Home Blog Page 3

Lalat Penggorok Daun Liriomyza Sp

0
Lalat Penggorok Daun

Bisatani.com, Lalat Penggorok Daun - Lalat merupakan jenis hama yang merugikan di setiap lingkungan. Selain karena suka hinggap ditempat yang kotor, mereka juga suka membawa penyakit.

Tetapi ada beberapa jenis lalat yang juga menjadi hama pada tanaman. Lalat yang menjadi hama pada tanaman merugikan dengan cara yang berbeda. Misal Lalat buah yang menyerang tanaman dengan cara menyuntikan telurnya pada buah. Telur yang menetas akan menjadi larva yang akan menggerogoti buah dari dalam. Alhasil buah akan membusuk dan berair.

Ada juga lalat yang menyuntikan telurnya pada daun. Daun yang terkena suntikan akan meninggalkan tanda putih. Larva yang keluar dari telur akan menggerogoti daun sehingga akan muncul garis putih berkelok-kelok pada permukaan daun.

Untuk kali ini Bisatani.com akan membahas mengenai hama Lalat Penggorok Daun (Liriomyza sp). Apa itu hama lalat penggorok daun? Bagaimana gejala serangannya serta bagaimana cara pengendalian hama tersebut. Untuk informasi lebih jelas terus simak artikel berikut.

Apa itu Hama Lalat Penggorok Daun (Liriomyza Sp)

Lalat Penggorok Daun Liriomyza Sp

Lalat penggorok daun merupakan jenis hama yang datang dari benua Amerika Latin. Hama ini masuk ke Indonesia perkiraan pada tahun 90-an. Untuk pertama kalinya hama ini dilaporkan berada di daerah Palu, Sulawesi Tengah sekitar tahun 2005.

Hama ini memiliki banyak jenis dan itu biasanya menyesuaikan dari tanaman inangnya. Misalnya untuk Liriomyza huidorensis, Liriomyza sativa, Liriomyza brassicae ujung punggng mereka terdapat warna kuning. Untuk jenis Liriomyza chinensis dibagian punggung mereka hanya tampak warna hitam.

Siklus Hidup Hama Penggorok Daun (Liriomyza Sp)

Imago atau fase dewasa dari hama penggorok daun berupa lalat kecil dengan ukuran tubuh sekitar 2 mm. Lalat betina dapat hidup dalam kisaran waktu 6 sampai 14 hari. Sedangkan lalat jantan mampu bertahan hidup dalam kisaran 3 hingga 9 hari.

Imago lalat betina akan meletakkan telur mereka pada bagian jaringan epidermis daun. Mereka sebelumnya akan menyuntikan ovipositornya pada permukaan daun lalu telur mereka akan dikeluarkan.

Telur hama ini berwarna putih bening dengan kisaran ukuran 0,28 mm x 0,15 mm. Semasa hidupnya imago lalat betina dapat menghasilkan 50 hingga 300 butir telur dengan rata-rata telur sebanyak 160 butir. Lamanya stadium telur hingga menetas yaitu kisaran waktu 2 hingga 4 hari.

Larva yang menetas dari dalam telur berbentuk silinder. Larva tersebut tidak mempunyai kaki dan kepala pada saat menetas. Warna dari larva yang baru keluar berwarna putih kekuningan atau putih susu.

Setelah menetas, larva akan langsung menggorok jaringan misofil daun dan tetap tinggal didalam liang korokan. Fase larva ini berlangsung selama 6 hingga 12 hari. Ukuran larva yang sudah mencapai tahap instar terakhir bisa mencapai ukuran 3,5 mm.

Lalat Penggorok Daun Liriomyza Sp

Menjelang memasuki fase pupa, larva akan membuka bagian bawah daun dan menjatuhkan diri kedalam tanah. Setelah itu larva atau ulat akan menjadi kepompong(pupa).

Akan tetapi untuk hama yang menyerang pada tanaman bawang merah, pupa biasanya ditemukan menempel pada daun bawang. Biasanya posisi pupa menempel pada bagian dalam rongga daun bawang.

Lama stadium pupa bisa mencapai waktu kisaran 9 hingga 12 hari. Setelah itu akan muncul imago atau fase lalat yang keluar daru dalam pupa. Oleh sebab itu, hama ini melalui fase metamorfosis sempurna karena melalui fase telur-larva-pupa-imago.

Ciri-ciri dan Gejala Serangan Hama Penggorok Daun

Daun pada tanaman yang terserang hama ini akan timbul gejala seperti bintik-bintik putih. Bintik putih tersebut disebabkan karena tusukan ovipositor dari imago atau lalat penggorok daun.

Gejala Lalat Penggorok Daun Liriomyza Sp

Kemudian akan muncul juga garis-garis yang berwarna abu-abu pucat pada permukaan atas dan bawah daun. Garis tersebut merupakan liang korokan yang disebabkan oleh larva penggorok daun. Liang dari hasil larva memamah biak juga terisi material kotoran yang berwarna hitam yang terlihat seperti jejak tipis.

Jika terjadi serangan yang berat, seluruh helaian daun akan ditutupi oleh garis abu-abu atau korokan. Daun akan menjadi kering seperti terserang busuk daun dan akan berguguran sehingga akan berdampak pada tanaman.

Daun yang berguguran sebelum waktunya disebut juga defoliasi. Defoliasi akan berpengaruh terhadap hasil panen, baik dari segi kualitas dan kuantitas buah.

Hama Penggorok daun biasanya menyerang tanaman apel, buncis, pare, kubis, kembang kol, kacang arab, kopi, kapas, mentimun, terong, anggur, mangga, bawang, cabai, kentang, tanaman hias, dll.

Cara Pengendalian Hama

  • Kultur Teknis

  1. Pilihlah benih yang lebih tahan dari serangan hama dan penyakit.
  2. Buat sistem irigasi yang baik.
  3. Berikan pupuk yang seimbang.
  4. Lakukan  sanitasi lahan dan penyiangan dari gulma.
  • Fisik atau Mekanis

  1. Ambil daun yang sudah mengalami gejala serangan seperti munculnya garis abu-abu putih pada permukaan daun. Kumpulkan lalu musnahkan dengan cara dibakar.
  2. Gunakan plastik mulsa hitam perak pada bedengan.
  3. Pasanglah perangkap kertas atau plastik berwarna kuning yang sudah diberi lem. Taruh pada lahan sekitar 80 hingga 100 buah untuk setiap hektar. Sebarlah dengan jarak 5 hingga 10 meter untuk setiap perangkap.
  • Hayati atau Biologis

Manfaatkan musuh alam hama, antara lain:

  1. Parasit Chyrocharis sp, Asecodes sp, Cirruspilua ambigus, Closterocerus sp, Neochrysicharis formosa, Phigalia sp, Hemiptarsenus varicornis, Gronotoma sp, dll.
  2. Predator alami seperti lalat Coenosia humilis.

lalat Coenosia humilis

  • Pengendalian Kimiawi

Cara terakhir adalah pengendalian dengan cara kimiawi. Pengendalian hama ini biasanya menggunakan bahan kimia yaitu insektisida. Ada banyak jenis bahan aktif yang bisa digunakan untuk mengenalikan hama penggorok daun. Ada insektisida dengan bahn aktif Abamektin, Metomil, Profenofos, spinetoram dll.

Ingat, pengendalian secara kimia harus dilakukan dengan bijaksana. Gunakanlah sesuai dosis yang dianjurkan. Insektisida kimia dapat menyebabkan predator alami juga ikut mati. Bukan hanya itu, insektisida kimia juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.

Demikian penejelasan mengenai hama penggorok daun. Semoga artikel Bisatani.com selalu bermanfaat bagi pembaca sekalian. Dapat membantu bagi para penghobi tanam, petani pemula maupun petani senior.

Ulat Daun Kubis Plutella Xylostella

0
Ulat Daun Kubis Plutella Xylostella

Bisatani.com, Ulat Daun Kubis - Kubis merupakan salah satu jenis tanaman populer dikalangan masyarakat. Selain karena harganya yang cukup terjangkau, sayuran ini kaya akan antioksidan dan gizi yang bagus bagi tubuh. Sayuran ini juga bisa diolah menjadi bermacam-macam jenis masakan.

Kubis sangat mudah dijumpai di pasar tradisional maupun modern. Oleh sebab itu, banyak petani yang mencoba membudidayakan jenis sayuran ini. Dataran tinggi merupakan tempat yang cocok untuk menanam kubis. Karena di daerah dataran rendah ukuran krop yang dihasilkan lebih kecil daripada di daerah dataran rendah.

Bukan hanya itu di daerah dataran rendah juga tanaman lebih rentan terserang hama. Eits, belum tentu juga menanam pada daerah dataran tinggi juga terhindar dari serangan hama juga. Salah satu jenis hama yang menyerang tanaman kubis adalah ulat.

Ada banyak sekali jenis ulat yang menyerang tanaman kubis, salah satunya adalah ulat daun Plutella xylostella. Serangan hama ini bisa menyebabkan kualitas dan kuantitas tanaman kubis menurun. Bukan hanya itu, serangan yang parah juga bisa menyebabkan gagal panen bagi para petani tanaman kubis.

Apa itu ulat daun Plutella xylostella? Bagaimana gejala serangannya serta bagaimana cara pengendaliannya. Terus ikuti artikel dari Bisatani.com ini untuk mengetahui informasi lebih lengkapnya.

Apa itu Ulat Kubis Plutella Xylostella?

Ulat Daun Kubis Plutella Xylostella

Plutella xylostella merupakan jenis hama ulat yang biasa menyerang tanaman kubis. Hama ini juga mempunyai nama lain seperti ulat tritip, ulat klamat, atau black diamond. Mereka mulai menyerang tanaman kubis ketika masih dalam bentuk larva.

Ukuran dari larva hama ini termasuk kecil yaitu sekitar 0,33 inci, itupun sudah tergolong ukuran larva yang paling besar. Bentuk tubuh mereka memanjang, bagian tengah melebar sedangkan arah anterior dan posterior bentuknya meruncing. Pada bagian posterior terdapat dua proleg yang membentuk huruf V.

