Home Blog Page 2

Penyakit Embun Bulu : Penyakit yang disebabkan Jamur Peronospora

0
Penyakit Embun Bulu : Penyakit yang disebabkan Jamur Peronospora

Bisatani.com, Embun bulu - Di musim hujan seperti saat ini pertumbuhan penyakit yang dapat menyerang tanaman menjadi lebih cepat. Apalagi ditambah dengan jenis jamur (cendawan) yang beraneka ragam. Hal tersebut akan membuat jenis serangan penyakit pada tanaman menjadi bermacam -macam.

Cendawan dapat menyerang dan menginfeksi tanaman dengan cepat. Dampak yang ditimbulkan dari serangan jamur dapat dibilang cukup serius. Karena apabila tidak ditangani dengan tepat akan membuat kerugian bagi pertanian itu sendiri.

Biasanya perkembangan jamur akan lebih cepat pada lingkungan yang lembab, terutama pada musim hujan. Salah satu penyakit yang dapat menyerang tanaman yaitu penyakit embun bulu. Nah, pada artikel kali ini tim bisatani akan berbagi informasi mengenai penyakit embun bulu.

Untuk mengetahui informasi secara lebih lengkap mengenai penyakit tersebut dapat langsung simak penjelasannya dibawah ini.

Apa Itu Penyakit Embun Bulu

Penyakit Embun Bulu : Penyakit yang disebabkan Jamur Peronospora

Pentakit Embun bulu (Downy mildew) merupakan jenis penyakit yang dapat menyerang atau menginfeksi berbagai jenis tanaman. Pada saat ini penyakit tersebut dapat ditemukan hampir diseluruh dunia. Yang mana dapat ditemukan mulai dari Amerika latin, Eropa, Asia timur, Asia selatan dan Asia tenggara dan termasuk indonesia.

Di Indonesia sendiri serangan penyakit ini dapat mengakibatkan turunya produksi hasil pertanian hingga 15 %. Ciri khas dari penyakit ini yaitu akan membuat bercak daun yang ditumbuhi jamur dengan membentuk bulu bulu halus.

Walaupun serangan jamur tersebut tidak separah penyakit karat yang mencapai 50 % akan tetapi tetap harus tetap dikendalikan. Kerana dapat menurunkan kualitas yang berakibat menjadi tidak laku untuk dijual.

Penyebab Penyakit Embun Bulu

Penyakit yang satu ini disebabkan oleh cendawan (jamur) peronospora dan dapat menyerang berbagai tanaman. Seperti tanaman bawang merah, kembang kol, bawang merah, bawang putih, kacang kacangan, dan juga tamaman hias. Biasanya penyebab penyakit embun bulu pada setiap tanaman mempunyai jenis jamur yang berbeda.

Serangan jamur ini akan meningkat apabila telah memasuki musim hujan. Apabila curah hujan tinggi dan suhu lingkungan antara 15 - 23 º C akan memperparah serangan jamur ini. Pada suhu tersebut jamur dapat beradaptasi dengan baik pada tanaman inangnya. Jamur akan dengan mudah menyebar dengan bantuan angin dan percikan air hujan

Pada awalnya spora dari jamur akan berkecambah dan membuat struktur. Kemudian akan masuk ke dalam tanaman melalui pori pori daun bagian bawah. Setelah itu akan menyebar keseluruh jaringan dan akan membentuk lapisan jamur (bulu) di luar jaringan.

Gejala & Dampak Serangan

 

Penyakit Embun Bulu : Penyakit yang disebabkan Jamur PeronosporaPada umunya serangan terjadi pada daun muda dan akan muncul bintik-bintik kekungingan pada permukaan tanaman. Seiring berjalannya waktu bintik bintik tersebut akan membesar dan membentuk lingkaran.

Bintik-bintik tersebut dibatasi oleh pembuluh yang mana bagian tengahnya akan berubah warna menjadi coklat. Setelah bebearpa hari akan muncul lapisan bulu tebal berwarna abu-abu.

Akibat serangan tersebut akan membuat tanaman menjadi kekurangan unsur hara dan menyebabkan tehambatnya pertumbuhan. Secara tidak langsung akan berpengaruh juga terhadap buah dan bagian yang lain.

Selain itu serangan penyakit embun bulu dapat meyebabkan daun menjadi rontok, tanaman menjadi kerdil, hingga kematian pada tunas. Yang mana hal tersebut akan berkaibat menurunnnya kuantitas hasil produksi.

Jenis tanaman yang dapat terserang

Penyakit Embun Bulu : Penyakit yang disebabkan Jamur Peronospora

Penyakit embun bulu dapat menyerang bebagai jenis tanaman mulai dari buah-buahan, sayuran , hingga kacang-kacangan. Berikut ini adalah beberapa contoh tanaman yang dapat terserang penyakit embun bulu seperti :

1. Bawang merah

Serangan penyakit embun bulu pada tanaman bawang merah biasanya terjadi saat kondisi lembab, berkabut dan curah hujan tinggi. Penyakit pada tanaman bawang ini disebabkan oleh cendawan Peronospora destructor.

Gelaja serangan ditandai dengan munculnya spora yang banyak dan membentuk bulu bulu halus berwarna ungu. Yang mana spora tersebut dapat menutupi daun bagian luar maupun umbi dan batang.

Apabila serangan terjadi pada awal pertumbuhan tanaman bawang merah tetap dapat bertahan, akan tetapi pertumbuhannya terganggu. Bercak infeksi yang terjadi pada daun akan menyebar keseluruh lapisan umbi. Akibatnya umbi akan berubah menjadi berwarna cokelat.

Pada tingkat serangan yang lebih lanjut, umbi bawang merah menjadi busuk dan akan dijumpai anyaman miselia yang berwarna hitam.

2. Semangka

Pada tanaman semangka jenis penyakit embun bulu disebabkan oleh cendawan pseudoperonospora cubebnsis. Ketika memasuki musim hujan dengan kondisi yang lembab penyakit ini akan lebih cepat menyebar.

Gejala awal serangan penyakit dapat di lihat dengan munculnya bintik pada bagian atas daun. Pada tingkat serangan yang lebih lajut daun akan berubah menjadi cokelat kemudian akan gugur.

Serangan tersebut dapat membuat petani mengalami kerugian, pasalnya produktivitas tanaman menjadi berkurang.

3. Kedelai

Penyakit embun bulu pada tanaman dapat terjadi karena disebabkan oleh cendawan peronospora manshurica. Penyakit ini telah menyebar keseluruh wilayah yang merupakan sentra penghasil kedelai.

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan munculnya bercak dengan warna kuning dan akan berubah menjadi coklat. Nah, pada permukaan bawah daun akan muncul spora yang menyerupai bulu. Maka dari itu penyakit ini disebut dengan penyakit embun bulu.

Proses penyebaran terjadi karena terbawa angin dan percikan air hujan. Maka dari itu ketika memasuki musim hujan harus melakukan perawatan yang ektra. Agar tanaman tidak terserang penyakit yang satu ini.

Cara Pengendalian

Pengendalian harus dilakukan baik secara preventif dan kuratif. Artinya pengendalian harus mulai dilakukan walaupun belum terjadi serangan penyakit ataupun setalah tanaman terserang. Berikut ini adalah upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah tanaman agar tidak terserang penyakit embun bulu seperti :

  1. Pemilihan benih unggul, yang tahan terhadap penyakit.
  2. Memberikan jarak yang cukup antar tanaman agar kondisi lingkungan tidak menjadi lembab.
  3. Melakukan rotasi tanaman sebagai pemutus rantai penyakit.
  4. Pemupukan yang berimbang.
  5. Melakukan penyiangan terhadap gulma.

Jika telah terjadi serangan bisa dengan menyemprotkan fungisida dengan bahan aktif azoksistrobin. Penyemprotan dilakukan secara menyeluruh pada tanaman agar tidak menyebar ke bagian yang masih sehat.

 

Kutu Kapas - Hama Tanaman Yang Mirip Kumpulan Kapas

0
Kutu Kapas - Hama Tanaman Yang Mirip Kumpulan Kapas

Bisatani.com, Kutu Kapas - Tanaman yang sehat tak pernah luput dari perawatan. Baik perawatan seperti penyiraman air, pemberian pupuk serta pengendalian hama dan penyakit. Serangan hama merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan pada tanaman. Terkadang karena serangan hama bisa menyebabkan tanaman tumbuh dengan lambat, hasil panen menurun bahkan tanaman mati.

Ada banyak sekali hama yang menyerang pada tanaman. Kebanyakan dari hama ini menyerang secara berkelompok. Salah satu hama yang menyerang secara berkelompok adalah jenis hama kutu-kutuan. Kutu putih atau kapas merupakan salah satu hama yang menyerang secara koloni.

Kutu kapas merupakan hama yang sering menyerang hampir disetiap tanaman. Untuk mengetahui apa itu hama kutu kapas, gejala serangan serta cara mengendalikannya, terus simak artikel dari Bisatani.com.

Apa itu Hama Kutu Kapas

Kutu Kapas - Hama Tanaman Yang Mirip Kumpulan Kapas

Kutu kapas atau juga disebut dengan kutu putih merupakan jenis serangga yang berbentuk oval. Hama ini juga tak memiliki sayap. Pada bagian punggung mereka terdapat garis-garis dan diselimuti lapisan berupa lilin tepung tipis. Karena lapisan inilah hama ini disebut juga sebagai kutu kapas.

Hama ini merupakan jenis hama yang bersifat partenogenetik telitoki. Oleh sebab itu keturunan yang dihasilkan oleh hama ini berjenis kelamin betina. Meskipun berjenis kelamin betina hama ini bisa menghasilkan keturunan tanpa adanya proses perkawinan.

