat serangannya parah dapat menyebabkan gagal panen.

Ada berbagai jenis penyakit yang menyerang pada tanaman. Adapun contoh penyakit pada tanaman seperti antraknosa, busuk daun, layu fusarium, layu bakteri dan lain-lain. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan penyakit pada tanaman. Salah satu cara yang efektif dan paling sering digunakan adalah penggunaan bahan kimia yaitu menggunakan fungisida.

Banyak sekali bahan aktif fungisida yang ada dipasaran salah satunya adalah fungisida dengan bahan aktif Karbendazim. Terus ikuti artikel ini untuk mengetahui informasi lebih lengkap mengenai bahan aktif ini

Apa itu bahan aktif Karbendazim ?

Karbendazim merupakan salah satu jenis bahan aktif pada fungisida. Bahan aktif ini merupakan fungisida dengan spektrum luas yang bekerja secara sistemik. Bahan aktif karbendazim ditemukan pada tahun 1973 dan masuk dalam penggolongan FRAC (Fungicide Resistance Action Committee) golongan 1 yaitu benzimidazol. 

Golongan benzimidazol adalah fungisida yang dapat mengahambat sintesa beta-tubulin, menghambat dalam pembentukan appresoria serta menghambat miselia pada jamur patogen.

Oleh WHO karbendazim termasuk bahan aktif dalam kelas 3 (cukup berbahaya) yang diberi label dengan warna biru tua. Ada beberapa bentuk dari fungisida ini di pasaran yaitu pekatan EC (Emulsifable CConcentrate), pekatan SC (Suspension Concentrate) dan WP (Werrable Powder).

Cara kerja bahan aktif Karbendazim

Karbendazim, Bahan Aktif Fungisida Sistemik Dengan Banyak Manfaat

Fungisida dengan bahan aktif karbendazim bekerja secara sistemik dan memiliki spektrum yang luas. Setelah diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada tanaman, racun pestisida akan menempel pada permukaan tanaman yang tersemprot. Kemudian racun fungisida ini akan terserap oleh jaringan tanaman melalui akar dan daun.

Bahan aktif karbendazim akan membunuh sel pada jamur patogen dengan mendistrosi gelendong mitosis. Protein pada sel jamur patogen akan terhambat sehingga pertumbuhan dan perkembangan jamur menjadi lambat dan mati.

Dosis dan cara penggunaan

Fungisida dengan bahan aktif karbendazim bisa digunakan jika sudah adanya gejala terserang penyakit. Fungisida ini bekerja secara sistemik dengan spektrum luas jadi sebaiknya digunakan secara berkala dan diselang seling dengan fungisida yang bekerja secara kontak.

Untuk penggunaan atau dosis takaran kita ambil dari beberapa merk dagang dengan bahan aktif karbendazim yang sudah ada dipasaran.

  1. Bendas dengan dosis karbendazim 50 WP, untuk perlakuan benih pada tanaman kapas gunakan dosis dengan konsentrasi 0,6-0,8 gram untuk setiap 1 kg benih.
  2. Cabzim dengan dosis karbendazim 500 g/l, untuk penyakit hawar upih daun (Rhizoctonia solani) pada tanaman padi gunakan dosis dengan konsentrasi 0,5-1 ml untuk setiap 1 liter air.
  3. Hagan dengan dosis karbendazim 80 WP, untuk penyakit bercak ungu (Alternaria solani) pada tanaman bawang daun gunakan dosis dengan konsentrasi 3 gram setiap 1 liter air.

Karena fungisida dengan bahan aktif ini bekerja secara sistemik, sebaiknya penggunaan jangan digunakan secara terus menerus karena akan menimbulkan resistensi pada jamur.

Manfaat fungisida dengan bahan aktif Karbendazim

  1. Karbendazim merupakan fungisida yang bekerja secara sistemik.
  2. Bahan aktif ini memiliki spektrum yang luas.
  3. Bisa digunakan untuk perendaman atau perlakuan benih agar lebih kebal terhadap serangan penyakit.