Pada fase imago yaitu ngengat tubuh mereka berwarna abau-abu sampai cokelat kelabu. Ketika sayap mereka dilipat nampak tiga buah tanda yang bergelombang yang berbentuk seperti berlian (diamond). Terkadang ada juga yang tanda yang berbentuk segitiga disepanjang punggung mereka.

Siklus Hidup Ulat Kubis Plutella Xylotella

Ulat daun kubis Plutella xylotella merupakan serangga yang bermetamorfosis dengan sempurna (holometaloba). Ada empat stadia atau siklus hidup yang dilalui hama ini yaitu telur, larva, pupa dan imago.

Imago atau ngengat betina Plutella xylotella mampu menghasilkan telur sebanyak 180 hingga 320 butir.

Telur Plutella Xylotella

Telur mereka berwarna kuning kehijauan. Ngengat akan meletakkan telur mereka disekitar tulang daun dibagian bawah permukaan daun. Ada kisaran 1 sampai 6 telur dalam setiap peletakan telur.

Larva dari hama Plutella xylotella sangat mudah dibedakan dengan jenis larva hama serangga lainnya. Larva hama ini tidak memiliki garis membujur di sekitar tubuh mereka.

Hama ini mempunyai 4 perkembangan (instar) larva. Pada instar keempat, larva mencapai panjang kisaran 10-12 mm. Kepala mereka berwarna kuning muda serta terdapat bintik-bintik yang berwarna gelap. Tubuh mereka berwarna hijau muda dan terdapat bulu-bulu hitam yang tipis. Larva akan bereaksi ganas jika disentuh dan menjatuhkan diri serta membentuk benang sutera.

Memasuki fase pupa, mereka akan berdiam diri dibagian daun atau batang pada tanaman. Hama ini akan menyelimuti tubuh mereka dengan benang yang berwarna putih untuk membentuk selimut pupa. Jika diperhatikan, pupa tersebut seperti bentuk kumparan benang.

Pada fase terakhir yaitu imago atau ngengat, hama ini hanya aktif pada malam hari saja. Pada siang hari mereka hanya beristirahat, berbeda dengan fase larva yang aktif pada siang maupun malam hari.

Ngengat Plutella Xylotella

Ngengat akan hidup dalam kisaran waktu 2 sampai 4 minggu. Total kisaran daur hidup ulat daun kubis Plutella xylostella dari telur sampai ngengat berbeda-beda tergantung ketinggian wilayah. Di daerah dengan ketinggian 250 mdpl hama ini bisa hidup sampai 12-15 hari. Sedangkan pada ketinggian 110 mdpl bisa mencapai 20-25 hari.

Ciri-ciri dan Gejalan Serangan Hama

Tingkat populasi hama Plutella xylotella biasanya meningkat semenjak tanaman kubis mencapai umur 5 minggu sampai 9 minggu dari awal tanam.

Ulat atau larva yang baru saja menetas akan langsung memakan daun tanaman yang masih muda selama 2 hingga 3 hari. Hama ini memakan daun tanpa mengkonsumsi kulit arinya. Sehingga pada daun akan terlihat noda-noda putih. Oleh sebab itu hama ini disebut juga hama putih.

Larva Muda Plutella Xylotella

Lama kelamaan kulit ari yang diserang tersebut akan mengering daunnya dan membuat daun seperti berlubang. Jika tingkat populasi hama ini semakin meningkat akan timbul kerusakan yang lebih parah. Hampir semua daun akan dikonsumsi hingga hanya terdapat tulang daun saja yang disisakan.

Biasanya serangan hama Plutella xylotella akan semakin parah pada musim kemarau, yaitu pada umur 5 hingga 8 minggu.

Ulat daun kubis akan mulai menyerang dari awal sebelum terbentuknya krop yaitu 0 sampai 49 hst. Dan akan terus berlanjut sampai fase pembentukan krop yaitu 49 sampai 85 hst.

Cara Pengendalian Hama Ulat Daun Kubis

Ada beberaca cara dalam mengendalikan serangan hama ulat Plutella xylitella  :

  • Kultur jaringan

  1. Aturlah jarak waktu penanaman, misalnya menanam kubis pada bulan November sampai Januari.
  2. Lakukan rotasi penanaman dengan jenis tanaman yang bukan dari jenis kubis seperti cabai, tomat atau kentang.
  • Teknik serta fisik

  1. Ambil dan kumpulkan telur serta larva yang ada dilahan budidaya kubis kemudian musnahkan.
  2. Lakukan sanitasi lahan dari gulma agar tidak menjadi tempat bersembunyi hama.
  3. Lakukan pengelolaan air yang baik serta atur jarak tanam agar ada sirlukasi udara yang baik dilahan budidaya.
  4. Pasang perangkap lem yang mampu menarik ngengat pada lahan budidaya.
  • Pengendalian Hayati atau biologi

  1. Memanfaatkan musuh alami hama seperti parasit Cotesia plutella dan Diadegma semiclausum. Ada juga cendawan Zoopthora radicans.
  2. Membuat insketisida dengan bahan alami yang terbuat dari biji buah srikaya, biji nimba dan tembakau.
  • Pengendalian secara Kimia

Pengendalian secara kimia biasanya menggunakan insektisida berbahan aktif Asefat, Sipermetrin, Klorfenaphyr, Emamectin benzoat, Metomil, Spinetoram, Klorpirifos, dll

Ada juga insektisida biologi yang berasal dari Microba Bacillus thuringiensisInsektisida ini tidak menimbulkan efek toxic yang rendah terhadap lingkungan, manusia dan hewan disekitarnya.

Untuk pengendalian secara kimia ini, perlu dilakukan dengan bijak. Pengendalian dengan cara ini bisa mempengaruhi ekosistem alami seperti matinya predator alami serta pencemaran lingkungan. Selalu gunakan dengan bijak dan sesuai dosis yang dianjurkan.

Semoga artikel Bisatani.com bermanfaat untuk pembaca, baik itu penghobi tanaman maupun para petani muda dan senior. Salam petani sukses…

Ulat Krop : Hama Utama Tanaman Kubis

0
Ulat Krop : Hama Utama Tanaman Kubis

Bisatani, Ulat krop - Kubis merupakan salah satu jenis sayuran yang tumbuh subur di Indonesia. Sayuran jenis ini banyak dibudidayakan petani khususnya pada daerah dataran tinggi. Selain untuk memnuhi kebutuhan sehari hari jenis sayuran ini juga menjadi salah satu komoditas ekspor.

Untuk mencukupi kebutuhan yang tinggi tersebut maka diperlukan juga produksi yang besar. Terkadang dalam proses produksi terdapat kendala seperti munculnya serangan hama dan penyakit.

Dalam budidaya tanaman kubis serangan hama ulat krop menjadi salah satu masalah yang cukup serius. Serangan ulat tersebut dapat mengakibatkan sayuran menjadi gagal panen.

Pada artikel kali ini tim bisatani akan membahas salah satu hama sering menyerang tanaman kubis yaitu ulat krop. Untuk mengetahui informasi mengenai hama ulat krop langsung saja simak penjelasannya dibawah ini.

Apa itu Hama Ulat Krop

Ulat Krop : Hama Utama Tanaman Kubis

Ulat krop (Crocidolomia Pavonana) merupakan hama yang dapat dengan mudah dijumpai pada tanaman kubis. Ulat jenis ini termasuk kedalam jenis serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Mulai dari fase telur, larva, pupa hingga imago.

Telur biasanya akan diletakkan pada tepi daun, permukaan daun, dan juga bawah daun dengan berkelompok seperti genting rumah. Jumlah telur dalam setiap kelompok biasanya mencapaai 48 butir dan memiliki ukuran 2,6 - 4,3 mm. Telur akan menetas apaabila telah berumur 3 sampai dengan 6 hari.

Tahap selanjutnya telur akan menjadi larva yang memiliki warna hijau muda kecoklatan. Larva akan dengan mudah dijumpai pada permukaan bawah daun secara bergerombol. Larva dapat hidup dengan rata-rata selama 14 hari. Pada fase ini, larva akan menjadi hama dalam pertanian terutama pada tanaman kubis. Karena sering memakan daun yang mengakibatkan tanaman menjai rusak

Kemudian dari larva akan berubah menjadi imago, yang mana fase ini merupakan tahapan terakhir dalam metamorfosis. Imago ulat krop berupa ngengat kecil berwarna coklat abu-abu dan mempunyai sepasang sayap. Antara ngengat jantan dan ngengat betina mempunyai ukuran yang berbeda. Pada ngengat jantan memiliki panjang tubuh 10,4 mm sedangkan pada betina memiliki ukuran dengan panjang 9,6 mm. Ngengat merupakan hewan nocturnal karena akan lebih aktif pada malam hari.

Serangan Hama Ulat Krop

Ulat Krop : Hama Utama Tanaman Kubis

Permasalahan hama menjadi faktor penghambat yang utama dalam proses produksi tanaman. Karena dampak serangan dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil produsi. Gejala serangan hama ulat ini bisanya akan terjadi pada saat kubis dalam tahap pembentukan krop. Hama ini akan memakan daun yang masih muda sampai habis.

Ulat krop menjadi salah satu jenis hama yang sangat merusak. Hama ini akan memakan daun pada bagian tengah. Hal itu akan membuat tanaman gagal dalam membentuk krop. Jika bagian tengah tanaman telah hancur kemudian larva akan pindah ke bagian ujung daun. Selanjutnya akan turun lagi dan menyerang daun yang lebih tua.

Apabila hama ini tidak dikendalikan dengan tepat akan membuat tanaman hancur seluruhnya. Karena serangan hama dilakukan secara bergerombol dan terjadi pada titik tumbuh.