Setiap hama yang berjenis kelamin betina dapat menghasilkan telur sekitar 200 hingga 600 butir.

Kutu putih akan berwarna merah muda memasuki fase dewasa. Hama ini akan berbentuk oval pada fase ini. Bukan hanya itu, tubuh mereka juga diselimuti lapisan tepung putih seperti lilin serta mata yang relatif berkembang.

Hama ini akan memasukkan bagian mulut yang berbentuk seperti suntik dan penghisap panjang kedalam jaringan tanaman. Begitulah cara untuk menghisap getah pada tanaman.

Kutu kapas akan bertelur didalam tanah. Setelah menetas, larva muda maupun yang sudah dewasa akan merayap ke tanaman tetangga.

Bukan hanya itu, hama ini dapat menyebar lebih jauh karena terbawa oleh angin. Semut dan burung juga dapat menyebarkan hama ini. Aktifitas maupun kegiatan dikebun pada saat panen dan pemangkasan juga dapat menyebarkan hama ini.

Koloni Kutu Kapas

Lingkungan dengan suhu yang hangat serta cuaca kering sangat mendukung perkembang biakan hama ini.

Jika dirata-rata hama ini mengalami siklus hidup dari telur sampai dewasa sekitar 28 hari.

Kutu kapas atau dalam bahasa latin disebut Phenacoccus manihoti atau Melybug merupakan jenis hama yang bukan berasal dari Indonesia. Hama ini merupakan hama dari kawasan Amerika Selatan.

Ciri-ciri serta Gejala Serangan Hama Kutu Kapas

Kutu kapas atau putih biasanya bersembunyi dibawah permukaan daun. Akan tetapi hama ini terkadang juga berkoloni pada batang, bunga bahkan pada permukaan buah-buahan.

Mereka membutuhkan makanan dengan cara menghisap getah yang ada pada jaringan tanaman. Jika pada daun, daun akan mengkerut dan berwarn kuning. Tanaman juga akan tumbuh secara lambat. Jika pada permukaan buah, kualitas buah akan menurun serta terkadang buah akan jatuh sebelum dipanen.

Bukan hanya itu, hama ini juga menghasilkan cairan seperti madu. Cairan tersebut membuat jaringan pada tanaman menjadi lengket serta mudah terserang bakteri dan jamur. Cairan seperti madu tersebut juga menarik semut untuk berdatangan. Sehingga ada kemungkinan semut tersebut akan membawa kutu kapas dan menyebarkan mereka pada tanaman lain.

Kutu Kapas - Hama Tanaman Yang Mirip Kumpulan Kapas

Cara Pengendalian Hama Kutu Kapas

Untuk mengantisipasi serangan hama agar tidak semakin parah, maka perlu adanya penanganan atau pengendalian sejak dini. Berikut beberapa cara pengendalian hama yang bisa dilakukan :

  1. Tanaman benih yang lebih tahan dari serangan hama dan juga penyakit.
  2. Singkirkan dan musnahkan bagian tanaman maupun tanaman yang terserang hama.
  3. Lakukan sanitasi lahan dari gulma.
  4. Hindari menanam tanaman yang rentan terhadap serangan hama.
  5. Berhati-hati dalam bekerja diladang maupun kebun agar tidak ikut menyebarkan hama.
  6. Kontrolah aktifitas semut pada tanaman dengan memasang pita lengket pada batang dan ranting.

Pengendalian Biologi

Manfaatkan musuh alami hama kutu kapas seperti tawon parasit, lacewing hijau, kumbang kepik, lalat predator serta kupu-kupu predator Spalgius epius.

Tawon parasit Lady bug

Jika terjadi serangan yang ringan bisa juga dengan membuat larutan dari minyak Nimba atau Piretrin. Kemudian semprotkan pada tanaman yang terdapat serangan hama.

Pengendalian Kimiawi

Usahakan lakukan pengamatan serta analisa terlebih dahulu. Apa saja jenis hama yang menyerang. Untuk pengendalian ini biasanya menggunakan insektisida. Untuk mengendalikan hama ini bisa menggunakan insektisida berbahan aktif Abamektin, Imidakloropid, Profenofos dan Diafenteuron.

Selalu bijaklah dalam penggunakan pestisida. Gunakan sesuai dosis yang dianjurkan dengan penerapan yang tidak terlalu berlebihan. Penggunaan yang kurang tepat sasaran bisa menyebabkan pencemaran lingkungan.

Demikian artikel mengenai Kutu Kapas dari Bisatani.com. Semoga bermanfaat, salam petani sukses.

Antraknosa : Penyakit Yang Menyerang Berbagai Tanaman

0
Antraknosa : Penyakit Yang Menyerang Berbagai Tanaman

Bisatani.com, Antraknosa - Indonesia merupakan negara yang mempunyai 2 musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Pada musim kemarau akan membuat keadaan lingkungan menjadi kering. Sebaliknya pada musim penghujan akan membuat lingkungan memiliki kelembaban yang lebih.

Secara tidak langsung hal tersebut dapat mempengaruhi aktivitas pertanian di indonesia. Musim penghujan dan kemarau dapat berperngaruh  terhadap intensitas serangan hama dan penyakit pada tanaman.

Pada musim kemarau serangan hama pada tanaman memiliki intensitas yang lebih besar. Hal itu disebabkan karena hama akan berkembangbiak pada musim kemarau. Sebagian besar hama menyukai tempat yang kering untuk berkembangbiak.

Berbeda apabila sedang musim penghujan, pada musim tersebut serangan penyakit akan menjadi masalah yang lebih serius. Biasanya penyakit pada tanaman disebabkan oleh jamur yang akan lebih cepat berkembang pada lingkungan yang lembab.

Nah, pada artikel kali ini tim bisatani akan membagikan informasi mengenai penyakit  antraknosa. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai jenis penyakit yang satu ini, langsung saja simak penjelasannya dibawah.

Apa itu Antraknosa

Antraknosa : Penyakit Yang Menyerang Berbagai Tanaman

Antraknosa merupakan salah satu jenis penyakit yang dapat menyerang atau menginfeksi tanaman. Kemunculan penyakit ini biasanya ditandai dengan muncuknya bercak-bercak pada daun . Serangan lebih lanjut akan membuat matinya sistem jaringan dari tanaman.

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colletotrichum yang menginfeksi tanaman. Antraknosa juga sering disebut juga dengan nama hawar daun. Proses penyebaran dan infeksi dari pada jamur ini akan lebih parah ketika memasuki musim penghujan. Hal tersebut dikarenakan jamur ini membutuhkan air dalam proses penyebarannya.

Kerusakan tanaman dan kerugian yang diakibatkan dari penyakit ini terbilang serius . Maka dari itu perlu dilakukan upaya pencegahan agar tanaman  menjadi tidak mudah terserang penyakit antraknosa.

Penyebaran dan Gejala

Antraknosa : Penyakit Yang Menyerang Berbagai Tanaman

Colletrotrichum sebagai penyebab antraknosa merupakan jenis jamur yang memiliki lingkup persebaran yang luas, terutama pada wilayah yang mempunyai iklim tropis. Suhu dan kelembaban menjadi faktor utama perkembangan gejala penyakit yang satu ini.

Pada kondisi lingkungan yang lembab terutama pada musim hujan, penyebaran penyebaran antarkanosa menjadi lebih cepat. Hal tersebut dikarenakan proses perkembangbiakan jamur ini memerlukan lingkungan yang lembab.

Suhu optimal yang dibutuhkan dalam proses infeksi pada tanaman berkisar antara 20 - 24ºC pada permukaan yang basah. Semakin basah kondisi permukaan buah akan memperparah serangan penyakit antraknosa.

Secara umum gejala penyakit ini ditandai dengan adanya busuk pada bagian buah. Pembusukan diawali dengan gejala munculnya luka dengan bentuk yang melingkar. Seiring berjalannya waktu luka tersebut akan membesar pada permukaan buah.

Jenis Tanaman dan Spesies

Antraknosa : Penyakit Yang Menyerang Berbagai Tanaman

Colletotricum memiliki beberapa genus yang dapat menginfeksi pada jenis tanaman yang berbeda. Dibawah ini merupakan contoh tanaman yang dapat terserang antraknosa beserta jenis genusnya antara lain, seperti :

  • Tanaman Cabai

Penyakit antraknosa pada tanaman cabai disebabkan oleh spesies cendawan Colletotrichum acutatum, Colletotrichum gleosporioides dan Colletotrichum capsici. Cendawan (jamur) ini akan terbawa oleh biji atau benih yang dapat menyerang tanaman di pembibitan

Jamur ini dapat bertahan pada buah sakit ataupun sisa tanaman yang sebelumnya telah terinfeksi. Yang mana hal tersebut menjadi salah satu sumber penularan penyakit.

Gejala awal serangan penyakit pada cabai ditandai dengan munculnya bintik hitam dengan bentuk yang melingkar. Perkembangan antraknosa akan lebih cepat ketika curah hujan tinggi.

  • Tanaman Tomat

Jenis antraknosa pada tanaman tomat disebakan dari seranga cendawan Colletotrichum coccodes. Jamur ini akan lebih banyak menyerang tanaman tomat yang telah masak ataupun matang.

Gejala serangan penyakit ini pada tomat seperti munculnya bintik-bintik hitam pada permukaan buah dengan bentuk yang melingkar. Dengan berjalannya waktu bintik tersebut akan membesar, dan buah akan beruah warna menjadi cokelat. Setelah itu buah akan membusuk.