Jenis-jenis penyakit yang bisa dikendalikan

Berikut jenis-jenis penyakit yang bisa dikendalikan dengan fungisida berbahan aktif karbendazim :

  1. Antraknosa (Collectrichum capsici) pada tanaman cabai.
  2. Hawar upih daun (Rhizoctonia solani) pada tanaman padi.
  3. Bercak daun (Cercospora capsici) pada tanaman cabai.
  4. Busuk daun (Phytophthora infestans) pada tanaman kentang.
  5. Bidang sadap (Ceratocystis fimbriata) pada tanaman karet.
  6. Antraknosa (Colletotrichum spp) pada tanaman bawang merah.
  7. Bercak ungu (Alternaria porri) pada tanaman bawang merah.
  8. Hawar daun (Helminthosporium turcicum) pada tanaman jagung.
  9. Busuk buah (Phytophthora palmivora) pada tanaman kakao.
  10. Penyakit karat (Phakospora pachyrhizi) pada tanaman kedelai.
  11. Busuk pangkal batang (Phytophthora capsici) pada tanaman lada.

Merk dagang fungisida berbahan aktif Karbendazim

Berikut merk dagang fungisida dengan bahan aktif karbendazim yang ada dipasaran :

  1. Bendas 50 WP (PT Trida Kimia Sakti).
  2. Cabzim 500 SC (PT Sinamyang Indonesia).
  3. Capital 200/300 SC (PT Santani Agro Mandiri).
  4. Cozene 70/10 WP (PT Petrosida Gresik).
  5. Entiblu 450/100 SC (Agricon).
  6. Hagan 80 WP (PT Jirona Agritama).
  7. Kresnavin 50 WP (PT Sari Kresna Kimia).
  8. Narcim 80 WP (PT samudera Utama Narapati).
  9. Sagri-Manzim 65/20 WP (PT Satya Agro Indonesia).
  10. Sitara 80 WP (CV Graha Agritech Prima).
  11. Taft 75 WP (CV Saprotan Utama).

Berikut penjelasan mengenai fungisida dengan bahan aktif karbendazim. Hendaklah bijak dalam penggunaan obat-obatan kimia agar dampaknya tidak terlalu buruk untuk alam sehingga anak cucu masih bisa memanfaatkannya kelak. Semoga artikel ini bisa menjadi informasi yang bermanfaat untuk para petani yang baru belajar dan menjadi tambahan informasi bagi petani yang sudah berpengalaman.

Salam petani sukses…….

Difenokonazol : Bahan Aktif Fungisida dan Zat Pengatur Tumbuh Tanaman

0
Difenokonazol : Bahan Aktif Fungisida dan Zat Pengatur Tumbuh Tanaman

Bisatani.com, Difenokonazol - Kebanyakan masyarakat Indonesia pada saat ini berprofesi sebagai petani. Maka tak heran jika Indonesia disebut juga dengan negara Agraris. Indonesia dikenal memiliki tanah yang subur sehingga ada pepatah “Indonesia adalah tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

Indonesia didukung oleh kondisi geografis yang cocok untuk pertanian. Yang mana Indonesia terletak diantara 2 samudara dan banyak dikelilingi banyak pegununngan berapi. Curah hujan dan kelembaban udara juga tinggi sehingga hal tersebut menjadi modal dasar pertaian di Indonesia.

Selain hal diatas keberhasilan suatu pertanian juga ditunjang faktor lainya seperti kualitas benih, perawatan, pengendalian hama dan penyakit, juga harga pasca panen. Dalam pengendalian penyakit kita bisa menggunakan pestisida dari jenis fungisida. Ada banyak sekali bahan aktif yang terkandung dalam fungisdia seperti, mankozeb, simoksanil, klorotalonil, difenokonazol, azoksistrobin, tebukonazol dll.

Dikesempatan kali ini tim bisatani.com akan membahas lebih dekat apa itu bahan aktif difenkonazol. Langsung saja simak penjelasan dibawah ini.

Apa itu bahan aktif difenonokazol ?

Difenokonazol : Bahan Aktif Fungisida dan Zat Pengatur Tumbuh Tanaman

Difenokonazol adalah salah satu bahan aktif dalam fungisida sistemik yang bersifat preventif dan kuratif. Zat ini juga termasuk kedalam golongan triazol seperti heksakonazol dan tebukonazol.

Bahan aktif ini merupakan jenis fungisida dengan spektrum yang luas. Selain sebagai fungisida, difenokonazol juga disebut juga dengan zat pegatur tumbuh (ZPT).

Ciri-ciri zat ini berbentuk pekatan berwarna kuning yang dapat dilarutkan dalam air untuk mengendalikan berbagai penyakit pada tanaman.

Cara kerja bahan aktif Difenokonazol

Difenokonazol merupakan salah satu bahan aktif fungisida yang bekerja secara sistemik. Zat ini akan diserah oleh tanaman dan selanjutkan akan didistribusikan keseluruh jaringan tanaman.