Cara Pengendalian Hama Ulat Krop

Untuk mengendalikan hama ini perlu dilakukan upaya yang tepat, Agar serangan hama dapat diantisipasi dan dapat diminimalisir. Dengan tindakan yang tepat tentu dapat menjaga kualitas dan kuantitas produksi.

Berikut ini adalah beberapa cara atau metode yang dapat dilakukan sebagai upaya dalam mengendalikan hama ulat krop pada tanaman kubis.

  • Pengendalian secara biologi atau hayati

Pada metode pengendalian ini dilakukan dengan cara memanfatkan musuh alami dari hama tersebut. Pengendalian ini bisa dengan penggunaan parasitoid, Chelonus sp, dan lalat sturmia sp. Cara kerja metode ini dengan menginfeksi dari hama baik pada fase telur sampai dengan imago. Hama yang telah terparasit kemudian akan mati.

Akan tetapi kemampuan parasitoid ini masih kurang efektif apabila intensitas serangan hama tinggi. Kemampuan parasitoid masih terbilang rendah karena hanya mencapai angka 7,23 %. Sehingga kurang efektif dalam mengendalikan hama dalam jumlah yang banyak. Selain itu juga belum bisa dikembangkan lagi menjadi agen hayati dari hama ulat krop ini.

Pengendalian pada metode ini juga bisa menggunakan insektisida biologi (mikroba) seperti Bacillus thuringiensis. Penggunaan cukup disemprotkan pada tanaman yang telah muncul gejala serangan hama ulat krop . Untuk dosis pemakain juga disesuaikan dengan intensitas serangan hama.

  • Pengendalian dengan metode kultur teknis

Dengan menerapkan metode ini yang bisa disebut juga sebagai pencegahaan agar tanaman tidak terserang hama. Hal yang dapat dilakukan seperti memanam kubis pada waktu musim hujan. Biasnya pada waktu tersebut jumlah populasi ulat krop tergolong rendah.

Disamping itu juga bisa dengan menjaga agar disekeliling tanaman agar tidak ada rumput liar. Selain dapat menghambat pertumbuhan tanaman, rumput liar juga dapat digunakan sebagai tempat persembunyian dari ngengat ulat krop.

Pencegahan juga dapat dilakukan dengan melakukan tumpang sari dengan tanaman tomat. Pada tanaman tomat mengandung senyawa kimia yang bersifat penolak terhadap ngengat. Dengan begitu dengan sistem tumpang sari anatara kubis dan tomat dapat mengurangi serangan hama pada tanaman kubis.

  • Pengendalian dengan metode kimia

Pada metode ini pengendalian dengan menggunakan pestisida dari jenis insektisida. Pestisida jenis ini sangat mudah dijumpai dan dapat dengan mudah didapatkan pada toko pertanian terdekat. Bentuk dari insektidia ini mulai dari cair, tepung maupun butiran.

Penggunaan insektisida merupakan jenis pengendalian yang paling banyak digunakan pada saat ini. Dengan menerapkan metode ini pengendalian hama terbilang cepat dan tepat sasaran.

Ada beberapa jenis bahan aktif yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama ulat krop. Seperti bahan aktif asefat, emamektin benzoat, klorfenapir, sipermetrin, profenofos dan lain sebagainya.

 

 

 

Ulat Tanah - Hama Pemotong Tanaman

0
Ulat Tanah - Hama Pemotong Tanaman

Bisatani.com, Ulat Tanah - Siapa yang tidak mengenal hama ulat. Hama ini ada banyak sekali jenisnya. Mulai dari ulat daun, ulat tanah, ulat api, ulat krop, ulat penggulung daun dan lain-lain. Baik dari tahap awal tanam sampai masa panen ada berbagai macam jenis hama ulat yang menyerang. Misal pada saat awal tanam ada hama ulat tanah yang suka memotong tanaman yang baru saja ditanam. Ada juga ulat daun dan ulat grayak yang menyerang tanaman pada fase tanaman muda sampai dewasa.

Ulat tanah (Agrotis sp.) merupakan jenis hama yang menyerang tanaman pada awal masa tanam. Hama ini sangat suka tanaman yang masih muda dan terkadang juga menyerang tanaman di semua tahap pertumbuhan. Kali ini Bisatani.com akan membahas mengenai hama Ulat Tanah, baik itu gejala dan ciri-ciri serangan serta cara penanggulangannya. Tetap simak artikel ini dari Bisatani.com.

Apa itu Hama Ulat Tanah (Agrotis sp.)?

Ulat tanah atau dalam bahasa ilmiahnya Agrotis ipsililon. Hama ini merupakan jenis hama yang biasa menyerang pada fase awal tanaman. Mereka dikenal juga sebagai ulat perusak tanaman muda. Hama ini berwarna kehitaman, mempunyai corak garis atau berbintik pada tubuhnya. Pupa atau kepompong mereka berwarna cokelat.

Ulat Tanah - Hama Pemotong Tanaman

Hama ini mempunyai tubuh yang lunak dan panjang. Panjang mereka bisa mencapai 1 sampai 1,75 inci. Mereka akan bersembunyi di dalam tanah atau di bawah bagian tanaman pada siang hari. Sedangkan pada malam hari, mereka akan aktif keluar dari dalam tempat persembunyian untuk mencari makanan. Hama ini bisa bersembunyi kedalam tanah 5 sampai 10 cm di bawah permukaan tanah.

Untuk fase dewasa atau ngengat, ukuran panjang sayap bisa mencapai kisaran 16-19 mm dan lebar bisa mencapai 6-8 mm. Sayap depan ngengat ulat tanah memiliki warna cokelat muda dan tua dengan bagian tepian luar yang berwarna lebih gelap. Sedangkan untuk sayap bagian belakang memiliki warna putih.

Hama ini biasanya aktif pada malam hari tetapi pada siang hari lebih suka bersembunyi didalam tanah. Bentuk ngengat betina tidak jauh berbeda dengan ngengat jantan akan tetapi memiliki warna yang lebih gelap daripada ngengat jantan.

Ketika dalam fase larva atau ulat, ketika disentuh atau diganggu mereka akan menggulung membentuk huruf C. Pada fase ngengat ketika disentuh atau diganggu mereka akan menjatuhkan diri dan pura-pura mati.

Ngengat dapat hidup selama 20 hari. Untuk lamanya perkembangan hama ini dari telur hingga dewasa (ngengat) berlangsung dalam kisaran 51 hari.

Siklus Hidup Ulat Tanah 

Ngengat atau fase dewasa akan meletakkan telur-telur mereka secara satu persatu atau berkelompok dibawah daun pada tanaman. Terkadang ada juga yang diletakkan pada pada tanah yang lembab atau celah-celah tanah.

Ngengat pada sayuran

Telur mereka berwarna putih seperti mutiara dan akan berubah warna menjadi kuning. Lama-kelamaan telur mereka berubah menjadi merah dengan titik cokelat gelap pada puncaknya. Titik tersebut merupakan kepala larva yang mengalami perkembangan didalam telur. Pada saat telur menjelang menetas telur akan berubah warna menjadi gelap agak kebiruan.

Bentuk telur ngengat kerucut terpancung dan terdapat garis tengah dibagian dasarnya kira-kira 0,5 mm. Ngengat betina bisa bertelur sebanyak 1.430 sampai 2.775 butir telur. Fase telur ini berlangsung selama kurang lebih 3-4 hari tergantung suhu lingkungan sekitar.

Larva yang baru saja menetas berwarna kuning kecoklatan dengan panjang kisaran 1 sampai 2 mm. Larva akan langsung bersembunyi didalam tanah karena tidak suka dengan cahaya matahari secara langsung. Mereka akan bersembunyi sedalam 5-10 cm didalam tanah atau gumpalan tanah. Hama ini akan aktif kembali pada malam hari untuk mencari makan. Mereka makan dengan cara menggigit pangkal tanaman yang masih muda atau permukaan daun.

Hama ini mengalami 5 fase ganti kulit pada fase larva. Larva yang sudah masuk fase akhir akan berwarna cokelat kehitaman. Panjangnya bisa mencapai kisaran 25-50 mm. Semakin dewasa hama ini semakin rakus dan berjalan dengan cepat. Dalam semalam mereka bisa memotong pangkal batang dan memakan habis tanaman yang masih muda. Fase larva berlangsung dalam kisaran 36 hari.

Pupa ulat tanah

Ketika memasuki fase pupa, larva akan bersembunyi didalam tanah, tetapi ada juga yang berada dipermukaan tanah. Fase pupa berlangsung dalam kisaran 5 sampai 6 hari. Ngengat akan keluar dari dalam pupa dan menjalani siklus dari bertelur sampai mati. Umur ngengat kisaran 20 hari.

Gejala Serangan Hama Ulat Tanah

Dikarenakan mereka menyerang pada fase awal tanam, biasanya tanaman yang terserang tidak akan tumbuh sampai dewasa karena mati. Berikut ciri-ciri gejala serangan hama ini:

  1. Tanaman yang masih muda dalam semalam tiba-tiba menjadi layu.
  2. Batang tanaman terpotong seperti ada bekas gigitan.
  3. Adanya bekas gigitan pada daun tanaman yang masih muda atau baru saja ditanam.

Hampir semua tanaman bisa terserang hama ini. Beberapa tanaman yang sering terserang hama ini seperti tanaman tomat, kubis, tembakau, jagung, tebu, bawang, padi, kentang dan sebagainya.

Cara Pengendalian Serangan Hama

  • Kultur Jaringan

Lakukan pengolahan tanah dengan baik agar pupa dan ulat yang ada didalam tanah juga ikut terbunuh. Lakukan sanitasi dan pembersihan lahan dari gulma yang juga merupakan tempat dimana ngengat Agrotis sp meletakan telur.

  • Teknis atau Mekanis

Ambil dan kumpulkan ulat tanah yang ada pada tanaman lalu musnahkan. Karena hama ini aktif pada senja - malam hari, ada baiknya perburuan dilakukuan pada saat hama sedang aktif.