Selain menyerang langsung pada buah, ternyata cendawan ini juga dapat menginfeksi daun, batang, dan juga akar tanaman. Kondisi cuaca yang lembab menjadi penyebab penyebaran penyakit ini.

  • Tanaman Mangga dan Pepaya

Penyakit antraknosa pada mangga dan pepaya disebabkan oleh jamur Colletotricum gloeosporioides. Gejala awal dari serangan penyakit ini seperti muncunya bintik-bintik berwarna cokelat. Lama kelamaan bintik bintik akan membesar higga 5 cm dan menjadi luka bulat yang berair dan membengkak.

Dengan kelembaban lingkungan yang tinggi dangat mendukung proses penyebaran infeksi jamur tersebut. Sedangkan cuaca kering dan radiasi matahari dapat menghambat proses pertumbuhannya.

Cara Pengendalian Antraknosa

Dampak yang dapat diakibatkan dari serangan penyakit antrakosa terbilang sangat serius. Jika tidak dikendalikan dengan tepat dapat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.

Maka dari itu pengendalian harus dilakukan dengan tepat agar kerugian yang bisa saja terjadi dapat dihindari. Berikut ini adalah cara yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan dan penyebaran penyakit tersebut, seperti :

  • Pengendalian hayati

Pada pengendalian hayati kita bisa menggunakan biofungisida dengan bahan aktif Bacillus subtilis atau juga bisa menggunakan Bacillus myloliqueafaciens. Pada kondisi cuaca yang tepat biofungisida tersebut dapat bekerja dengan baik.

Selain itu juga bisa dengan melakukan perendaman biji atau buah-buahan dalam air panas, pada suhu 40ºC selama 20 menit. Pada Saat membuang tanaman yang telah terinfeksi usahakan jangan menyentuh tanaman yang sehat.

  • Pengendalian kimia

Pengendalian kimia merupakan pengendalian dengan menggunakan zat kimia, disini bisa menggunakan fungisida. Adapun bahan aktif yang bisa digunakan seperti bahan aktif mankozeb, azoksistrobin, klorotalonil dan tembaga sulfat.

Penyemprotan dilakukan pada saat sebelum muncul serangan sebagai tindakan pencegahan. Inteval penyemrotan cukup 1 kali dalam seminggu. Apabila curah hujan tinggi dan serangan termasuk berat interval diubah menjadi 2 kali dalam seminggu.

Pada perlakuan benih kita bisa menggunakan bahan aktif metalaksil yang diberikan sebelum ditanam saat pembibitan.

 

 

Sundep dan Beluk - Hama Tanaman Padi Fase Vegetatif dan Generatif

0
Sundep dan Beluk - Hama Tanaman Padi Fase Vegetatif dan Generatif

Bisatani.com, Sundep dan Beluk - Tanaman padi merupakan salah satu jenis tanaman penghasil bahan makanan pokok bagi manusia. Padi akan menghasilkan beras yang merupakan sumber makanan pokok terbesar di Asia dan 3 besar di dunia.

Karena besarnya kebutuhan akan makanan pokok tersebut, banyak petani yang mencoba untuk membudidayakan tanaman tersebut. Keberhasilan dari budidaya tanaman padi juga tak lepas dari cara perawatan tanaman serta pengendalian dari serangan hama dan juga penyakit.

Ada banyak sekali jenis hama dan penyakit yang dapat menyerang tanaman padi. Sundep dan Beluk merupakan salah satu jenis hama yang menyerang tanaman padi.

Untuk mengetahui apa itu hama Sundep dan Beluk, gejala serangan hama serta cara pengendalian hama tersebut terus simak artikel berikut.

Apa itu Hama Sundep dan Beluk?

Sundep dan Beluk - Hama Tanaman Padi Fase Vegetatif dan Generatif

Sundep dan Beluk merupakan jenis hama yang menyerang pada sejak padi masih dipersemaian sampai tanaman padi membentuk malai. Hama ini juga sering disebut hama penggerek batang padi.

Penggerek batang merupakan salah satu jenis hama pengganggu utama pada tanaman padi. Aktifitas hama ini dipengaruhi oleh lingkungan baik dari kelembapan udara, suhu, angin serta cahaya.

Tahukah kamu jika Sundep dan Beluk ini merupakan satu jenis hama tetapi dibedakan dari fase serangan hama.

  1. Sundep biasanya menyerang tanaman padi pada fase vegetatif. Dalam bentuk larva hama ini akan memotong bagian tengah anakan padi. Pucuk anakan padi akan layu, kering lalu mati.
  2. Beluk menyerang tanaman padi pada fase generatif. Pada fase generatif biasanya padi mulai membentuk malai. Jika terserang hama maka akan mengakibatkan bulir pada padi menjadi hampa karena proses pengisian padi yang tidak sempurna. Hal ini disebabkan karena pembuluh batang pada tanaman padi telah rusak.

Jenis-jenis Hama Sundep dan Beluk

Ternyata di Indonesi ada beberapa jenis sundep atau beluk yang menyerang pada tanaman padi. Ada 4 jenis Sundep atau penggerek batang padi yang biasanya menyerang tanaman padi. Berikut beberapa jenis hama penggerek batang (sundep dan beluk) pada tanaman padi :

  • Penggerek Batang Padi Kuning (Scirpophaga incertulas)

Imago akan meletakkan telur sebanyak 50 sampai 150 butir yang diletakan secara berkelompok. Telur tersebut ditutupi rambut halus yang berwarna cokelat kekuningan. Imago akan meletakkan telur di malam hari yaitu kisaran pukul 19.00-22.00, kurang lebih selama 3-5 malam sejak malam pertama. Satu imago betina bisa mengahsilkan 100 hingga 600 butir telur. Lama fase telur yaitu 6 sampai 7 hari.

Larva yang menetas akan berwarna putih kekuningan atau kehijauan. Panjang dari larva bisa mencapai 25 mm. Lamanya stadium larva yaitu 28 hingga 35 hari yang akan terbagi dalam 5-7 instar.

Memasuki fase pupa, larva kemudian akan membentuk kokon berupa selaput benang yang berwarna putih. Panjang pupa dapat mencapi 12 hingga 15 mm. Lamanya stadium pupa bisa mencapai 6 hingga 23 hari.

Imago atau ngengat akan keluar dari dalam pupa. Ngengat jantan memiliki ciri-ciri sayap depan yang berbintik gelap sedangkan untuk betina berwarna kuning. Bagian sayap depan juga memiliki bintik berwarna hitam. Ngengat betina memiliki tubuh yang lebih panjang daripada ngengat jantan yaitu 17 mm. Untuk ngengat jantan hanya memiliki panjang mencapai 14 mm.

Ngengat dapat terbang sejauh 6 hingga 10 km. Pada fase imago atau ngengat, hama ini bisa bertahan hidup 5 sampai 10 hari.

  • Penggerek Batang Padi Putih (Scirpophaga innotata)

Imago akan meletakkan telur sebanyak 170 hingga 260 butir dalam satu kelompok. Biasanya telur akan diletakkan di permukaan atas daun atau pada bagian pelepah padi. Telur berwarna cokelat kekuningan dan tertutup rambut halus. Stadium telur berlangsung selama 4 hingga 9 hari.

Larva pada penggerak padi putih hampir sama dengan penggerek batang padi kuning. Panjang maksimal larva bisa mencapai 21 mm. Lamanya stadium larva bisa mencapai 19-31 hari. Jika mengalami diapause bisa berlangsung hingga 3 bulan.

Stadium pupa dari penggerek putih bisa mencapai 6-12 hari. Memasuki fase imago, akan muncul ngengat dengan warna putih dari dalam pupa. Panjang ngengat betina bisa mencapai 13 mm sedangkan untuk jantan bisa mencapai 11 mm. Ngengat juga sangat tertarik dengan cahaya.

  • Penggerek Batang Padi Bergaris (Chilo suppressalis)

Imago akan meletakan telur sebanyak 20-150 dalam satu kelompok. Biasanya telur akan diletakkan pada permukaan bawah daun di bagian pelepah atau pangkal. Bentuk telur seperti sisik dengan warna putih yang tertutup rambut. Lama stadium telur bisa mencapai 4-7 hari.

Larva yang keluar dari telur berwarna abu-abu dengan kepala cokelat. Terdapat 5 garis panjang yang berwarna cokelat di bagian tubuhnya. Panjang dari larva bisa mencapai 26 mm. Lamanya stadium larva bisa mencapai 33 hari.

Pupa dari penggerek batang padi bergaris berwarna cokelat tua dengan lama stadium mencapai 6 hari. Ngengat yang keluar dari dalam pupa memiliki kepala yang berwarna cokelat muda. Bagian sayap depan berwarna cokelat tua dengan vena sayap yang tampak jelas. Panjang ngengat bisa mencapai 1,3 mm.

  • Penggerek Batang Padi Merah Jambu (Sesamia inferens)

Imago atau ngengat akan meletakan telur secara berbaris seperti manik-manik. Biasanya telur akan diletakan diantara pelepah daun pada batang padi. Ada sekitar 30-100 butir telur dalam satu kelompok yang diletakan 2-3 baris. Telur tidak tertutup oleh sisik dan stadium bisa mencapai sekitar 6 hari.

Larva dari penggerek batang padi merah jambu memiliki kepala berwarna merah jambu dengan panjang maksimal 35 mm. Lamanya stadium larva sekitar 28-56 hari.

Pupa dari hama ini berwarna cokelat tua dengan panjang 18 mm. Larva biasanya membentuk pupa di bagian pelepah atau batang tanaman. Lama stadium pupa sekitar 8-11 hari.