Bahan aktif ini akan bekerja dengan menghambat pertumbuhan cendawan penyebab penyakit. Karena bersifat preventif dan kuratif sehingga mampu untuk mencegah dan mengobati tanaman dari penyakit.

Kegunaan dan manfaat Difenokonazol

Difenokonazol : Bahan Aktif Fungisida dan Zat Pengatur Tumbuh Tanaman

Difenokonazol berguna untuk mengendalikan berbagai penyakit yang menyerang tanaman. Karena disertai dengan ZPT zat ini berguna untuk meningkatkan klorofil sehingga membuat daun menjadi lebih tebal dan hijau.

Zpt juga berperan pada pertumbuhan batang, mempercepat pembentukan sel dan mempercepat kematangan buah. Dengan kata lain zpt dapat meningkatkan produktivitas tanaman.

Berikut ini adalah manfaat bahan aktif difenokonazol, diantaranya :

  1. Bekerja secara sistemik sehingga dapat terserap keseluruh jaringan tanaman.
  2. Penggunaan dosis rendah, sehingga dapat dapat menghemat biaya.
  3. Tidak mudah terbawa oleh air hujan, sehingga walaupun sehabis penyemprotan turun. hujan obat akan tetap terserap oleh tanaman.
  4. Membuat tanaman lebih hijau dan mampu menebalkan daun.
  5. Mempercepat pembentukan krop pada sayuran.
  6. Pengisian bulir padi sampai ke pangkal.
  7. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi gabah.

Dosis dan tata cara penggunaan

Berikut ini adalah jenis tanaman beserta penyakit dan dosis yang dianjurkan untuk  setiap tanaman. Sampel kali ini menggunakan bahan aktif difenokonazol pada merk dagang Score 250 EC.

  • Apel

Pada tanaman apel digunakan untuk mengendalikan penyakit tepung (Phodosphaera leucotricha). Dosis yang digunakan sebanyak 5 - 10/ 100 l. Waktu yang tepat dilakukannya penyemprotan pada saat gejala penyakit tersebut muncul. Dengan interval penyemprotan 7-10 hari sekali.

  • Bawang  merah dan bawang putih

Penyakit yang dapat dijumpai pada tanaman bawang yaitu penyakit bercak ungu (Alternaria porri). Dosis yang diperlukan untuk setiap penyemprotan 0.25-0.8 ml/l. Dianjurkan untuk melakukan penyemrotan setelah ada gejala yang muncul. Apabila curah hujan tinggi interval penyemprotannya 7 hari sekali.

  • Cabai

Pada tanaman cabai bisa digunakan untuk mengendalikan penyakit bercak daun (Cescospora capcisi). Dosis yang diperlukan dalam setiap penyemprotan sebesar 0.25-0.5 ml. Penyemprotan dilakukan setelah muncul gejala penyakit degan interval penyemprotan 7 - 10 hari sekali.

  • Jagung

Untuk mengendalikan penyakit hawar daun (Helmintosporium turcicum) pada tanaman jagung diperlukan dosis 0.25-0.5 ml/l. Sama seperti tanaman cabai penyemprotan dilakukan apabila telah muncul gejala penyakit. Langsung disemprot dengan interval penyemprotan 7 - 10 hari sekali.

  • Tomat

Pada tanaman tomat digunakan untuk mengendalikan penyakit busuk (Septoria lycopersici) dan bercak kering (Alternaria solani). Dosis yang diperlukan antara 0.25-1 ml/l. Disemprotkan apabila sudah memasuki umur 21-70 hari setelah tanam.

Merk dagang

Saat ini ada banyak pilihan merk obat dengan bahan aktif difenokonazol ini. Setiap perusahaan bersaing untuk membuat merk obat dengan harga dan dosis yang berbeda-beda. Kita dapat dengan mudah mendapatkan obat ini ditoko pertanian sekitar kita. Berikut ini adalah beberapa merk obat denggan bahan aktif difenokonazol :