  • Pengendalian hayati

Kumbang tanah (Carabidae)

Manfaatkan musuh alami bagi hama ulat tanah seperti parasitoid Apanteles, Goniophana heterocera, Tritaxys braueri dan Cuphocera varia. Predator seperti kumbang tanah (Carabidae). Ada juga patogen penyakit yang bisa menyerang hama ini seperto jamur Metharrizium spp dan Borthis sp, serta nematoda Steirnema sp.

  • Pengendalian Kimia

Apa bila terjadi serangan hama yang parah, bisa juga dilakukan pengendalian secara kimia. Ingat, selalu bijaksana dalam melakukan pengendalian dengan cara ini. Selalu gunakan dosis yang dianjurkan dan janganlah berlebihan.

Pengendalian secara kimia bisa menggunakan insektisida berbahan aktif Lamda sihalotrin, Beta siflutrin, Sipermetrin, Karbofuran, Fipronil, Asefat, dll.

Demikian informasi mengenai hama Ulat tanah (Agrotis sp) dari Bisatani.com. Semoga bisa membantu dan bermanfaat bagi penghobi tanaman, petani yang baru saja belajar maupun petani yang sudah berpengalaman. Salam petani sukses….

Tungau : Hama Kecil Penghisap Cairan Pada Tanaman

0
Tungau : Hama Kecil Penghisap Cairan Pada Tanaman

Bisatani, Tungau - Hama Menjadi salah satu penyebab masalah yang serius pada pertanian. Pada saat ini jenis hama juga sangat beraneka ragam. Sehingga cara pengendalian hama tersebut harus disesuaikan dengan jenis serangan hama.

Salah satu jenis hama yang menyerang tanaman dari jenis hewan penghisap. Seperti tungau, wereng, kutu daun, walang sangit, thrips dan lain sebagainya. Yang mana hama tersebut merusak dengan cara menghisap cairan yang ada pada tanaman.

Akibat serangan hama penghisap tersebut tanaman menjadi kekurangan cairan. kerusakan dari serangan hama jenis ini juga tidak dapat dianggap sepele. Jika tidak dilakukan pengendalian yang tepat bukan tidak mungkin akan menyebabkan kerugian.

Pada artikel kali ini tim bisatani akan membahas mengenai hama tungau. Untuk mengetahui informasi lebih lengkapnya langsung simak penjelasannnya dibawah ini.

Apa itu Hama Tungau

Tungau : Hama Kecil Penghisap Cairan Pada Tanaman

Tungau merupakan Hewan dengan ukuran yang kecil masuk kedalam golongan Subordo Acarina. Walaupun mempunyai ukuran yang hampir sama, akan tetapi hama tungau merupakan hewan yang berbeda dengan kutu. Kutu sendiri masuk kedalam golongan serangga (insecta) sedangkan tungau masuk kedalam kelas laba-laba (arachnoidea).

Dalam pertanian, tungau menjadi hama yang cukup mengganggu. Karena memiliki kemampuan beradaptasi pada berbagai habitat membuat hama ini dapat menyerang berbagai tanaman. Mulai dari tanaman pangan, hortikulura, tanaman perkebunan, buah-buahan dan masih banyak yang lainnya.

Siklus Hidup

Proses perkembangbiakan hama ini tergolong sangat cepat. Setiap indukan tungau mampu menghasilkan terlur sebanyak 20 butir perhari. Pada kondisi kering dan optimal yaitu 27°C telur tungau dapat menetas dalam waktu 3 hari. Setelah menetas hama tersebut dapat hidup antara 2 sampai dengan 4 minggu. Selain itu, setiap indukan tungau mampu menetaskan ratusan telur.

Dalam siklus hidup tungau, setiap indukan betina dapat bekembangbiak hingga 1 juta ekor hanya dalam waktu satu bulan saja. Dengan sistem reproduksi yang cepat tersebut memungkinkan hama menjadi resistan terhadap penggunaan pestisida. Sehingga menyebabkan hama menjadi sulit untuk dikendalikan.

Tungau merupakan salah satu jenih hewan yang berkembangbiak dengan sifat diploid dan haploid. Pada tungau betina bersifat diploid sedangkan pada betina bersifat haploid. Artinya telur yang dibuahi oleh pejantan akan menghasilkan tungau betina begitu juga sebaliknya. Telur yang tidak dibuahi pejantan akan menghasilkan tungau jantan.

Serangan Hama

Tungau : Hama Kecil Penghisap Cairan Pada Tanaman

Hama jenis ini merusak tanaman dengan cara mengisap cairan yang ada pada tanaman. Kerusakan pada tanaman perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat mengakibatkan kerugian apabila tidak tertangani dengan tepat. Hama ini dapat menyerang hampir semua bagian tanaman mulai dari daun, batang hingga bagian buah.

Batang tanaman yang telah terserang akan berubah warna menjadi perunggu. Sedangakn pada permukaan daun akan muncul titik-titik berwarna kuning dan cokelat. Serangan pada daun bagian bawah akan membuat mesosil menjadi rusak. Hal tersebut akan membuat daun menjadi mudah berguguran.

Serangan pada buah akan membuat munculnya bercak pada permukaan buah. Kesegaran dan ukuran buah juga menjadi berkurang. Hama ini dapat menyerang pada berbagai meusim karena kemampuan adaptasinya pada berbagai habitat.

Jenis - Jenis Hama Tungau

Tungau : Hama Kecil Penghisap Cairan Pada Tanaman

Ada berbagai jenis hama tungau yang dapat di temui pada saat ini. Berikut ini adalah beberapa contoh hama tungau yang dapat merusak tanaman, seperti :

  • Tungau Laba-laba (Tetranycus)

Memiliki ukuran panjang 0,6 mm dengan tubuh berwarna hijau, tubuhnya oval dan rambutnya panjang dibelakang. Saat memasuki musim dingin betina akan berubah warna menjadi kemerahan. Tungau jenis ini dapat tumbuh subur hingga 7 generasi dalam satu tahun.

Hama yang satu ini dapat menyerang pada berbagai jenis tanaman buah, sayuran, palawija dll. Tanaman yang telah terserang akan menunjukkan gejala seperti munculnya bintik-bintik kuning pada daun. Tungau jenis ini bersarang didalam kempompong yang berupa anyaman dan meletakkan telurnya pada bawah daun.

Ketika serangan sudah semakin parah akan membuat daun berubah warna menjadi perak setelah itu menjadi rapuh dan gugur. Hama ini akan menghasilkan jaring yang dapat menutupi permukaan tananan. Pucuk daun dan tunas menjadi gundul dan tumbuh menyamping. Hal tersebut tentu dapat menurunkan kualitas dan kuantitas bauh.

  • Tungau Karat Jeruk

Merupakan jenis hama yang tidak terlihat oleh mata telanjang karena ukurannya yan sangat kecil. Akan terlihat apabila dalam jumlah besar pada buah dan daun. Hama tersebut melatakkan telurnya pada permukaan buah dan daun. Telur yang telah menetas akan berubah menjadi nimfa sebelum menjadi dewasa. Betina dapat hidup antara 4 - 6 minggu dengan menghasilkan telur sebanyak 30 butir.

Seperti namanya, hama ini biasa membuat kerusakan pada tanaman buah jeruk. Serangan hama ini ditandai dengan munculnya bercak pada permukaan kulit buah. Pada serangan yang parah tentunya dapat menurunan tingkat produksi buah. Pada jenis yang satu ini lebih menyukai kondisi lingkungan yang lembap.

  • Tungau Kuning Teh

Tungau jenis ini dapat ditemukan pada tanaman buncis, pepaya, dan cabai. Dampak serangan ditandai denngan berubahnya daun menjadi keriting, menebal dan menjadi kecoklatan. Pada daun muda akan mengalamai perubahan bentuk dan pertumbuhan menjadi terhambat.

Tungau jenis ini memiliki ukuran yang sangat kecil, dengan panjang sekitar 0,2 mm dan berbentuk oval. Warna tubuhnya ada yang kuning dan juga hijau. Betina akan meletakkan telur pada bawah daun dan mampu menghasilkan 5 butir telur per hari. Penyebaran hama jenis ini sangat lambat kecuali dengan memanfaatkan serangga lain sebagai vektor. Selain itu hama ini dapat tumbuh subur pada kondisi yang lembap.

 Cara Pengendalian

Jika tidak ditangani dengan tepat hama ini berpotensi untuk merusak tanaman yang dapat menyebabkan kerugian. Maka dari itu perlu dilakukan upaya pengendalian yang tepat. Diharapakan dengan pengendalian yang tepat dapat menghindari atau meminimalkan kerugian yang bisa saja terjadi. Berikut ini adalah beberapa bentuk pengendalian yang dapat dilakukan, diantaranya :

  1. Pengendalian Hayati

Pengendalan hayati merupakan pengeendalian dengan memanfaatkan predator dari tungau itu sendiri. Seperti Neoseiilus cucumeris dan Amblyseius montdorensis dapat mengendalikan hama setelah terjadinya serangan. Selain itu juga bisa menggunakan semprotan bawang putih atau dengan sabun insektisida.

2. Pengendalian Kimiawi

Pengendalian kimiawi merupakan pengendalian hama dengan menggunakan zat kimia (Pestisida). Penggunaan pestisida juga harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat memepengaruhi populasi jenis serangga yang menguntungkan.

Penggunaan pestisida dari golongan mitisida menjadi cara yang paling banyak digunakan pada saat ini. Karena telah terbukti cepat dan efektif. Untuk mengendalikan hama tungau bisa dengan menggunakan pestisida dengan bahan aktif abamectin, profenofos, diafentiuron, klorpirifos, spirotetramat , fenpiroksimat dan lain sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

Siput : Hama Berlendir Perusak Tanaman

0
Siput : Hama Berlendir Perusak Tanaman

Bisatani, Siput merupakan hewan yang masuk kedalam golongan molusca gastropoda.  Yang mana binatang ini bergerak menggunakan perut dan memiliki cangkang. Gastropoda meupakan kelompok yang memiliki spesies terbanyak ke dua setelah serangga (Insecta).