Imago atau ngengat yang keluar dari dalam pupa berwarna cokelat. Bagian depan sayap mempunyai garis yang memanjang yang berwarna cokelat tua. Bagian belakang sayap berwarna putih. Panjang dari ngengat bisa mencapai 14-17 mm. Ngengat dari jenis hama ini ternyata kurang tertarik dengan cahaya.

Cara Pengendalian Hama Sundep dan Beluk

Ada beberapa cara pengendalian serangan hama Sundep dan Beluk pada tanaman padi:

  • Kultur Jaringan

  1. Lakukan penanaman secara serentak agar memutus sumber makanan bagi hama.
  2. Tanamlah padi yang lebih tahan serangan hama dan penyakit.
  3. Lakukan penanaman secara bergiliran dengan tanaman bukan padi atau tanaman inang hama.
  4. Atur waktu penanaman.
  • Fisik dan Mekanik

  1. Lakukan penyabitan tanaman padi serendah mungkin sampai permukaan tanah ketika memanen padi maupun disingkal. Genanglah sawah setinggi 10 cm agar pangkal jerami maupun jerami membusuk sehingga pupa dan larva mati.
  2. Ambil dan kumpulkan telur hama yang ada dipersemaian.
  3. Pasang perangkap ngengat berupa lampu jebakan.
  • Hayati atau Biologi

Tawon parasit

Memanfaatkan tawon parasitoid Parastheresia claripalpis dan Eriborus sinicus sebagai musuh alami hama penggerek batang padi (Sundep dan Beluk). Ada juga beberapa spesies laba-laba sebagai predator alami hama ini.

  • Kimiawi

Pengendalian kimiawi biasanya menggunakan insektisida. Adapun bahan aktif insektisida yang bisa digunakan adalah yang berbahan aktif Karbofuran, Fipronil, Diazinon, Abamektin, Klorantraniliprol, Bisultap, Teametoksam dan Imidakloropid.

Selalu bijaklah dalam penggendalian secara kimiawi. Lakukan pengendalian secara kimiawi dengan perlakuan hayati agar predator alami juga tidak ikut terdampak. Gunakanlah dosis yang dianjurkan sesuai dengan kemasan yang tertera.

Semoga informasi mengenai hama Sundep dan Beluk dari Bisatani.com selalu bermanfaat untuk para pembaca. Salam petani sukses.

Kumbang : Hama Bersayap Pada Berbagai Jenis Tanaman

0
Kumbang : Hama Bersayap Pada Berbagai Jenis Tanaman

Bisatani, Kumbang - Serangga merupakan salah satu hewan yang sangat banyak jenisnya. Pada saat ini terdapat lebih dari 1.000.000 spesies dari serangga yang sudah diketahui. Bahkan jumlah spesies serangga mencapai 6.000.000 sampai dengan 10.000.000 spesies. Jumlah tersebut mewakili sebanyak 90 % bentuk kehidupan hewan yang ada di bumi.

Tingginya jumlah serangga tersebut dikarenakan serangga merupakan hewan yang dapat hidup hampir pada semua habitat lingkungan. Selain itu serangga juga memiliki kemampuan adapatasi yang tinggi.

Pada kelas serangga (insecta) dibagi menjadi 29 sub ordo, salah satunya adalah Coleoptera (Kumbang). Nah, pada artikel kali ini tim bisatani berkesempatan untuk membahas salah satu spesies dari serangga yaitu kumbang. Yang mana hewan tersebut juga dapat berpotensi menjadi hama pada berbagai jenis tanaman baik tanaman sayuran hingga tanaman perkebunan.

Untuk mengetahui informasi secara lebih lengkap mengenai kumbang dapat langsung saja simak penjelasannya dibawah ini.

Apa itu Kumbang

Kumbang (Coleoptera) merupakan salah spesies serangga yang membentuk ordo coleoptera yang berarti sayap berselubung. Hal itu dikarenakan hampir semua jenis kumbang memiliki dua pasang sayap. Sayap kumbang yang paling luar disebut dengan elytra.

Karakterisitik sayap bagian luar memiliki fisik yang keras dan tebal. Sayap bagian luar ini berfungsi untuk melindungi sayap yang ada dibawanya dan melindungi tubuh bagian bawah sayap.

Ordo coleoptera merupakan ordo dengan jumlah spesies terbanyak jika dibandingkan dengan jenis ordo yang lain. Ordo ini meliputi hampir 25% dari semua jenis hewan yang telah diketahui. Sebanyak 40% spesies serangga adalah kumbang yang mencapai angka 400.000 spesies ditambah lagi dengan ditemukannya spesies baru.

Habitat

Kumbang : Hama Bersayap Pada Berbagai Jenis Tanaman

Kumbang memiliki habitat persebaran yang sangat luas. Serangga ini dapat dengan mudah ditemukan hampir semua habitat besar kecuali lautan dan daerah kutub.

Dengan jumlah spesies yang banyak tersebut memungkinkanterjadi perbedaan dalam perilakunya. Hal tersebut sesuai dengan jenis spesies dan lingkungan tempat tinggalnya.

Dengan spesies yang bebeda tersebut membuat jenis makanan seangga ini juga berbeda. Ada jenis kumbang yang memakan sisa-sisa bangkai, memakan jamur, dan memakan jenis tanaman yang menghasilkan bunga dan buah.

Beberapa jenis kumbang dapat berperan sebagai predator dan pengendali dari hama tanaman. Seperti kumbang famili coccinellidae yang merupakan predator dari hama aphid, thrips dan serangga penghisap pada tanaman.

Sebaliknya, beberapa spesies kumbang juga dapat berpotensi menjadi hama tanaman. Kumbang menjadi hama pada tanaman sayuran dan buah-buahan hingga tanaman perkebunan seperti kelapa sawit.

Jenis dan Dampak Serangan

Kumbang : Hama Bersayap Pada Berbagai Jenis Tanaman

Beberapa jenis kumbang dapat dikategorikan sebagai hama karena dapat menyebabkan kerusakan. Kerusakan tanaman yang diakibatkan hama tersebut bisanya terjadi pada fase menjadi larva. kerusakan yang diakibatkan juga terbilang cukup serius.

Berikut ini adalah beberapa contoh jenis kumbang yang berpotensi menjadi hama pada tanaman, seperti :

  • Kumbang pemakan daun (kepik)

Sesuai dengan namanya, kumbang jenis ini baik pada fase larva maupun yang sudah dewasa merusak tanaman dengan memakan daun. Hal tersebut akan mengakibatkan daun mengalami kerusakan yang cukup serius.

Ciri ciri tanaman yang terserang hama ini dengan munculnya bekas gigitan pada jaringan hijau diantara pembuluh daun. Serangan tersebut akan membuat pertumbuhan tanaman menjadi terhambat.

Hama ini akan menyebabkan kerontokan pada daun yang terbilang parah. Dengan begitu akan membuat kemampuan produksi tanaman menjadi berkurang. Kumbang pemakan daun banyak ditemukan pada tanaman terong dan merupkan hama yang paling berbahaya.

  • Kumbang kedelai (Phaedonia inclusa stall)

Merupakan salah satu jenis hama daun dan polong muda pada tanaman kedelai. Dampak serangan yang diakibatkan hama ini terbilang cukup serius karena dapat menimbulkan kerugian yang terbilang besar.

Serangan yang diakibatkan dari hama ini dapat mencapai 80% apabila tidak dilakukan pengendalian yang tepat. Biasanya ledakan serangan hama ini terjadi pada musim kemarau. Hal tersebut karena kumbang yang satu ini akan berkembangbiak pada musim kemarau.

Persebaraan hama ini hampir ada diseluruh provinsi di Indonesia, terutama pada wilayah yang merupakan penghasil kedelai. Serangan paling berat terjadi pada fase larva maupun ketika sudah dewasa.

  •  Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros)

Serangga yang satu ini merupakan jenis kumbang yang merupakan hama utama pada tanaman kelapa sawit. Biasanya hama akan menyerang tanaman dari setelah penanaman hingga kelapa sawit berumur 2,5 tahun.

Dampak yang dapat ditimbulkan dari serangan hama ini akan membuat tertundanya masa reproduksi. Selain itu juga dapat mengakibatkan tanaman yang mati mencapai 25%. Intensitas serangan baru akan menurun apabila tanaman sudah berbuah.

Serangan dari Oryctes Rhinoceros pada perkebunan kelapa yang tidak terkendali akan membuat menurunnya kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Dengan siklus hidup yang terbilang lama akan memperparah serangan hama ini.

Maka dari itu diperlukan upaya pengendalian yang tepat agar terjadinya kerugian yang dapat diakibatkan dari serangan hama ini dapat dicegah.

Cara Pengendalian

Pengendalian hama dapat dilakukan dengan menereapkan beberapa metode pengendalian agar lebih efektif. Dengan pengendalian tersebut diharapkan jumlah serangan hama menjadi terkendali dan serangan tidak sampai menimbulkan kerugian.

Dibawah ini merupakan jenis pengendalian yang dapat diterapkan sebagai upaya untuk meminimalisir serangan hama Celeoptera diantaranya :

  • Pengendalian hayati

Merupakan pengendalian dengan memanfaatkan serangga parasit seperti tawon yang dari keluarga pediobius. Selain itu juga dapat menggunakan biopestisida dengan kandungan bakteri bacillus thuregiensis ataupun jamur Aspergillus spp.

Dapat juga dengan menyemprotkan ekstrak daun tanaman jarak, calostropis procera dan datura innoxia. Dengan memberikan abu pada saat awal tanam juga terbukti dapat mencegah serangan awal hama kumbang daun.

Berbeda pada kumbang tanduk dapat dikendalikan dengan menggunakan jamur Metarizium anispoliae. Dosis yang diberikan cukup dengan 400 gram untuk setiap sarang.