  1. Amolin 300 EC : PT Advansia Indotani
  2. Arytop 300 EC : PT Aarysta Lifescience Tirta
  3. Bleacher 250 EC : PT Sinar General Industries
  4. Booming 250 EC : PT Asia gala Kimia
  5. Booster 250 EC : PT Nufarm indonesia
  6. Diveno 250 EC : CV Sinar Agro Kimia Indonesia
  7. Indokor 250 EC : PT Mitra kreasidharma
  8. Oryzole 250 EC : PT Agrotech Pesticide Industry
  9. Recor 250 EC : PT Tanindo Intertraco
  10. Rolizol 250 EC : PT Indoin Business Group
  11. Scorpio 250 EC : PT Sari Kresna Kimia
  12. Sinergy 300 EC : PT Nufarm Indonesia
  13. Sorento 250 EC : PT Deltagro Mulia Sejati
  14. Tridazol 150/150 EC : PT Trida Kimia Sakti
  15. Unizole 375 SC : PT Rainbow Agrosciences

 

 

Metaldehida : Bahan Aktif Pembasmi Hama Siput Pada Tanaman

0
Metaldehida : Bahan Aktif Pembasmi Hama Siput Pada Tanaman

Bisatani.com, Metaldehida - Hama merupakan organisme pengganggu yang dapat merugikan didalam suatu kegiatan dan kehadirannya tidak diinginkan. Saat ini ada banyak sekali jenis hama yang dapat menyerang tanaman. Mulai dari tanaman perkebunan, holtikultura, pangan bahkan sampai tanaman hias pun dapat terserang hama.

Biasanya, istilah hama akan merujuk pada hewan yang mengganggu dan merusak tanaman sehingga menyebabkan kerugian. Dalam dunia petanian ada banyak sekali jenis hama seperti, tikus, siput, ulat, wereng, dan lain sebagainya.

Untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman kita bisa menggunakan pestisida. Penggunaan bahan aktif dari pestisida juga harus disesuaikan jenis hama yang mengganggu. Hal tersebut dilakukan agar upaya pengendalian hama menjadi efektif dan maksimal.

Pada artikel kali ini tim bisatani.com berkesepatan untuk merangkum bahan aktif metaldehida yang mana bahan akif ini biasa digunakan untuk mengatasi hama siput.

Apa itu bahan aktif Metaldehida ?

Metaldehida : Bahan Aktif Pembasmi Hama Siput Pada Tanaman

Metaldehida merupakan senyawa organik yang biasa digunakan untuk mengatasi hama dari keluarga gastropoda. Bentuk umun dari bahan aktif ini berupa butiran yang mempunyai warna merah muda dan agak kecoklatan.

Bahan aktif ini juga mempunyai bau yang cukup khas. Yang mana bau ini dapat memacing hama dari tempat persembunyiannya.

Dalam dunia pertanian metaldehida merupakan salah satu bahan aktif yang cukup banyak digunakan. Hal itu terjadi karena akhir-akhir ini populasi hama berkulit lunak semakin banyak (meningkat). Apalagi saat ini udah masuk peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan jadi perkembangbiakan moluska menjadi meningkat.

Cara kerja bahan aktif metaldehida

Bahan aktif ini merupakan racun yang bekerja secara kontak dan racun perut. Yang mana akan bekerja setelah terjadi kontak dan telah termakan oleh hama sasarannya.

Bahan aktif ini akan masuk dan bereaksi pada jaringan tubuh. Sehingga mengakibatkan gangguan fungsi fisiologis pada hama tersebut.

Karena memiliki bau yang khas, sehingga bahan aktif ini akan memancing hama untuk keluar dan memakannya. Setelah beberapa saat kemudian hama akan mati.

Fungsi dan kegunaan

Metaldehida : Bahan Aktif Pembasmi Hama Siput Pada Tanaman

Bahan aktif metaldehida berfungsi untuk mengendalikan hama bertubuh lunak seperti Siput atau keong. Biasanya keong atau siput akan mudah kita jumpai dibawah bawah plastik bedeng. Tanaman yang terserang hama ini akan menujukkan gejala seperti daun dan batang menjadi berlubang. Dampak yang paling buruk biasanya pada tanaman yang masih muda.

Siput merupakan salah satu hama dengan persebaran yang luas. Kerusakan yang ditimbulkan pun juga cukup serius. Ciri-ciri tanaman yang terserang hama siput dapat diketahui karena adanya jejak lendir pada tanaman.

Biasanya kerusakan akan meningkat saat kelembaban udara meningkat. Siput sangat menyukai bibit dan tanaman yang masih muda, mereka akan memakan tanaman tersebut sampai habis.