Siput dapat hidup pada habitat parit, sawah, gurun, ataupun juga laut. Hal tersebut didasarkan pada bentuk, anatomi, tingkat laku siput dan jenis spesies yang berbeda.

Bagi pertanian, siput menjadi hama yang cukup menganggu karena dapat merusak tanaman, terutama yang masih muda. Jika tidak dilakukan penanganan yang tepat binatang ini dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas tanaman. Yang mana dapat berakibat pada kerugian.

Pada artikel kali ini tim bisatani akan memberikan informasi secara lebih lengkap mengenai hama siput. Untuk mengetahui informasi lengkapnya langsung saja simak penjelasannya dibawah ini.

Apa itu Hama Siput

 

 

Hama siput merupakan jenis moluska yang banyak ditemukan pada area persawahan ataupun perkebunan. Biasanya ukuran dari binatang ini tergantung dari jenis spesiesnya. Awalnya hama ini berasal dari karibia, dan telah menyebar ke seluruh Negara tropis, termasuk Indonesia.

Kebanyakan jenis siput merupakan binatang herbivora, yang mana suka memakan tumbuhan. Maka tak heran jika hewan ini juga suka memakan tanaman pertanian. Sehingga siput menjadi salah satu jenis hama yan cukup mengganggu.

Siput merupakan jenis hama yang hidup didalam tanah. Hama ini akan memanfaatkan retakan dan terowongan yang dibuat oleh cacing sebagai tempat persembunyiannya. Hama ini biasanya baru akan akan muncul ke permukaan untuk mencari makan dan untuk kawin.

Ciri - ciri

Binatang ini memiliki ukuran kecil hingga sedang tergantung dari jenis spesiesnya. Ciri fisik hama ini memiliki cangkang yang cukup keras untuk berlindung dari serangan predator. Cangkang tersebut biasanya berbentuk piramid yang cukup padat. Walaupun ada beberapa spesies yang tidak memilliki cangkang.

Siput merupakan jenis hama dengan kelamin ganda (hermafrodit). Yang mana alat reproduksi siput terletak dibelakang leher. Binatang ini dapat bereproduksi ketika berusia satu bulan hingga 5 tahun.

Dalam sekali bertelur siput dapat menghasilkan telur sebanyak 100 butir. Biasanya telur tersebut akan ditaruh di dalam tanah. Setelah 2 hingga 4 minggu kemudian telur akan menetas

Selain itu hama ini memiliki lendir di seluruh tubuhnya. Yang berguna untuk memudahkan bergerak karena hewan ini bergerak dengan menggunakan otot perut.

Jenis - jenis Hama Siput

Siput : Hama Berlendir Perusak Tanaman

 

Ada beberapa jenis spesies yang diketahui hingga saat ini. Tidak semua jenis dapat dikategorikan sebagai hama. Berikut ini adalah jenis siput yang dapat dikategorikan sebagai hama.

  1. Sumpil

Sumpil merupakan salah satu jenis siput darat (sulubina octona) yang berukuran kecil. Ukuran tubuhnya memanjang dengan tinggi cangkang antara 12 - 20 mm dengan lebar 3 -5 mm.

Keong jenis ini berasal dari Amerika tengah dan kemudian tersebar ke seluruh negara tropis. Sumpil merupakan hewan yang aktif mencari makan saat malam hari. Ketika siang hari lebih banyak besembunyi pada rumput, babatuan, lumut dll.

Dalam pertanian sumpil juga termasuk hama yang harus diwaspadai. Hama ini dapat merusak tanaman tembakau, lada, dan berbagai aneka tanamam hias..

2. Siput tanpa cangkang

Fillicaulis bleekeri merupakan jenis siput yang tidak memiliki cangkang. Memiliki tubur berwarna gelap dan terdapat garis pada tubunya. Dapat dengan mudah pada halaman rumah, perkebunan, ataupun persawahan.

Sama seperti spesies lain yang mana aktif pada malam hari dan sering keluar ketika hujan. Dimana saat hujan kondisi tanah menjadi lembap.

Dikategorikan sebagain hama karena binatang ini sering merusak tanaman tomat, kubis, sawi, wortel dan lain sebagainya.

3. Bekicot

Achatina fulica merupakan salah jenis spesies yang mudah dijumpai. Binatang ini berasal dari Afrika Timur dan telah menyebar ke negara lain lewat perantara perdagangan.

Habitat utama hama ini di area persawahan dan perkebunan terutama pada tempat yang lembap. Bekicot selain menjadi hama pada tanaman, binatang ini juga banyak dicari oleh manusia. Selain sebagai pakan ternak, didaerah tertentu juga banyak dikonsumsi.

Serangan Hama

Dampak dari serangan hama siput juga terbilang serius, apalagi jika jumlah hama tersebut banyak. Serangan hama siput akan meningkat apabila telah memasuki musim penghujan. Yang mana cuacanya akan menjadi lebih lembap dan membuat perkembangbiakan hama menjadi lebih cepat.

Serangan hama jenis ini akan terjadi pada malam hari apalagi jika sebelumnya telah terjadi hujan. Pada dasarnya siput merupakan binatang yang aktif pada malam hari (nocturnal)

Siput sangat menyukai tanaman yang masih muda (lunak) atau yang masih dalam masa pembibitan. Hama ini akan meninggalkan lubang yang tidak teratur dan berukuran besar pada daun. Selain itu hama ini juga dapat melahap tanaman hingga habis.

Bekas serangan hama siput sangat mudah untuk diketahui. Biasanya pada permukaan tanah dan dedaunan akan ditemukan lendir berwarna perak.

Cara pengendalian

Siput : Hama Berlendir Perusak Tanaman

Pengendalian hama harus dilakukan dengan tepat agar tanaman terbebas dari serangn hama. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama yang satu ini. Dibawah ini adalah beberapa cara yang dapat diterapkan untuk mengendalikan hama siput diantaranya :

  • Pengendalian secara Mekanis

Pada metode pengendalian mekanis yaitu dengan mengamati lahan dan tanaman secara langsung. Jika ditemukan jejak hama tersebut kita bisa mencari kemudian mengumpulkanya. Jika sudah terkumpul kita bisa membuangnya ke tempat yang jauh.

  • Pengendalian secara Hayati

Dengan metode ini pengendalian dengan memanfaatkan predator alami. adapun predator alami yaitu landak, burung, katak, kodok. Cara ini juga ramah lingkungan dan yang pasti hemat biaya.

  • Pengendalian secara kimia

Pengendalian secara kimia menjadi cara yang paling banyak digunakan karena cepat dan efektif. Pada pengendalian ini dengan menggunakan bahan kimia (pestisida) dari golongan moluskisida.

Pestisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama siput adalah pestisida degan bahan aktif metaldehida. Pestisida ini dapat dengan mudah didapatkan di toko pertanian.

Biasanya bentuk dari pestisida ini adalah granul atau butiran. Cara aplikasinya dengan menyebarkan pestisida ini pada sekeliling tanaman. Dengan bau yang khas, akan memancing hama untuk keluar dan memakan pestisida ini.

Gangsir : Hama Pengganggu pada Awal Tanam

0
Gangsir : Hama Pengganggu pada Awal Tanaman

Bisatani.com, Gangsir merupakan salah satu jenis hama dalam pertanian yang biasanya menyerang tanaman terutama pada awal tanam. Hama ini merupakan hama yang cukup mengganggu dan merugikan.

Gangsir dapat menyerang tanaman pada pembenihan yang tidak menggunakan plastik polibag. Selain itu, hama ini juga menyerang tanaman muda yang baru saja dipindahkan dari polibag.

Pada artikel kali ini tim bisatani akan membahas salah satu hama awal tanam ya itu hama gangsir. Untuk mengetahui informasi lebih lengkapnya langsung saja simak pennjelasannya dibawah ini.

Apa itu Hama Gangsir

Gangsir : Hama Pengganggu pada Awal Tanaman

Gangsir merupakan serangga dengan nama latin Tarbinskiellus portentosus, Brachtrupes portentosus. Serangga ini biasa hidup didalam dan permukaan tanah. Gangsir berpotensi menjadi hama pertanian yang cukup mengganggu.

Serangga ini mirip dengan jangkrik tetapi memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dan lebih berisi. Maka tak heran jika hama ini juga banyak dicari untuk dikonsumsi.

Bagi orang awam akan kesulitan dalam membedakannnya dengan jangkrik, karena ciri fisiknya hampir sama. Hanya saja jika diamati lebih teliti akan ditemukan perbedaan dengan tubuh dan perut yang lebih berisi. Sedangkan jangkrik memiliki ukuran tubuh yang lebih ramping.

Gangsir dapat dengan mudah ditemui dari mulai Asia Selatan hingga Asia Tenggara termasuk Indonesia. Dalam bahasa jawa orang menyebutnya dengan nama Gasir. Berbeda dalam bahasa inggris orang menyebutnya dengan nama big head cricket, large brown cricket dan short-tail cricket.

Ciri-ciri

Serangga ini memiliki ukuran yang cukup besar dan tubuh yang kekar, yang memiliki panjang sekitar 37 - 44 mm. Selain itu juga mempunyai 2 buah antena (sungut) pada kepalanya. Ukuran kakinya termasuk pendek dan memiliki duri pada bagian belakang. Tubuh gangsir biasanya berwarna coklat agak kehitaman pada bagian atas tubuh dan kepalanya. Sedangkan pada bagian bawah (perut) mempunyai warna agak keputih-putihan.

Perbedaan antara jangkrik jantan dan betina dapat di lihat dari ukuran, yang mana gangsir jantan memiliki ukuran yang lebih besar. Selain itu pada betina mempunyai tegmina (sayap) dengan permukaan yang halus. Dengan ovipositor yang panjang menyerupai jarum di ujung tubuh bagian belakang.