  • Metode kultur teknis

Pengendalian dengan metode yang satu ini dilakukan dengan cara melakukan penanaman secara serempak dalam satu lahan. Metode ini dapat diterapakan pada tanaman kedelai untuk mengendalikan hama kumbang kedelai (Phaedonia inclusa Stall).

  • Pengendalian Kimiawi

Pengendalian yang satu ini dilakukan apabila serangan sudah mencapai ambang batas. Pada pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan menyemprotkan zat kimia dari golongan insektisida. Adapun bahan aktif yang dapat digunakan seperti bahan aktif dimetoat, klorpirifos, fentoat, sipermertin, beta siflutrin ataupun BPMC.

Penggunaan insektisida banyak diterapkan pada saat ini karena pengendalian terbilang cepat. Akan tetapi penggunaan insketisida harus dilakukan dengan bijak, sesuai dengan dosis yang tepat.

Kutu Kebul - Hama Utama Penyerang Tanaman

0
Kutu Kebul - Hama Utama Penyerang Tanaman

.Bisatani.com, Kutu Kebul - Ada beberapa jenis hama yang dapat menyerang lebih dari satu jenis tanaman. Hama tersebut bisa dijumpai hampir disetiap jenis tanaman. Ada yang menyerang secara individu, ada juga yang menyerang secara berkelompok.

Selain menyebabkan kerusakan, hama-hama tersebut juga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Bukan hanya itu tanaman juga akan menurun dari segi kualitas serta kuantitas hasil panennya.

Ulat, uret dan kutu kebul merupakan beberapa jenis hama yang menyerang hampir disetiap jenis tanaman. Misal untuk kutu kebul biasanya menyerang jenis tanaman palawija, sayuran serta buah-buahan.

Untuk mengetahui informasi lebih lengkap mengenai hama kutu kebul, gejala serangan serta cara mengendalikan hama terus ikuti artikel dari Bisatani.com.

Apa itu Hama Kutu Kebul (Bemisia tabaci)?

Kutu Kebul - Hama Utama Penyerang Tanaman

Kutu kebul atau Bemisia tabaci merupakan jenis hama yang hampir menyerang berbagai jenis tanaman. Fase yang paling meresahkan dari hama ini adalah fase imago atau dewasa. Kutu kebul yang telah dewasa berwarna putih serta mempunyai sayap yang jernih. Tubuh mereka ditutupi oleh lapisan lilin yang bertepung putih atau kekuningan.

Ukuran tubuh hama ini kisaran 1 sampai 1,5 mm pada fase imago atau serangga dewasa. Pada fase nimfa tubuh mereka berwarna putih pucat. Bentuk tubuh mereka bulat seperti telur dan pipih. Panjang dari tubuh nimfa kisaran 0,7 mm.

Mereka biasanya sering bersembunyi dibagian bawah permukaan daun. Jika diganggu, akan muncul debu atau awan yang berwarna putih. Hama ini sangat menyukai kondisi lingkungan yang kering dan hangat.

Kutu kebul di bawah daun

Ada kisaran 350 spesies tanaman yang terserang oleh hama Bemisia tabaci. Tanaman bisa mengalami kerusakan secara langsung karena aktivitas makan hama ini. Dampak dari timbulnya cendawan jelaga dari embun madu yang dihasilkan hama ini juga mengganggu pertumbuhan tanaman.

Bukan hanya itu, ternyata kutu kebul (Bemisia tabaci) merupakan vector pembawa salah satu virus patogen pada tanaman.

Siklus Hidup Hama Kutu Kebul

Kutu kebul yaitu serangga dewasa atau imago akan meletakkan telur mereka di bawah permukaan daun. Telur yang mereka hasilkan berwarna kuning terang, bertangkai seperti bentuk kerucut.

Fase telur berlangsung selama kurang lebih 6 hari. Nimfa (serangga muda) yang baru keluar dari dalam telur berwarna putih pucat. Bentuk tubuh mereka seperti telur, bulat tetapi pipih. Pada tahap instar pertama kaki nimfa masih berfungsi. Sedangkan pada tahap kedua dan tiga mereka akan melekat terus pada daun selama masa pertumbuhan.

 

Memasuki tahapan pupa, pupa akan terbentuk di bagian bawah permukaan daun. Setelah itu akan muncul imago dari dalam pupa yang disebut kutu kebul. Lama fase keseluruhan dari telur sampai menjadi imago yaitu rata-rata 21 sampai 24 hari. Hama ini juga mengalami metamorfosis sempurna yakni telur-nimfa-pupa-imago.

Ciri dan Gejala Serangan Hama Kutu Kebul

Kutu kebul merupakan hama yang bersifat polifag yaitu menyerang bermacam-macam jenis tanaman. Hama ini akan menghisap cairan atau getah daun sebagai asupan makanan. Baik nimfa ataupun imago akan menghisap cairan pada daun.

Kumpulan kutu kebul

Ternyata pada saat menghisap cairan daun hama ini juga berperan sebagai vektor virus yang ada pada tanaman. Yup, virus gemini merupakan jenis virus yang dapat ditularkan oleh hama ini.

Kutu kebul yang menghisap cairan dari tanaman yang terjangkit virus akan membawa virus tersebut dalam tubuhnya. Jika kemudian mereka menghisap cairan dari tanaman yang lain yang masih sehat, maka tanaman tersebut akan ikut terjangkit virus.

Virus akan masuk kedalam jaringan tanaman kemudian membelah diri sambil menyerang klorofil pada tanaman. Biasanya gejala yang muncul yaitu pada daun muda atau tunas akan muncul bercak kuning disekitar tulang daun. Lama kelamaan bagian daun yang lain akan ikut menguning, mengkerut dan cekung.

Efek dari virus tersebut akan menyebabkan gangguan fotosintesis pada tanaman sehingga menjadi tidak normal. Daun mengalami klorosis dan menyebabkan pertumbuhan pada tanaman menjadi terhambat. Pada akhirnya tanaman menjadi kerdil dan kurang produktif.

Dampak serangan

Bukan hanya itu, kutu kebul juga menghasilkan embun madu pada daun, batang dan juga buah. Embun madu tersebut akan menjadi medium bagi jamur atau cendawan jelaga untuk tumbuh. Lama kelamaan bagian tersebut akan tampak berwarna hitam sehingga proses fotosintesa tanaman menjadi terganggu.

Cara Pengendalian Serangan Hama Kutu Kebul

Ada beberapa cara dalam pengendalian serangan hama kutu daun :

  • Kultur Jaringan

  1. Lakukan penanaman secara tumpangsari dengan tanaman yang tahan terhadap serangan hama.
  2. Beri pupuk yang berimbang pada tanaman.
  3. Lakukan sanitasi lahan dari gulma serta tanaman yang telah terserang hama.
  • Teknis dan Mekanis

  1. Pasang plastik mulsa hitam perak pada bedengan.
  2. Beri jarak pada setiap tanaman jangan terlalu rapat dan jangan terlalu lebar.
  3. Jika menemukan secara langsung daun yang terdapat telur dan nimfa hama, langsung petik dan buang atau dibakar.
  4. Pasang perangkap berupa perangkap lengket berwarna kuning disekitar lahan.
  • Biologi

Jaga kelestarian musuh alami seperti predator maupun jamur patogen. Tawon parasit Encarsia formosa, serangga bersayap hijau  Chrysoperia carnea serta kumbang Delphatus sp. Ada juga predator lain seperti Kepik, Tungau pemangsa, serangga damsel serta nematoda.

Bisa juga dengan memanfaatkan jamur patogen seperti Isaria furmosorosea, Beauveria bassiana, Verticillium lecanii serta Paecilomyces furmosoroseus.

Disarankan juga dengan membuat insektisda alami dari bahan minyak gula apel, sabun cuci piring, piretrin maupun ekstra biji Nimba.

  • Kimiawi

Untuk pengendalian secara kimia biasanya menggunakan insektisida. Cara ini dilakukan biasanya karena populasi hama sangat meningkat dan perlu penanganan dengan cepat. Untuk mengendalikan hama ini bisa menggunakan insektisida berbahan aktif Abamektin, Lamda silahotrin, Sipermetrin, Spinetoram, Imidakloropid, Tiametoksam, dll.

Selalu bijaklah dalam penggunaan pestisida sehingga tidak akan menimbulkan pencemaran bagi lingkungan serta alam. Terkadang insektisida juga berpengaruh terhadap musuh alami atau predator hama.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk pembaca sekalian. Salam petani sukses….

Cacing Tanah : Hama Sekaligus Hewan yang Memiliki Banyak Manfaat

0

Bisatani.com, Cacing tanah - Berbicara mengenai hama memang seperti tidak ada habisnya. Karena dalam dunia pertanian kehadiran hama sudah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pada umunya hama merupakan semua jenis hewan yang dapat mengganggu kegiatan dalam bertani.

Terkadang binatang tertentu yang kita anggap bukan sebagai hama ternyata dapat berpotensi menjadi hama tanaman. Maka dari itu pentingnya mempelajari atau mencari tahu tentang berbagai jenis hama pada setiap tanaman. Apabila kehadiran hama tidak dapat dikendalikan tentunya akan mengganggu jalannya proses produksi dari pertanian itu sendiri.

Salah satu jenis hewan yang dapat mengganggu tanaman adalah cacing tanah. Cacing tanah yang sebelumnya lebih dikenal sebagai hewan yang dapat menyuburkan tanaman ternyata dapat berpotensi menjadi hama lho. Nah, pada artikel kali ini tim bisatani akan berbagi informasi mengenai hama cacing tanah, hewan yang lebih dikenal karena manfaatnya.