Cara Pengaplikasian

Cara menggunakan bahan aktif ini terbilang cukup mudah. Pengaplikasian bahan aktif metaldehida bisa dengan cara ditabur. Baik langsung ditabur maupun diacampurkan terlebih dahulu dengan pupuk. Ada juga yang dapat digunakan dengan cara disemprot. Berikut ini adalah langkah-lagkah pengaplikasian pada tanaman.

  1. Pertama siapkan obat dengan bahan aktif Metaldehida
  2. Siapkan pupuk yang akan dicampurkan dengan bahan aktif ini.
  3. Kemudian campurkan bahan aktif metaldehida dan pupuk sampai merata. Jika sudah tercampur berarti sudah siap untuk digunakan.
  4. Masukkan kedalam wadah kecil atau ember.
  5. Taburkan ke sekeliling tanaman.
  6. Jika kita menggunakan palstik bedeng taburkan pada bawah plastik.
  7. Apabila kita menggunakan obat ini dengan cara disemprot, kita bisa mencampur obat ini dengan air bersih. Kemudian masukkan kedalam tangi semprot. Untuk dosis pertangki bisa dibaca pada label kemasan.

Merk Dagang

Saat ini sudah ada beberapa perusahaan yang memproduksi obat dengan bahan aktif metaldehida. Kita bisa dengan mudah mendapatkannnya di toko pertanian terdekat. Berikut ini adalah beberapa merk obat dengan bahan aktif metaldehida, diantaranya :

  • Rostox 5,5 GR : CV Uni Agro Chemica

Rostok yang diproduksi oleh CV Uni Agro Chemica dengan izin tetap tanggal 31 desember 2020. Dengan kandungan metaldehida sebanyak 5,5 %. Dapat digunakan pada tanaman Padi dan hamanya jenis siput murbei (Pomacea canaliculata). Untuk dosis pemakaiannya membutuhkan 6 kg untuk setiap hektarnya.

  • Wisatox 6 GR : PT Tani Perkasa Kimindo

Wisatox memiliki bahan aktif metaldehida sebesar 6% yang diproduksi oleh PT Tani Perkasa Kimindo. Biasa digunakan untuk membasmi hama siput babi (Achatina fulica) pada tanaman kubis. Dalam penggunaannya memerlukan sebanyak 3 kg untuk satu hektarnya.

  • Barrier Gold 6 GR : PT Maju Makmur Utomo

Barrier gold merupakan obat dengan 2 bahan aktif sekaligus yaitu dimehipo dan metaldehida. Selain digunakan untuk mengatasi hama siput juga bisa digunakan untuk mengendalikan hama wereng coklat. Penggunaan untuk setiap hektarnya memerlukan sebanyak 10 kg.

  • Goldensnail 6 PL : PT Maju Makmur Utomo

Goldensnail memiliki kandungan metaldehida sebesar 6 %. Berbeda dengan merk obat diatas yang pengaplikasiannya dengan cara di tabur untuk goldensnail digunakan dengan cara disemprot. Dapat digunakan untuk mengendalikan hama siput murbei (Pomacea canaliculata). Kebutuhan untuk setiap hektarnya sebanyak 8 kg.

 

Heksakonazol, Fungisida Sistemik Pengendali Penyakit Tanaman

0
Heksakonazol, Fungisida Sistemik Pengendali Penyakit Tanaman

Bisatani.com, Heksakonazol - Banyak sekali faktor yang mempengaruhi hasil panen pada tanaman. Serangan penyakit merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil panen pada tanaman. Terkadang karena serangan yang parah bisa mengakibatkan petani gagal panen.

Ada beberapa cara untuk mengendalikan penyakit pada tanaman, salah satunya adalah penggunaan pestisida. Sampai saat ini produksi pertanian belum terlepas dari penggunaan pestisida. Salah satu jenis pestisida untuk mengendalikan penyakit adalah fungisida.

Banyak sekali jenis bahan aktif fungisida yang ada dipasaran. Mulai dari yang berbahan aktif Mankozeb, Azoksistrobin, Simoksanil, Tembaga, Heksakonazol, Tebukunazol dan lain-lain.

Untuk pembahasan kali ini kita akan menjelaskan apa itu fungisida dengan bahan aktif Heksakonazol. Untuk mengetahui informasi lebih jelasnya silakan simak artikel berikut

Apa itu bahan aktif Heksakonazol ?

Fungisida dengan bahan aktif heksakonazol merupakan jenis fungisida yang bersifat sistemik. Heksakonazol masuk dalam golongan triazol dengan kode kerja 3. Oleh WHO fungisida dengan bahan aktif ini masuk kedalam kelas 3 mendapat label berwarna biru tua dengan arti cukup berbahaya.