Sedangkan pada gangsir jantan mempunyai tegmina yang kerut merut biasaya digunakan untuk mengerik. Biasanya gasir akan mengerik yang beresonansi sehingga akan menghasilkan bunyi yang cukup keras. Berbeda dengan betina pada jenis gangsir jantan tidak memiliki ovipoitor.

Habitat dan Ekologi

Gangsir : Hama Pengganggu pada Awal Tanaman

Serangga ini dapat dengan mudah dijumpai dapa area perkebunan atau persawahan terutama pada rerumputan. Hama jenis ini suka menggali tanah dengan kedalaman yang berkisar antara 30-60 cm.

Gangsir merupakan serangga nocturnal yang mana akan keluar dan aktif pada malam hari. Pada siang hari serangga ini akan lebih banyak berdiam pada sarangnya.

Menurut sebuah penelitian bahwa siklus hidup gangsir yaitu selama 333 hari. Didalam siklus hidup tersebut terdapat 7 tahapan sebelum menjadi gangsir dewasa. Gangsir betina dapat menghasilkan telur sebanyak 123 butir dan akan menetas setelah berumur 6 hari. Dengan perbandingan nisbah antara jantan dan betina yaitu 1: 1,5 %.

Dampak Serangan Hama

Gangsir merupakan salah satu jenis serangga yang bersifat omnivora. Meski begitu, makanan utamanya adalah tumbuhan. Dalam pertanian serangga ini merupakan hama yang cukup mengganggu dan merugikan bagi para petani.

Serangga ini dapat merusak berbagai jenis tanaman yang masih dalam pembenihan hingga awal tanam. Hama ini merusak tanaman dengan cara menggerek tanaman pada bagian batang hingga putus.

Setelah mendapatkan batang dan ranting tanaman, selanjutnya akan dibawa ke sarang tempat persembunyiannya untuk dimakan. Tanda serangan hama ini dapat dengan mudah untuk diketahui. Biasanya tanaman akan terputus menyisakan sedikit batang dan adanya gundukan tanah pada mulut sarangnya.

Ada berbagai jenis tanaman yang dapat terserang hama ini seperti tanaman tembakau, kopi, singkong, berbagai jenis sayuran dan lain sebagainya.

Walaupun dicap sebagai hama pertanian, gangsir juga menjadi serangga yang banyak diburu orang untuk dikonsumsi. Diwilayah Asia Tenggara khususnya Thailand banyak ditemukan berbagai aneka olahan yang dijual di pasar.

Cara Pengendalian Hama Gangsir

Ada berbagai cara yang dapat diterapkan sebagai upaya untuk mengendalikan hama tersebut. Dengan pengendalian yang tepat diharapkan dapat mencegah kerusakan maupun kerugian yang bisa terjadi. Berikut ini adalah beberapa upaya yang dapat dilakukan sebagai bentuk pengendalian hama gangsir, diantaranya :

  • Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan menggunakan mesin traktor ataupun dengan menggunakan cangkul. Dengan cara tersebut akan membuat kondisi tanah menjadi terbalik.

Dengan begitu tempat persembunyian (sarang) gangsir dapat terlihat. Sehingga kita bisa membasmi hama tersebut sebelum merusak tanaman.

  • Memanfaatkan Predator Alami

Dengan metode ini kita hanya memanfaatkan serangga lain yang merupakan predator alami dari gangsir. Serangga yang dimaksud disini adalah laba - laba.

Maka dari itu jika ada laba-laba disawah, jangan terburu-buru untuk mengusirnya. Bisa jadi laba-laba tersebut dapat bermanfaat bagi pertanian.

  • Menggunakan Pestisida 

Menggunakan pestisida dari jenis insektisida menjadi cara yang paling banyak digunakan pada saat ini. Hal tersebut dilakukan karena sudah terbukti cepat dan efektif dalam mengendalikan hama.

Ada berbagai jenis bahan aktif insektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama gangsir. Cara penggunaannya juga berbeda tergantung dari jenis bahan aktif dan bentuknya .

Yang berbentuk cair bisa menggunakan insektisida dengan bahan aktif lamda sihalotrin, fipronil, beta siflutrin, dan klorpirifos. Untuk yang berbentuk butiran bisa menggunakan insektisida dengan bahan aktif fipronil, diazinon, dan karbofuran.

Cara aplikasi untuk pestisida yang berbentuk cair yaitu dengan cara disemprotkan pada batang tanaman yang masih muda. Bisa juga setelah tanaman dipindah dari kemudian disemprotkan bahan aktif ini.

Apabila jenis insektisida yang digunakan berbentuk butiran bisa dengan cara menaburkan diatas pupuk dasar sebelum proses penanaman.

 

 

 

Kutu Daun - Hama Penyebar Virus Kerdil

1
Kutu Daun - Hama Penyebar Virus Kerdil

Bisatani.com, Kutu Daun - Hama oh hama, organisme ini selalu merugikan bagi manusia. Banyak sekali jenis hama yang mengganggu tanaman seperti tikus, kutu daun, thrips, ulat, wereng, cacing, gasir dan lain-lain. Ada yang menyerang tanaman secara berkelompok, ada juga yang menyerang secara individu.

Misalnya saja kutu daun, hama ini menyerang tanaman secara berkelompok. Serangga ini hampir menyerang semua jenis tanaman, terutama tanaman perkebunan dan pertanian. Hama ini bisa menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi petani, bahkan juga bisa menyebabkan gagal panen.

Oleh sebab itu petani harus paham mengenai bentuk, dampak dan serangan serta cara pengendalian hama kutu daun. Terus simak artikel dari Bisatani.com ini.

Apa itu Hama Kutu Daun (Aphids)

Kutu Daun - Hama Penyebar Virus Kerdil

Kutu daun (Aphidoidea)  merupakan jenis hama serangga yang berukuran kecil dan suka memakan getah pada tanaman. Hama ini suka hidup secara berkelompok (koloni). Hama tersebut juga memiliki beberapa jenis warna seperti berwarna coklat,kuning, hitam, putih, hijau atau merah muda.

Kutu daun merupakan jenis hama serangga yang berukuran kecil dan mempunyai panjang kisaran 1-2 mili meter. Ternyata selain berperan sebagai hama, kutu daun juga berperan sebagai perantara virus penyakit pada tanaman.

Dari beberapa spesies kutu daun ada yang memiliki lapisan lilin atau wol. Hama ini memiliki bentuk tubuh seperti buah pir dengan dua antena panjang diatasnya.

Sebagian besar spesies tersebut juga mempunyai dua tabung pendek yang menonjol dibagian ujung abdomen. Bagian ini disebut kornikel dan mempunyai warna yang berbeda tergantung spesies hama ini.

Siklus Hidup Kutu Daun

Kutu daun suka hidup berkelompok atau berkoloni. Anda bisa mendapati hama ini bergerombol dan bersembunyi di bagian bawah daun. Ternyata kutu daun hanya bisa menghasilkan beberapa generasi saja dalam satu tahun.

Nimfa dan Imago Kutu Daun

Generasi pertama yang dihasilkan adalah kelamin betina yang menetas dari dalam telur. Pada musim semi dan panas, kutu daun berkembang biak dengan cara partenogenesis. Partenogenesis adalah tumbuh dan berkembangnya embrio  tanpa adanya fertilisasi atau pembuahan dari pejantan. Proses ini biasanya berlangsung secara alami. Atau lebih mudahnya kutu daun bisa berkembang biak tanpa adanya proses perkawinan.

Setiap ekor hama betina yang sudah dewasa bisa menghasilkan kurang lebih 40 ekor telur. Jika bahan makanan cukup dan tidak ada gangguan proses parteogenesis akan terus berlangsung sampai populasi menjadi padat. Hanya akan ada nimfa (keturuanan) betina semua. Jika makanan mulai sulit untuk didapatkan barulah dihasilkan keturunan jantan.

Nimfa (keturuanan) kutu daun terdiri dari 4 instar. Dalam kurun waktu 7 sampai 10 hari nimfa tersebut akan menjadi dewasa dan menghasilkan keturunan baru. Lama stadium ini dipengaruhi oleh kelembapan dan suhu udara.

Gejala dan Dampak Serangan

Gerombolan Kutu Daun

Kutu daun merupakan jenis hama yang sangat merugikan bagi tanaman. Pada skala serangan yang parah bisa menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi para petani bahkan sampai gagal panen.

Memang jika jumlah hama hanya sedikit dan sedang belum menimbulkan bahaya dan mudah untuk dikendalikan. Akan tetapi perkembang biakan hama ini tergolong cepat, maka jika dibiarkan saja akan menyebar dan menjadi banyak.

Koloni hama ini akan menyebabkan kerusakan pada bunga, daun beserta pucuknya yang masih muda. Hama yang berkelompok di bawah permukaan daun akan menghisap getah daun sehingga menyebabkan pertumbuhan daun terhambat dan mengkerut. Berikut ciri-ciri tanaman yang terserang hama tersebut:

  1. Terdapat serangga kecil bergerombol di bawah permukaan daun.
  2. Terdapat bercak-bercak pada permukaan daun.
  3. Bentuk daun menjadi berkerut serta menggulung, baik itu tunas daun dan daun yang masih muda.
  4. Daun pada tanaman berubah warna menjadi kekuningan.
  5. Bunga menjadi mudah rontok.
  6. Tanaman tumbuh dengan lambat bahkan cenderuk tampak kerdil.
  7. Tanaman tampak layu dan lama kelamaan akan mati.

Bukan hanya itu hama ini juga berperan sebagai vektor atau perantara virus penyakit pada tanaman. Berikut jenis-jenis virus penyakit yang bisa di tularkan oleh hama ini :

  • Potato Leaf Roll Virus / PLRV (Virus menggulung daun kentang).
  • Potato Virus Y / PVY (Potato virus Y).

Tanda-tanda jika tanaman terserang 2 jenis virus tersebut

  • Daun menggulung keatas, berwarna kekuning-kuningan (gejala mosaik), serta tanaman menjadi kerdil karena pertumbuhannya terhambat.