Untuk mengetahui informasi lebih lengkapnya langsung saja simak penjelasannya dibawah ini.

Apa itu Hama Cacing Tanah 

Cacing Tanah : Hama Sekaligus Hewan yang Memiliki Banyak Manfaat

Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) merupakan salah satu hewan yang tidak bertulang belakang (invertebrata). Hewan yang satu ini masuk kedalam filum Annelida dengan ordo Megadrilacea dan subordo Lumbricina. Sesuai dengan namanya cacing jenis ini merupakan jenis cacing yang dapat mudah ditemukan didalam tanah.

Cacing tanah memiliki tubuh dengan bentuk gilig, tidak berangka, didalam tubuh cacing juga memiliki segmen dalam dan segmen luar. Dengan panjang tubuh yang berkisar antara 7,5 - 10 cm dengan tubuh yang berwarna kemerahan.

Pada seekor cacing biasanya memiliki segmen yang berkisar antara 90 - 195 yang pada segmen 27-32 memiliki kitelum. Kitelum sendiri merupakan alat yang digunakan sebagai proses reproduksi. Kitelum baru akan muncul apabila cacing telah dewasa atau sekitar 2 bulan.

Cacing bergerak dengan menggunakan otot disepanjang tubuhnya. Selain itu pada cacing terdapat kelenjar yang menghasilkan lendir yang dapat bermanfaat untuk memudahkan dalam bergerak. Cacing tanah tidak mempunyai mata akan tetapi sangat peka terhadap sentuhan dan getaran.

Cacing bernafas dengan menggunakan kulitnya karena pada cacing tidak mempunyai alat pernafasan khusus. Alasan kenapa kulit cacing selalu basah dan berlendir karena agar memudahkan dalam penyerapan oksigen.

Habitat Cacing Tanah

Cacing Tanah : Hama Sekaligus Hewan yang Memiliki Banyak Manfaat

Cacing jenis ini akan banyak ditemukan didalam tanah. Yang mana termasuk kedalam spesies hewan yang bersifat soliter atau penyendiri. Biasanya hewan ini hidup dengan membuat terowongan-terowongan didalam tanah.

Selain itu, cacing ini juga dapat jumpai pada tumpukan bahan organik seperti tumpukan ranting ataupun kayu yang telah lapuk. Keberadaan hewan ini juga dapat dilihat dengan munculnya gundukan pada permukaan tanah.

Berbeda dengan gundukan dari hama gangsir yang tanahnya lebih kering seperti gula merah halus. Tanah yang membentuk gundukan dari hama cacing lebih lembab dan membentuk gumpalan.

Dampak Pada Tanaman

Keusakan yang diakibatkan dari hama cacing itu lebih karena keadaan tanah yang menjadi terlalu lembab. Jumlah cacing yang banyak pada media tanam akan buat tanah menjadi dingin. Hal tersebut akan berpengaruh pada akar dari tanaman.

Efek yang terjadi biasanya pada tanaman yang masih muda atau tanaman yang baru saja dipindahkan dari semaian. Pada awalnya tanaman akan berubah menjadi kuning dan pertumbuhannya terhambat (kerdil). Jika tidak dilakukan pengendalian yang tepat akan membuat tanaman menjadi mati.

Dengan adanya cacing yang berlebih pada lahan akan membuat akar tanaman tumbuh tidak maksimal. Karena keadaan terlalu lembap dan dingin akan membuat akar kesulitan dalam menyerap nutrisi.

Cara Pengendalian Cacing Tanah

Untuk pengendalian hama juga harus disesuaikan dengan jenis hama yang menyerang. Hal tersebut dimaksudkan agar pegendalian menjadi tepat sasaran dan efektif. Berikut ini adalah beberapa bentuk pengendalian yang dapat diterapkan untuk mengendalikan hama cacing pada tanaman.

  • Pengendalian Hayati

Pada metode pengendalian ini yaitu dengan memanfaatkan predator alami dari pada cacing itu sendiri. Adapun predator dari hama cacing adalah burung. Akan tetapi untuk saat ini jumlah burung dalam ekosistem semakin berkurang sehingga kurang efektif dalam pengendalian hama.

  • Pengendalian Kimia

Metode pengendalian ini yaitu dengan mengunakan zat kimia dari pestisida. Adapun bahan aktif yang biasa digunakan dapat berbentuk sebuk kasar ataupun cairan. Karena perbedaan bentuk tersebut juga berbeda dalam cara aplikasinya.

Untuk yang berbentuk butiran kita bisa menggunakan bahan aktif karbofuran ataupun fipronil. Untuk aplikasi biasanya dilakukan pada saat sebelum tanam. Cukup dengan memberikan satu jumput untuk setiap lubang tanam.

Untuk penggunaan pestisida yang berbentuk cair kita bisa menggunakan bahan aktif dimetoat. Ciri khas bahan aktif ini adalah baunya yang sangat menyengat. Pengaplikasian biasanya dilakukan setelah tanaman ditanam pada lahan dan muncul gejala serangan caciing. Cara aplikasinya bisa dengan dikocor atau disuntikkan pada bawah tanaman.

Manfaat 

Setelah mengetahui dampak dari cacing tanah bagi tanaman sekarang kita lanjut untuk membahas manfaat hewan yang satu ini. Tidak dapat dipungkiri cacing jenis ini memiliki beragam manfaat baik pada pertanian ataupun setelah dibuat olahan.

Kebanyakan orang mengenal atau menggunakan cacing sebagai umpan untuk memancing ikan. Banyak juga orang yang menganggap cacing sebagai indikator tingkat kesuburan lahan. Jika ada cacing bisa dipastikan keadaan tanah tersebut subur. Tetapi perlu di ingat tentunya dengan jumlah yang cukup bukan melebihi ambang batas (over population)

Berikut ini adalah beberapa manfaat cacing tanah diantaranya :

  1. Meningkatkan nutrisi dalam tanah
  2. Memperbaiki tekstur dan struktur tanah
  3. Meningkatkan sistem drainase dalam tanah
  4. Memaksimalkan aerasi lingkungan tanah
  5. Sebagai obat berbagai jenis penyakit tetapi harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu.

Lundi atau Uret, Hama Perusak Akar Tanaman

0
Lundi atau Uret, Hama Perusak Akar Tanaman

Bisatani.com, Lundi atau Uret - Tanaman yang sehat merupakan harapan bagi setiap penenanam. Salah satu ciri-ciri tanaman yang sehat adalah tanaman yang terhindar dari serangan hama dan penyakit. Misal untuk serangan hama, jika dibiarkan saja bisa mempengaruhi hasil panen. Hasil panen tersebut bisa berkurang dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Terkadang pada beberapa kasus, serangan hama bisa menyebabkan gagal panen bahkan menyebabkan tanaman mati. Oleh sebab itu ada baiknya para penghobi tanaman serta petani paham akan setiap gejala serangan hama dan penyakit.

Setiap serangan hama memiliki ciri-ciri gejala yang berbeda tergantung dari jenis hama yang menyerang. Misal untuk serangan hama Thrips dan Kutu daun, ciri-ciri tanaman yang terserang daun akan menjadi keriting dan mengkerut. Sedangkan jika terdapat bekas gigitan pada daun itu tandanya tanaman terserang hama ulat.

Ada juga salah satu gejala serangan hama seperti daun tampak kuning dan tanaman agak layu. Gejala tersebut menandakan jika tanaman terserang hama Lundi atau Uret. Mereka biasanya menyerang pada bagian akar tanaman. Untuk informasi lebih lengkap mengenai hama ini serta cara pengendaliannya terus ikuti artikel Bisatani.com berikut.

Apa itu Hama Lundi atau Uret?

Lundi atau Uret, Hama Perusak Akar Tanaman

Lundi atau Uret merupakan jenis hama yang menyerang akar pada tanaman. Uret merupakan fase larva dari kumbang Cerambycidae atau ScarabaeidaeHama ini memiliki ciri bentuk larva yang berukuran besar, putih, gemuk, badan, kepala berwarna cokelat serta memiliki taring yang besar.

Gigi uret Kaki Uret

Mereka memiliki kaki yang berwarna cokelat di bagian rongga dada. Bentuk dari tubuh larva ini menyerupai huruf C.

Hama uret atau lundi memiliki nama ilmiah Leipiota stigma. Mereka merupakan jenis hama polifag atau memiliki banyak tanaman inang. Fase larva yaitu pada tahap menjadi uret atau lundi merupakan fase yang sangat mengganggu dan merugikan bagi para petani. Pada tahapan imago atau dewasa hama ini dikenal dengan nama ampal atau kumbang tanah.

Siklus Hidup Lundi atau Uret

Uret atau lundi merupakan hama yang mengalami metamorfosis sempurna. Hama ini mengalami empat siklus yaitu telur-larva-pupa-dewasa. Mereka memerlukan waktu hampir satu tahun untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Imago(fase dewasa) yaitu kumbang akan kawin dan kemudian bertelur.

Kumbang dewasa (imago) akan muncul pada awal pertengahan bulan Juni. Kumbang betina akan menarik kumbang jantan dengan zat feromon yang dihasilkan dari tubuhnya. Kedua jenis kumbang tersebut akan berkopulasi. Biasanya hama ini akan bertelur di tumpukan sampah atau sisa-sisa daun.

Fase telur akan berlangsung selama 2 minggu. Larva atau uret akan menetas dari dalam telur. Larva nantinya akan mengalami empat tahapan instar(perkembangan). Setiap perpindahan fase instar akan ditandai dengan pelungsungan atau ganti kulit.