Heksakonazo merupakan fungisida yang memiliki spektrum yang luas. Bahan aktif ini termasuk Monosite inhibitor yaitu fungisida ini akan bekerja dengan cara menghambat salah satu sistem metabolisme jamur cendawan penyebab penyakit.

Untuk dipasaran biasanya ada dua bentuk fisik fungisida dengan bahan aktif ini yaitu berupa pekatan SC (Suspension Concentrate) dan WG (Werrable powder). Pekatan SC yakni berbentuk cairan yang jika dicampurkan dengan air akan membentuk pekatan suspensi sedangkan WG yakni formulasi dengan bentuk tepung.

Cara kerja bahan aktif Heksakonazol

Fungisida dengan bahan aktif heksakonazol bekerja secara sistemik. Apabila setelah disemprotkan pada tanaman, cairan akan terserap oleh tanaman dan didistribusikan ke dalam seluruh jaringan tanaman.

Heksakonazol akan menghambat dimetilasi sterol pada jamur cendawan. Membran sel biosentesis ergosterol akan terhambat sehingga perkembangan jamur akan berhenti.

Dosis dan tata cara penggunaan

Bahan aktif heksakonazol merupakan fungisida yang bersifat sistemik. Jadi untuk pengaplikasian fungisida ini diberikan secara berkala atau berselingan dengan fungisida yang bersifat kontak.

Untuk dosis takaran misal kita mengambil sampel dari merk dagang fungisida Heksa dengan dosis 50 SC :

  1. Padi sawah dengan penyakit busuk upih (Rhizoctania solani) gunakan dengan dosis 2 ml setiap 1 liter air.
  2. Karet dengan penyakit cendawan akar putih (Rigidoporus lignosus) gunakan dengan dosis 2-2,5 ml setiap 1 liter air.
  3. Bawang merah dengan penyakit bercak ungu (Altenaria porri) gunakan dengan dosis 1-2 ml setiap 1 liter air.

Karena sifatnya yang sistemik penyemprotan biasanya dilakukan jika sudah menemukan adanya gejala penyakit pada tanaman. Hal ini dilakukan karena fungisida sistemik akan menimbulkan resistensi pada jamur cendawan jika diaplikasikan terlalu sering dan terlalu berlebihan.

Kelebihan fungisida berbahan aktif Heksakonazol

  1. Fungisida dengan kinerja sistemik yang akan terserap oleh tanaman.
  2. Memiliki spektrum yang luas.
  3. Pada beberapa kasus tanaman akan merangsang dan mempercepat pertumbuhan tanaman.

Jenis-jenis penyakit yang bisa dikendalikan

  • Busuk Upih (Rhizoctania solanipada tanaman padi sawah.
  • Bercak Ungu (Alternaria porripada tanaman bawang merah.
  • Bercak Daun (Cercospora capsicipada tanaman cabai.
  • Antraknosa (Collectrichum capsicipada tanaman cabai.
  • Hawar Daun (Helminthosporium sppada tanaman jagung.
  • Pembuluh Kayu VSD (Oncobasidium theobromaepada tanaman Kakao.
  • Cendawan Akar Putih (Rigidoporus lignosuspada tanaman karet.

Beberapa merk dagang fungisida berbahan aktif Heksakonazol

Berikut beberapa merk dagang fungisida dengan bahan aktif Heksakonazol yang ada di pasaran :

  • Anmi 100 SC (PT Advansia Indotani).
  • Anvil 50 SC (PT Syngenta Indonesia).
  • Danvil 50 SC (PT Dalzon Chemicals Indonesia).
  • Dkaztrozol Plus 250 SC (PT Excel Meg Indo).
  • E-Azoking 400 SC (PT Essence Agro Chemical).
  • Fastgopaz 50 SC (PT Bahtera Boniaga Lestari).
  • Heko 50 SC (PT Sinamyang Indonesia).
  • Heksa 50 SC (PT Bina Guna Kimia).
  • Hexagro 50 SC (PT Royal Agro Indonesia).
  • Hexaconazole 95 TC (PT Dalzon Chemicals Indonesia).
  • Hexagold 75 WP (PT Ace Bio Care).
  • Kontaf 50 SC (PT Excel Meg Indo).
  • Kontaf Plus 250 SC (PT Excel Meg Indo).
  • Nazole 50 SC (PT Catur Agrodaya Mandiri).
  • Sagri-Guard 8/54 WP (PT Satya Agro Indonesia).
  • Sitara 80 WP (CV. Graha Agritech Prima).
  • Unizole 375 SC (PT Rainbow Agrosciences).
  • Vilan 50 SC (PT Geka Mitra Niaga).