Daun Mengkerut

Ternyata ketika hama kutu daun memakan jaringan, mereka juga menghasilkan cairan seperti madu yang bisa menyebabkan infeksi jamur. Bukan hanya itu, cairan madu tersebut juga sangat disukai semut sehingga memikat semut untuk berkumpul disekitar hama tersebut.

Cara-cara Pengendalian Hama

Kutu daun merupakan salah satu jenis hama yang mampu berkembang biak dengan sangat cepat. Jadi, usahakan untuk melakukan penanganan secara tepat, cepat dan akurat. Ada beberapa cara pengendalian serangan hama ini pada tanaman :

  • Teknik dan Kultur Jaringan

    • Atur jarak tanam agar sirkulasi udara dan kelempaban lahan tetap normal.
    • Pelihara berbagai jenis varietas tanaman yang berbeda disekitar lahan budidaya.
    • Lakukan penyiraman dan pemupukan sesuai dosis dan jangan berlebihan.
    • Pasang mulsa hitam perak pada bedengan. Pantulan cahaya matahari dari plastik mulsa tidak disukai oleh hama.
    • Bersihkanlah gulma dari lahan pertanian serta pantau lahan, apakah muncul serangan hama dan juga penyakit.
    • Bisa juga memasang jaring-jaring yang berfungsi untuk melindungi tanaman dari serangan hama.
  • Pengendalian Hayati atau Biologis

    • Manfaatkan predator alami hama seperti kumbang kecil (kepik), kumbang tentara, sayap jala serta tawon parasit.

Kepik Predator HamaTawon Parasit Predator Hama

    • Jika serangan hama masih dalam skala kecil, gunakanlah larutan sabun sebagai insektisida yang sifatnya ringan. Bisa juga menggunakan larutan dengan kandungan minyak nabati.
    • Terkadang menyemprot hama yang sedang bergerombol dengan air dapat mengusir hama. Bukan hanya itu, hama yang terkena air rentan terserang jamur karena lembap.
  • Pengendalian Secara Kimiawi

Cara ini merupakan cara yang terakhir yang bisa dilakukan. Pengendalian secara kimiawi harus dilakukan dengan analisa yang tepat dan penuh pertimbangan. Hal ini dikarenakan jika dilakukan dengan kurang tepat bisa berdampak pada lingkungan serta keberlangsungan hidup predator alami hama.

Untuk pengendalian secara kimiawi bisa menggunakan insektisida berbahan aktif Abamektin, Imidakloropid, Profenofos, Dimetoat, Asefat atau Spinetoram. Ingat, selalu gunakan dosis sesuai yang dianjurkan agar hama menjadi tidak resisten (kebal). Serta tidak menimbulkan pencemaran yang parah terhadap lingkungan.

Demikian artikel mengenai hama Kutu Daun dari Bisatani.com. Semoga bisa membantu para penghobi tanaman maupun para sobat petani dalam memahami serta mengendalikan hama tersebut.

Walang Sangit : Hama Tanaman dengan Bau yang Menyengat

0
Walang Sangit : Hama Tanaman dengan Bau yang Khas

Bisatani.com, Walang sangit - Indonesia menjadi negara dengan ladang pertanian yang sangat luas. Hal tersebut didukung dengan kondisi iklim dan geografis indonesia yang sangat cocok digunakan untuk pertanian. Ada berbagai jenis hasil pertanian yang ada di indonesia mulai dari tanaman pangan, palawija, hortikultura, tanaman perkebunan dan lain-lain.

Maka tak heran jika sebagian besar masyarakat indonesia bermatapencaharian sebagai petani. Banyak masyarakat indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

Untuk menjadi petani yang sukses atau berhasil tentunya harus mempelajari ilmu pertanian. Dengan memahami semua hal tentang pertanian akan membantu untuk mencegah kemungkinan terjadinya kegagalan.

Salah satu faktor kegagalan dalam pertanian bisa diakibatkan dari serangan hama dan penyakit yang tidak terkendali. Maka dari itu tim bisatani selalu berusaha menyajikan artikel tentang pertanian. Semoga artikel ini dapat membantu ataupun sebagai referensi tambahan bagi para petani .

Pada artikel kali ini tim bisatani masih akan membahas tentang sseputar hama dalam pertanian. Hama yang akan dibahas pada kali ini adalah hama walang sangit.

Apa itu Hama Walang Sangit

Walang Sangit : Hama Tanaman dengan Bau yang Khas

Walang sangit merupakan salah satu jenis hama yang biasa menyerang tanaman terutama tanaman padi. Hama ini diberi nama walang sangit bukan tanpa alasan, tetapi karena hama ini mampu mengeluarkan bau khas yang cukup menyengat.

Hama walang sangit merupakan serangga yang masih satu keluarga dengan wereng. Serangga ini masuk kedalam ordo Hemiptera (kepik sejati)

Hama dengan nama latin Leptocorisa oratorius fabricus dapat dengan mudah ditemui diwilayah indonesia. Terutama di daerah yang merupakan penghasil padi. Hama jenis ini juga memiliki panggilan yang berbeda-beda pada setiap daerah.

Di Jawa Barat (Sunda) serangga ini disebut dengan Kungkang, di Sumatra disebut dengan Pianggang. Berbeda dengan masyarakt madura yang menyebutnya dengan nama Tenang.

Ciri dan Perilaku

Ciri fisik hama ini juga cukup mudah untuk dikenali karena memiliki ukuran tubuh yang memanjang sekitar 2 cm. Berwarna kelabu dan memiliki belalai (proboscis) yang biasa digunakan sebagai penghisap cairan pada tumbuhan, terutama tanaman padi.

Serangga ini berkembangbiak dengan cara bertelur. Setiap kali bertelur mampu menghasilkan telur 100 - 200 telur dan biasanya akan diletakkan pada bendera daun padi. Telur akan menetas apabila telah memasuki umur 7 hari.

Telur walang sangit yang telah menetas akan menjadi nimfa. Stadia ninfa dapat terjadi selama 17 - 27 hari. Pada awalnya nimfa memiliki warna hijau dan seiring bertambahnya usia akan berubah menjadi cokelat.

Pada fase ini, nimfa dapat berganti kulit sebanyak 5 kali. Setelah melalui fase nimfa kemudian akan berubah menjadi imago. Imago dapat hidup atau bertahan selama 115 hari.

Serangan Hama Walang Sangit

Walang Sangit : Hama Tanaman dengan Bau yang Khas

Walang sangit merupakan hama yang menyerang tanaman secara langsung. Hama ini akan menghisap cairan yang ada pada tanaman padi. Pada fase nimfa atau imago menyerang tanaman padi yang masih muda (matang susu) yaitu dengan cara menghisap cairannya.

Tanamaan padi yang telah terserang akan membuat bulir padi menjadi hampa. Selain itu bekas tusukannya akan berakibat pada munculnya bercak putih karena terinfeksi Cendawan Helminthosporium.

Walang sangit akan menyerang tanaman padi pada fase generatif. Akibat dari serangan tersebut akan membuat bulir padi tidak sempurna. Hal tersebut akan membuat beras menjadi kekuningan, mengapur dan hanya menyisakan kulitnya saja.

Cara Pengendalian Walang Sangit

Walang Sangit : Hama Tanaman dengan Bau yang Khas

Untuk mengendalikan hama walang sangit ada beberapa metode yang perlu dilakukan. Dengan upaya pengendalian yang tepat diharapkan dapat menghindari atau meminimalisir kerugian yang dapat ditimbulkan dari hama tersebut. Dibawah ini adalah beberapa cara yang dapat dilakaukan sebagai upaya pengendalian hama walang sangit, diantaranya :

  • Metode Sanitasi lingkungan

Dengan menerapkan metode ini hal yang perlu dilakukan seperti dengan membersihkan tanaman padi dengan rumput liar (gulma). Membersihkan area persawahan dapat dilakukan pada saat sebelum tanam sampai dengan masa panen.

Pada dasarnya gulma dapat berperan sebagai tanaman inang bagi hama walang sangit. Gulma biasa digunakan sebagai tempat bersarang atau tempat bertahan hidup.

Jika rumput tidak dibersihkan dikhawatirkan akan membuat hama ini menjadi lebih cepat berkembangbiak. Maka dari itu ada baiknya pembersihan gulma dilakukan sesering mungkin.

  • Metode Kultur teknis

Pada saat ini belum ada varietas padi yang benar benar tahan terhadaap serangan hama walang sangit. Maka dari itu upaya pengendalian hama ini bisa dengan menerapkan metode kultur teknis.

Yang dimaksud dengan metode kultur teknis yaitu dengan cara melakukan penanaman padi dengan serentak dalam satu lahan. Selain itu pemupukan padi juga harus merata. Hal tersebut agar proses perkembangan hama tersebut menjadi sedikit.

Dalam praktek dilapangan metode ini sudah terbukti efektif dalam menekan jumlah serangan hama walang sangit. Selisih waktu tanam dalam satu hamparan tanaman tidak dianjurkan lebih dari 2,5 bulan. Semakin serempak pertumbuhan tanaman padi akan semakin sedikit pula perkembangan hama.

  • Metode Biologi

Pengendalian dengan metode biologi yaitu upaya pengendalian hama dengan memanfaatkan agen hayati seperti parasitoid dan jamur. Jenis jamur yang dapat digunakan adalah Beauviria bassiana dan Metharizum sp.

Jamur Beauviria bassiana dapat mengendalikan hama walang sangit pada fase nimfa dan imago dewasa. Cara kerja Jamur ini dengan menginfeksi kulit yang dapat mengakibatkan kematian. Jamur jenis ini bisa didapatkan di kios obat pertanian.

  • Metode Perangkap

Walang sangit merupakan salah satu jenis hama yang suka dengan bebauan, terutama bau busuk dan bangkai. Dengan sifat yang seperti itu dapat dimanfaatkan dalam upaya pengendalian hama ini.