Untuk instar pertama yaitu uret yang baru menetas akan makan dari sisa-sisa akar atau akar yang halus saja. Nah, masuk pada tahapan ke tiga merupakan tahap instar yang paling mengganggu bagi tanaman.

Pada tahap ketiga, uret akan berubah warna menjadi kuning pucat atau putih. Mereka akan menjelajah didalam tanah serta memakan akar yang masih segar. Uret pada fase ini sangat menyukai akar tunggang yang agak tebal. Pada pembibitan tanaman akan terjadi dampak yang buruk. Tanaman akan mendadak rebah bahkan mengering karena akar utama pada tanaman terpotong.

Larva atau uret bisa mencapai panjang maksimum hingga 4 cm. Daya jelajahnya juga menjadi lebih luas yaitu bisa mencapai kedalaman 10 meter dari permukaan tanah.

Pada fase larva hama ini sangat ringkih terhadap paparan sinar matahari. Paparan sinar matahari selama 5 menit akan menyebabkan uret mengkerut, hitam lalu mati.

Uret mati

Pada sekitar bulan Agustus larva akan menjadi pupa. Bulan Agustus ini biasanya memasuki puncak musim kemarau. Imago atau serangga dewasa akan keluar dari dalam pupa di sekitar bulan Oktober atau curah hujan mulai meningkat kembali.

Serangga dewasa hama ini juga biasa dikenal dengan nama kumbang atau ampal. Terkadang setiap daerah juga ada nama khusus untuk hama ini.

Ciri-ciri dan Gejala Serangan Hama Lundi atau Uret

Serangan dari hama pasti menimbulkan ciri-ciri tertentu. Amati terus perkembangan tanaman. Jika ada gejala serangan segera lakukan penanganan agar serangan hama tidak menyebabkan kerugian yang besar.

Untuk gejala serangan hama Uret baik itu fase larva atau uret serta pada fase imago yaitu kumbang. Kumbang dan uret dapat merusak tanaman dengan memakan akar pada tanaman.

Sebelumnya hama tersebut akan mengkonsumsi kompos atau pupuk kandang yang ada disekitar tanaman. Namun jika sudah habis mereka akan beralih memakan akar tanaman. Uret akan merusak akar-akar kecil sehingga akan menyebabkan tanaman layu dan kanopi menjadi menguning.

Jika akar tanaman terus menerus dimakan maka tanaman pada akhirnya akan mati sehingga sangat mudah untuk dicabut. Ada beberapa kasus serangan berbeda pada tanaman umbi. Bukan hanya akarnya saja, tetapi umbi yang dihasilkan oleh tanaman tersebut juga akan dimakan. Beberapa contoh tanaman umbi seperti singkong dan kentang yang biasa diserang hama ini.

Namun, terkadang gejala dari serangan hama ini tidak berdampak langsung. Terkadang dampak serangan akan menimbulkan dampak dalam jangka yang panjang. Umur tanaman tiba-tiba berkurang serta hasil panen dari tanaman juga akan menurun.

Adapula tanaman yang lama-kelamaan menjadi layu, diikuti dengan daun yang menjadi rontok sebelum waktunya. Tanaman akan berubah warna menjadi kekuningan, layu dan mati hampir secara bersamaan.

Cara Pengendalian Serangan Hama

Ada beberapa cara dalam pengendalian hama Uret atau Lundi yang bisa diterapkan. Berikut beberapa cara yang dapat sobat Bisatani.com terapkan :

  • Kultur Teknis

  1. Lakukan rotasi tanaman, jangan menanam tanaman yang menjadi inang hama secara terus menerus.
  2. Sanitasi dan bersihkan lahan dari gulma.
  3. Bajak dan garu lahan sebelum ditanam agar uret dapat terpapar sinar matahari dan diburu pemangsa.
  4. Lakukan perendaman lahan selama 48 jam agar uret didalam tanah bisa mati.
  • Mekanik

Uret dari dalam tanah

Pada saat pengolahan tanah, ambil uret yang ditemukan dengan menggunakan tangan secara langsung. Kemudian musnahkan dengan cara dibakar. Pasang perangkap untuk menangkap imago atau kumbang uret dengan penampung yang berisi air sabun.

  • Biologis

Manfaatkan jamur Metarhizium anisopliae yang bisa diaplikasikan dengan bahan pembawa pupuk kandang.

  • Kimiawi

Untuk pengendalian secara kimiawi bisa menggunakan insektisida berbahan aktif Karbofuran, Dimetoat, Iupenuron, Diazinon dan Fipronil.

Ingat, selalu bijak dalam penggunaan pestisida. Selalu gunakan sesuai dosis yang dianjurkan. Pemakaian bahan kimia yang berlebihan dapan berpengaruh terhadap pencemaran lingkungan.

Sudah tahukan mengenai apa itu hama Uret atau Lundi. Semoga bermanfaat bagi pembaca agar bisa mengendalikan hama tersebut. Salam petani sukses…

Belalang : Hama Bersayap yang Sepenuhnya Tidak Dapat Terbang

0
Belalang : Hama Bersayap yang Sepenuhnya Tidak Dapat Terbang

Bisatani.com, Belalang merupakan salah satu jenis serangga yang berpotensi menjadi hama dalam pertanian. Hal itu terjadi apabila jumlah populasi berada diatas ambang batas.

Belalang dapat ditemukan pada berbagai jenis tanaman baik tanaman pangan, sayuran, hortikultura ataupun tanaman perkebunan. Serangga jenis ini menjadi salah satu momok bagi petani.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah serangga ini pada lingkungan. Seperti Berkurangnya hama pemangsa dan upaya pengendalian yang tidak tepat.

Pada artikel kali ini tim bisatani.com akan memberikan informasi yang telah kami rangkum mengenai hama belalang. Untuk mengetahui informasi lebih lengkapnya langsung saja simak penjelasannya dibawah ini.

Morfologi

Belalang : Hama Bersayap yang Sepenuhnya Tidak Dapat Terbang

Belalang merupakan salah satu jenis serangga pemakan tumbuhan (herbivora) yang masuk kedalam ordo Orthoptera dengan sub ordo Caelifera. Serangga ini memiliki sepasang antena di atas kepalanya. Untuk ukuran antenanya sendiri pasti lebih pendek dari ukuran tubuhnya.

Beberapa jenis serangga ini dapat menghasilkan suara yang biasanya dihasilkan dengan menggosokkan femur dan sayap bagian depan. Femur belakang mempunyai struktur yang kuat, biasanya digunakan untuk melompat.

Pada umumnya serangga ini memiliki sayap, tetapi terkadang sayapnya tidak dapat digunakan untuk terbang. Untuk beraktifitas belalang lebih banyak menggunakan femurnya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Belalang merupakan serangga dengan proses metamorfosis tidak sempurna dan hanya mempunyai tiga tahapan saja. Serangga ini berkembangbiak dengan cara bertelur dan mampu menghasilkan hingga sebanyak 300 butir.

Tahapan telur yang telah menetas disebut dengan nimfa dan hanya mempunyai harapan hidup hanya 50%. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya serangan predator pemangsa. Dengan tubuh yang belum sempurna tersebut membuat nimfa tidak dapat bertahan dari serangan predator.

Habitat Belalang

Belalang : Hama Bersayap yang Sepenuhnya Tidak Dapat Terbang

Serangga jenis ini lebih menyukai lingkungan tempat yang terbuka seperti padang rumput ataupun persawahan. Meskipun ada beberapa jenis spesies yang hidup didalam hutan. Selain itu ada juga yang hidup pada lingkungan tebing, tanah, dan bebatuan yang berlumut.

Dikarenakan banyak jenis yang hidup pada persawahan menjadikan hama ini berpotensi untuk merusak tanaman. Karena pada dasarnya hama ini suka memakan daun dari tanaman.

Dampak Serangan

Belalang biasanya akan lebih banyak menyerang tanaman yang masih muda. Jenis tanaman yang banyak diserang hama ini seperti jagung, padi, gandum, terong, ubi kayu, tomat, kedelai dan lain sebagainya.

Gejala awal tanaman yang telah terserang seperti jaringan daun yang tergores dan hilangnya beberapa helai daun. Hal tersebut terjadi karena serangan nimfa dan belalang yang sudah dewasa.

Akibat hilangnya daun membuat tanaman menjadi terhambat dalam proses fotosintesis. Hal tersebut akan membuat pertumbuhan tanaman baik vegetatif dan generatif menjadi terganggu.

Jika tidak dilakukan pengendalian yang tepat jumlah populasi belalang akan sangat banyak (over population). Yang mana dampak serangan pada tanaman menjadi semakin parah dan dikhawatirkan akan mengakibatkan kerugian.

Jenis Jenis Belalang

Belalang : Hama Bersayap yang Sepenuhnya Tidak Dapat Terbang

Pada saat ini ada bebeapa jenis belalang yang dapat kita jumpai. Berikut ini adalah dua contoh jenis belalang yang juga sebagai hama pada tanaman, diantaranya :

  • Belalang Sawah

Spesies belalang yang satu ini mempunyai ukuran sebesar jari kelingking dengan tubuh berwarna kuning kehijauan yang mengkilap. Pada bagian tubuh atas terdapat tiga garis hitam. Belalang ini dapat dengan mudah ditemukan pada tanaman padi.

Nimfa dan belalang dewasa akan merusak bagian tepi daun dan memakannya atapun memotong jaringan helai daun. Selain itu serangga ini juga sering memakan tunas dan kuantum pada tangkai bunga. Hal tersebut akan berakibat pada putusnya malai padi dan menyebabkan pembentukan bulir putih.

Pada serangan lebih lanjut akan muncul telur pada kulit padi dan ninfa kuning dan cokelat yang memakan dedaunan padi.