Demikian penjelasan mengenai fungisida berbahan aktif Difenokonazol. Bijak-bijaklah dalam penggunaan obat-obatan kimia, disamping agar tanaman tidak mengalami overdosis tetapi juga untuk menjaga alam agar tidak terlalu terkena dampaknya. Semoga bisa membantu bagi petani yang baru belajar dan menambah informasi bagi petani yang sudah berpengalaman. Salam petani….

Asefat, Bahan Aktif Insektisida Sistemik Racun Kontak Dan Lambung

0
Asefat, Bahan Aktif Insektisida Sistemik Racun Kontak Dan Lambung

Bisatani.com, Asefat - Sekarang petani harus lebih jeli dan paham mengenai jenis-jenis pestisida dan juga hama serta penyakit yang menyerang tanaman. Banyak sekali jenis-jenis pestisida yang beredar dipasaran. Oleh karena itu seorang petani harus paham betul akan penggunaan pestisida sesuai dengan hama yang menyerang tanaman.

Jika petani salah dalam memilih pestisida, bukan hanya hama saja yang akhirnya tidak bisa teratasi tetapi juga hanya buang-buang obat saja. Misalnya untuk mengendalikan hama ulat bisa menggunakan pestisida atau insektisida dengan bahan aktif Asefat, Metomil, Klorpirifos, Sipermetrin dll.

Asefat merupakan salah satu bahan aktif insektisida yang sering digunakan oleh para petani. Banyak sekali merk dagang dengan bahan aktif Asefat yang ada dipasaran. Untuk mengetahui tentang bahan aktif ini tetap lanjutkan menyimak artikel ini.

Apa itu bahan aktif Asefat ?

Asefat adalah salah satu bahan aktif insektisida yang bersifat sistemik. Asefat juga memiliki spektrum yang luas. Bahan aktif ini bekerja dengan cara mengambat enzim asetilkolinesterase pada serangga.

Asefat pertama kali diperkenalkan pada tahun 1972 dan masuk golongan pestisida organofosfat dengan kode 1B. Insektisida dalam golongan ini dibuat dari molekul organik yang ditambah dengan fosfat.

Bentuk dari insektisida dengan bahan aktif ini ada yang berupa pekatan SC (Suspension Concentrate), pekatan EC (Emulsifable Concentrate) dan GR (Granule). Insektisida dengan bahan aktif Asefat biasa digunakan untuk mengendalikan hamaulat grayak, kutu daun, ulat kantong, ulat krop.

Cara kerja bahan aktif Asefat

Insektisida dengan bahan aktif asefat bekerja secara sistemik dengan racun kontak dan juga racun lambung. Bahan aktif ini setelah disemprotkan akan terserap pada jaringan tanaman. Ketika ada hama yang memakan salah satu bagian tanaman maka akan mati.

Asefat bekerja dengan menghambat enzim asetilkolinesterase. Efeknya kemudian akan membuat sistem sistem impuls saraf ke sel-sel otot pada serangga menjadi terganggu. Lama-lama otot menjadi kejang dan diikuti dengan kelumpuhan secara paralisis. Hama akan mengalami kejang-kejang kemudian mati.

Dosis dan tata cara penggunaan

Asefat, Bahan Aktif Insektisida Sistemik Racun Kontak Dan Lambung

Untuk dosis penggunaan insektisida berbahan aktif asefat menyesuaikan dengan umur dan serangan hama. Untuk takarannya kita mencoba dengan produk Orthen dengan dosis asefat 75 SP.

  1. Tembakau dengan hama Ulat grayak (Spodoptera litura), campurkan 0,75 gram setiap 1 liter air.
  2. Tomat dengan hama Kutu Daun (Myztus persicae), campurkan 2 gram setiap 1 liter air.

Ada beberapa cara dalam pengaplikasian insektisida dengan bahan aktif ini. Ada yang dengan cara di semprotkan ada juga yang dengan cara ditaburkan.

Ingat, selalu bijaklah dalam memberikan dosis obat agar tidak berdampak parah pada lingkungan.

Kelebihan insketisida berbahan aktif Asefat

  1. Insektisida yang memiliki spektrum luas.
  2. Akan terserap pada jaringan tanaman.
  3. Bertahan lebih lama pada tanaman sehingga penyemprotan bisa dilakukan dengan interval yang lebih lama.

Jenis-jenis hama yang bisa dikendalikan

Asefat, Bahan Aktif Insektisida Sistemik Racun Kontak Dan Lambung

Berikut jenis-jenis hama yang bisa dikendalikan dengan insektisida dengan bahan aktif asefat :

  • Ulat Kantong (Metisa plana)

Ulat kantong merupakan salah satu hama pada tanaman. Hama ini biasanya memakan bagian atas daun, meninggalkan bekas gigitan yang mengering dan berlubang pada daun. Daun yang mengering tersebut akan digunakan sebagain bahan kantong bagi ulat tersebut.

Daun yang terserang hama ulat kantong akan mejadi kering karena cairan yang dikeluarkan ulat saat memakan daun. Pada kondisi yang parah tanaman yang terserang hampir kehilangan 100 % daunnya.

Gejala awal yang ditimbulkan jika terserang hama ini yaitu tajuk tanaman menjadi kering seperti terbakar serta tanaman kehilangan daun mencapai 46,6%. Hama ini menyerang tanaman pada umur berapapun tetapi cenderung lebih berbahaya jika menyerang tanaman yang berumur 8 tahun.

Ulat kantong menyerang dari bagian tengah daun sehingga daun berlubang, meninggalkan bercak-bercak hangus karena banyak bagian daun yang mengering. Hama ini memakan daun dan cepat berpindah-pindah pada daun yang lain.

  • Ulat Grayak (Spodoptera litura)

Ulat grayak ini tidak berbulu dan oleh petani kadang disebut ula tentara karena serangannya yang bergerombol. Hama ini biasanya menyerang pada malam hari dan bersembunyi dibawah tanaman, dalam tanah atau bahkan mulsa jika disiang hari.

Gejala serangan terlihat jika daun menjadi berlubang. Jika dibiarkan lama-lama hanya tertinggal tulang daun saja. Pada serangan parah, ulat ini akan memakan semua bagian daun sehingga menyebabkan tanaman gundul (daun habis dimakan).

  • Kutu Daun (Myzus persicae)

Kutu daun merupakan jenis hama serangga yang berwujud kecil. Hama ini biasanya menyerang secara berkelompok. Ada kutu daun yang berwarna hijau dan hitam. Hama ini menyerang dengan cara menghisap getah atau cairan pada tanaman.

Gejala awal pada serangan akan menyebabkan kerusakan pada daun seperti mengkerut dan pertumbuhan pucuk daun menjadi terhambat. Bukan hanya itu, hama ini juga menjadi vektor pambawa virus kerdil pada tanaman.

  • Ulat Daun (Plutella xylostela)

Ulat daun merupakan hama yang biasa menyerang pada tanaman kubis. Hama ini juga biasa disebut dengan ulat krop. Biasanya larva yang masih muda akan menggorok daun kubis ±3 hari.

Jika terjadi serangan yang berat, larva ini akan memakan semua bagian daun kecuali tulang daun saja. Biasanya serangan berat terjadi pada musim kemarau. Hama ini menyerang mulai awal pembentukan krop atau fase terbentuknya krop pada tanaman kubis.

Beberapa merk dagang insektisida berbahan aktif Asefat

Berikut beberapa contoh merk dagang insektisida dengan bahan aktif asefat yang ada dipasaran :

  1. Amcothene 75 SP (PT. Adil Makmur Fajar).
  2. Counter 50/1,8 SP (PT. UPL Indonesia).
  3. Joker 75 SP (PT. Excel Meg Indo).
  4. Orthene 75 SP (PT. Ondagro).
  5. Phosthene 97 WG (PT. Catur Agrodaya Mandiri).
  6. Starcide 400 EC (PT. Catur Manunggal Jaya Abadi).
  7. Starthene 75 WG (PT. UPL Indonesia).
  8. Ace-one 75 SP (PT. SInar General Industries).
  9. Achepate 97 TC (PT. Dalzon Chemicals Indonesia).
  10. Vampyr 700 EC (CV. Golden Farm Indonesia).

Demikian penjelasan mengenai insektisida berbahan aktif asefat. Semoga informasi ini bisa membantu untuk petani yang baru belajar maupun petani yang sudah pengalaman untuk menambah wawasan.