  • Belalang kayu (Valanga nigricornis)

Merupakan jenis belalang yang tersebar di Asia Tenggara, kepulauan pasific termasuk indonesia. Jenis Belalang yang satu ini  banyak ditemukan pada tanaman jati. Akan tetapi hama ini juga dapat menyerang tanaman tanaman yang ada disekelilingnya.

Jenis tanaman perkebunan yang dapat terserang hama ini seperti pisang, kopi, kakao, kelapa, mangga, kapuk, kapas, tebu dan singkong. Dengan intensitas serangan yang tinggi dapat membuat pertumbuhan tanaman menjadi terganggu hingga menyebabkan kematian tanaman.

Cara Pengendalian

Untuk menghindari dampak dari serangan hama ini perlu dilakukan upaya pengendalian yang tepat. Dengan pengendalian yang tepat diharapkan jumlah populasi hama menjadi terkendali sehingga tidak terjadi serangan yang dapat menyebakan kerugian.

Berikut ini adalah upaya yang dapat diterapkan sebagai bentuk pengendalian hama belalang seperti :

  1. Pengendalian hayati

Merupakan jenis pengendalian hama dengan memanfaatkan musuh/ presator alami dari belalang itu sendiri. Adapun musuh alami dari pada hama ini seperti tawon, lalat parasit, semut, burung, katak, dan laba-laba.

Selain itu juga bisa menggunakan patogen jamur entomopatogenik (Metarhizium acridum) untuk mengurangi populasi. Kita juga bisa menggunakan racun buatan yang dapat dibuat dengan menggunakan air garam dan bekatul.

2. Pengendalian Kimiawi

Pengendalian kimiawi merupakan Pengendalian dengan menggunakan zat kimia yang dapat digunakan sebagai pencegahan dan juga pembasmian. Pada Pengendalian ini biasanya menggunakan insektisida yang dapat dengan mudah ditemukan pada toko Pertanian.

Untuk jenis bahan aktif yang dapat digunakan seperti bahan aktif klorpirifos, imidakloprid, buprofezin, etofenproks, lamda sihalotrin dll. Selain penanggulangan dengan insektisida cair tersebut juga bisa dengan memasang perangkap beracun.

Penggunakan insektisida banyak digunakan pada akhir-akhir ini karena sudah terbukti cepat dan efektif. Penggunakan insektisida juga harus disesuaikan dengan dosis yang tepat agar tidak mengganggu organisme lain yang bermanfaat bagi tanaman.

 

Tikus Sawah : Hewan Pengerat Perusak Tanaman

0
Tikus Sawah : Hewan Pengerat Perusak Tanaman

Bisatani.com, Tikus Sawah - Kebanyakan orang sudah tidak asing lagi dengan hewan yang satu ini. Tikus merupakan salah satu jenis hewan pengerat yang dapat hidup pada berbagai habitat. Hewan ini dapat ditemukan baik itu di rumah, gedung, selokan maupun sawah atau ladang.

Tikus menjadi hewan pengganggu yang cukup meresahkan karena dapat merusak berbagai jenis benda yang dilewatinya. Pada lingkungan rumah hewan ini dapat merusak mulai dari pakaian, perbotan hingga kusen rumah.

Sedangkan pada lingkungan pertanian tikus menjadi hama yang cukup meresahkan. Tikus dapat merusak berbagai jenis tanaman. Tanaman yang telah terserang hama tikus akan rusak sehingga nilai ekonomisnya menjadi berkurang. Sehingga hal tersebut dapat membuat petani mengalami kerugian. baca juga : Cara Membasmi dan Mengusir Tikus di Sawah Maupun Rumah

Pada artikel kali ini, tim bisatani telah merangkum informasi mengenai hama tikus sawah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkapnya langsung saja simak penjelasannya dibawah ini.

Apa itu Hama Tikus Sawah

Tikus Sawah : Hewan Pengerat Perusak Tanaman

Tikus Sawah (Rattus Argentiventer) merupakan salah satu jenis tikus yang banyak ditemukan di wilayah Asia tenggara, termasuk indonesia. Jika dibandingkan dengan tikus got, tikus sawah termasuk tikus yang berukuran tubuh kecil. Panjang tubur berkisar antara 30 - 40 cm dengan warna rambut cokelat ke abu-abuan dan tepi berwarna putih.

Kematangan seksual tikus betina ditandai dengan mulainya siklus estrus dan ovulasi pada saat memasuki umur 28 hari. Sedangkan pada tikus jantan kematangan seksual terjadi pada umur 60 hari dengan siklus estrus yang relatif tidak teratur.

Proses perkembangbiakan hama ini bisa dibilang sangat pesat. Karena sepasang ekor tikus dapat berkembangbiak menjadi 1.270 ekor hanya dalam waktu 1 tahun.

Tikus sawah merupakan salah satu jenis hewan nocturnal yang mana aktif pada malam hari. Proses mencari makan dan aktivitas hidup banyak dilakukan pada saat malam hari.

Habitat Hama Tikus Sawah

Tikus Sawah : Hewan Pengerat Perusak Tanaman

Hewan pengerat yang satu ini dapat dengan mudah dijumpai pada area persawahan, ladang, perkebunan ataupun padang rumput. Tikus sawah akan membuat lubang-lubang pada tanah sebagai tempat persembunyiannya.

Tikus akan berkembangbiak didalam lubang ataupun terowongan yang telah dibuat sebelumnya. Selain itu, tikus jenis ini juga dapat membuat sarang pada bawah batu dan sisa- sisa kayu.

Tikus merupakan salah satu hewan dengan daya adaptasi yang tinggi. Hal tersebut membuat tikus mudah ditemukan baik pada dataran tinggi ataupun dataran rendah.

Dampak Serangan Hama Tikus Sawah

Tikus Sawah : Hewan Pengerat Perusak Tanaman

Tikus menjadi salah satu hama yang harus diwaspadai, karena insensitas serangannnya termasuk tinggi. Tikus ini sangat menyukai tanaman padi dan juga jagung. Tanaman yang telah terserang akan membuat produktivitasnya turun.

Keberadaan tikus pada lahan dpat dideteksi dengan melihat keberadaan jejak kaki, kotoran, ataupun sarangnya. Berikut ini beberapa contoh dampak serangan pada berabgai jenis tanaman.

  • Padi

Pada tanaman padi hama tikus dapat merusak tanaman baik dalam semaian, masa pertumbuhan, masa panen, hingga pada gudang penyimpanan. Serangan hama tikus biasanya dilakukan secara berkelompok. Tikus dapat merusak tanaman hingga 80 % hanya dalam waktu satu malam.

Serangan tikus dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Tikus secara langsung merusak tanaman dengan memakan bulir padi ataupun beras. Selain itu tikus terkadang hanya merusak batang padi hanya untuk mengasah giginya.

Intensitas serangan hama tikus sangat tinggi terutama pada fase padi “bunting”. Karena pada fase ini padi sedang dalam tahap pengisian bulir yang mana sangat disukai oleh hama tikus. Hal itu diperkuat oleh ketersediaan jenis pakan yang ada pada habitat tikus.

  • Jagung

Pada tanaman jagung, umumnya tikus menyerang tanaman saat memasuki fase generatif atau fase pembentukan tongkol jagung. Bagian pertengahan dan tongkol jagung yang telah masak susu akan sangat disukai tikus.

Jika tanaman jagung telah terserang hama tikus akan membuat tongkol jagung menjadi rusak dan tanaman mudah terserang penyakit. Kebanyakan tikus akan memakan sebagian kecil tongkol jagung dan kemudian membiarkannya saja.

Kerusakan jagung akibat serangan hama tikus dapat mencapai 50 %. Akibat serangan tikus ini petani menjadi gagal panen dan mengalami kerugian.

  • Ubi jalar dan ubi kayu

Ubi jalar dan ubi kayu menjadi contoh tanaman yang tak lepas dari serangan hama tikus. Biasanya tikus akan menyerang tanaman ubi saat memasuki stadia pembentukan umbi.

Tikus akan memakan umbi secara tidak beraturan yang mana hal tersebut akan membuat tanaman ubi menjadi rusak. Bekas dari gigitan tersebut akan menyebabkan infeksi yang diikuti dengan gejala pembusukan umbi.

Perilaku hama tikus hanya merusak tanaman karena tidak menghabiskan tanaman. Tikus hanya akan memakan beberapa bagian kecil, tidak sampai habis. Jika satu tanaman sudah rusak kemudian akan pindah dan merusak tanaman yang masih sehat.

  • Cabai

Walaupun cabai mempunyai rasa yang pedas akan tetapi tanaman ini tidak luput dari serangan hama tikus sawah. Hama tikus akan menyerang tanaman cabai terutama yang sudah mulai berbuah.

Serangan tikus pada tanaman cabai ditandai dengan hilangnya jumlah cabai sedikit demi sedikit. Jika ditelusuri lebih jauh buah cabai akan terkumpul pada semak semak ataupun dibawah bedengan.

Cara Pengendalian

Hama tikus menjadi hama yang sangat merusak, dimanapun itu tempatnya. Maka dari itu perlu dilakukan upaya pengendalian untuk dapat menghindari serangan hama tersebut.

Dengan pengendalian yang tepat tentunya dapat meminimalisir ataupun menghindari kerugian. Pengendalian jenis tikus sawah berbeda dengan pengendalian tikus pada lingkungan rumah.

Untuk mengetahui cara mengendalikan tikus di sawah dan dirumah secara lengkap dapat mengunjungi link berikut. Cara Memasmi dan Mengusir Tikus di Sawah Maupun di Rumah