Hal yang bisa dilakukan seperti dengan memasang perangkap (lem) dengan bau yang menyengat. Perangkap dapat dipasang saat padi memasuki fase generatif yaitu saat padi berbunga hingga masak susu.

  • Metode Kimiawi

Pengendalian hama secara kimia merupakan metode pengendalian hama dengan menggunakan zat kimia (insektisida). Penggunaan insektisida bisa apabila jumlah hama sudah melewati ambang batas.

Penyemprotan dapat dilakukan pada pagi ataupun sore hari. Pada waktu tersebut hama walang sangit sedang sangat aktif. Penyemprotan pada tanaman padi dapat dilakukan setelah padi berbunga dan setealah memasuki fase masak susu.

Ada berbagai jenis bahan aktif insektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama walang sangit seperti fipronil, imidakloprid, BPMC, dimehipo, dan tiametoksam.

 

Thrips - Hama Kecil Yang Suka Bergerombol

0
Thrips - Hama Kecil Yang Suka Bergerombol

Bisatani.com,Thrips - Siapa si yang tidak mengenal hama? Hama merupakan organisme yang mengganggu atau merugikan sekitarnya baik itu manusia, hewan dan juga tanaman. Biasanya hama ini identik dengan hewan. Hewan ini bisa meninggalkan kerusakan fisik maupun menjadi agen penyebar beberapa virus atau penyakit.

Misalnya hama yang menyerang pada tanaman. Serangan hama pada tanaman, bisa menyebabkan tanaman rusak bahkan bisa menyebabkan petani mengalami gagal panen.

Ada banyak sekali jenis hama yang menyerang tanaman, salah satunya adalah hama Thrips. Thrips ini tergolong hama yang kecil dan suka bergerombol dan sangat merugikan bagi petani.

Kali ini Bisatani.com akan membahas mengenai apa itu hama Thrips. Mulai dari bentuk hama, dampak serangan serta bagaimana cara mengendalikannya.

Apa itu Hama Thrips ?

Thrips - Hama Kecil Yang Suka Bergerombol

Thrips adalah hama yang berukuran kecil, mempunyai tubuh yang ramping dan suka berkelompok. Serangga ini masuk kedalam ordo Thysanoptera. Hingga saat ini diperkiraan ada 5000 spesies yang telah teridentifikasi.

Lima puluh persen spesies memakan jamur sedangkan sisanya memakan tumbuhan. Tetapi ada juga yang bersifat kanibal atau memakan jenis Thrips yang lain.

Thrips memiliki tubuh yang silindris dan juga memanjang. Panjang dari hewan ini sekitar 1-2 mm tetapi ada juga yang panjangnya mencapai 13 mm. Serangga ini kebanyakan berwarna hitam.

Hama ini mempunyai mulut yang juga berfungsi sebagai alat penusuk dan juga penghisap. Jika diperhatikan, mulutnya itu seperti alat pemarut, berbentuk pendek, buntak dan tidak simetris.

Dengan bentuk mulutnya tersebut, Thrips akan mudah melukai jaringan pada tumbuhan. Jaringan pada tumbuhan yang terluka akan mengeluarkan cairan dan dihisap oleh hama ini sebagai asupan makanan.

Thrips merupakan jenis serangga dengan mobilitas yang rendah. Meskipun mereka mempunyai sayap tetapi mereka jarang menggunakannya untuk terbang. Hama ini mudah ditemukan secara berkelompok, tinggal pada sehelai daun bersama dengan nimfa dan juga telur-telurnya.

Ada juga jenis Thrips pedator dari famili Aelothripidae dan jenis pemakan jamur pada tumbuhan yang lapuk dari famili Merothripidae. Beberapa spesies juga berbahaya karena bisa menularkan virus dari golongan Tospovirus.

Siklus Hidup Thrips

 

Thrips memiliki empat fase dalam siklus hidupnya. Ada fase telur, fase larva dan nimfa, fase prapupa dan pupa, yang terakhir fase imago dewasa. Terkadang satu siklus bisa mencapai waktu satu bulan. Lamanya waktu siklus juga bisa dipengaruhi oleh temperatur dan jenis spesies.

Thrips - Hama Kecil Yang Suka Bergerombol

Telur hama ini berbentuk oval, mirip ginjal pada manusia. Ukurannya juga sangat kecil sehingga tidak terlihat dengan mata telanjang. Setiap induk meletakkan telurnya dengan jumlah yang banyak, rata-rata sekitar 80 butir telur.

Tanda-tanda dari peletakan telur yaitu jika terdapat jaringan tanaman yang membengkak. Telur tersebut akan menetas sekitar 3 atau 7 hari setelah diletakkan.

Larva yang baru saja menetas akan memakan jaringan tanaman sebagai sumber nutrisi. Nimfa Thrips sangat aktif dan suka berpindah-pindah. Bentuk dari fase awal nimfa Thrips seperti kumparan putih jernih dengan dua mata berwarna merah berukuran 0,4 mm.

Pada Instar kedua warnanya berubah menjadi kuning dan panjang 0,9 mm. Aktifitas makan meningkat dan suka bersembunyi  dekat urat daun atau lekukan permukaan daun.

Memasuki fase prapupa maupun pupa, Thrips akan turun ketanah atau masuk kedalam tanah. Terkadang ada beberapa jenis spesies yang pada fase ini tetap berada pada tanaman. Pada fase ini Thrips tahan terhadap insektisida. Ukuran menjadi lebih pendek dan muncul 2 pasang sayap dan antena, aktifitas makan juga berhenti.

Fase terkahir yaitu fase imago (dewasa). Fase imago adalah taham hama Thrips bersayap dan bereproduksi. Hama ini tidak begitu pandai  dalam terbang, akan tetapi sayap berumbai yang mereka miliki bisa membuat hama Thrips terbang dengan cara terbawa angin.

Imago ini bergerak lebih cepat daripada saat fase nimfa. Selain memiliki sayap, bentuk tubuh imago lebih panjang dan sempit, berwarna kuning pucat sampai kehitaman dan berukuran 1-2 mm.

Imago betina bisa memproduksi telur sebanyak 80 butir. Dia dapat meletakkan telur tersebut menggunakan ovipositornya yang tajam pada jaringan ephidermal daun.

Dampak Serangan Hama Thrips pada Tanaman

Hama Thrips merupakan salah satu jenis hama yang merugikan bagi petani. Hama ini akan menimbulkan kerusakan yang disebabkan dari aktivitas makan. Gejala dari serangan hama ini sangat khas. Berikut ciri-ciri tanaman yang terserang hama ini:

  1. Daun yang terserang akan berwarna kekuning-kuningan
  2. Timbul bintik-bintik yang berwarna coklat pada daun.
  3. Pinggir daun akan saling mengatup atau melenggkung.
  4. Bentuk daun akan berubah (malformasi).

Serangan hama ini akan menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi petani. Misal untuk petani bunga potong, bunga akan menjadi cacat sehingga akan mengurangi nilai jual bahkan tidak laku. Pada tanaman cabai dan tomat, perkembangan tunas daun, daun dan bunga akan terhambat. Bahkan buah yang dihasilkan akan mengecil.

Virus TSWV

Thrips merupakan salah satu jenis hama yang menjadi vektor dari beberapa jenis virus. Salah satunya adalah virus TSWV (Tomato Spotted Wilt Virus) atau Virus Bercak Layu. Berikut jenis spesiesnya  :

  1. Thrips bunga barat (Frankliniella occidentalis).
  2. Thrips bawang (Thrips tabaci).
  3. Kutu Thrips cabai (Scirtothrips dorsalis).

Tanaman yang terserang virus ini tingkat pertumbuhannya menjadi lambat, bahkan cenderung menjadi tanaman kerdil. Tanaman yang terserang virus ini ada baiknya dicabut dan dimusnahkan karena tidak dapat disembuhkan, serta bersiko menulari tanaman lain.

Cara Pengendalian Hama Thrips

Ada banyak cara untuk mengendalikan hama Thrips pada tanaman. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama ini:

Teknik dan Kultur Jaringan

  • Menggunakan plastik mulsa hitam-perak pada bedengan. Selain untuk mengendalikan gulma pada sekitar tanaman, plastik mulsa juga dapat memantulkan cahaya matahari kepermukaan bawah daun. Bagian bawah daun merupakan tempat hama ini bersembunyi.
  • Pengendalian kelembapan dan suhu. Aturlah jarak tanam, lakukan pemangkasan atau perempalan pada tanaman agar sirkulasi udara lancar. Hama ini sangat suka dengan kondisi lembap dan suhu rendah.
  • Membuat pagar dari tanaman buffer (penyangga). Tanaman penyangga adalah tanaman yang disukai oleh hama. Jadi pembuatan paggar dengan tanaman tersebut bisa membuat hama teralihkan dari menyerang tanaman utama. Contoh : Tanaman kacang panjang dan terong.

Pengendalian Mekanis

  • Memasang perangkap berupa perekat seperti Insect Adhesif Trap Paper (IATP) yang berwarna kuning.
  • Melakukan pembersihan manual menggunakan kuas dan larutan sabun untuk tanaman buah dalam pot serta hias, tetapi cara ini kurang efektif untuk tanaman dalam kebun.
  • Menyedikana kondisi lahan yang baik bagi tanaman agar tanaman terhindar dari stres. Berikan irigasi yang baik dilahan tanam.
  • Pengerikan, membajak tanah dan solarisation. Hal ini bisa membunuh kepompong yang ada didalam tanah.

Pengendalian secara Biologi

Ada beberapa cara pengendalian secara biologi yaitu dengan menjaga kelestarian predator alami hama Thrips dan penggunaan insektisida biologi.

    • Pemanfaatan predator alami seperti serangga Lady Bug atau kepik, Brown dan Green Lacewing, Lebah Hover, Rove beetle, Thrips predator serta Tungau Predator.

Lady Bug

    • Pembuatan insektisida biologi menggunakan bahan bawang putih yang baunya kurang disukai hama Thrips. Ada juga yang menggunakan parasit Beauveria bassiana atau Varticilium lecanii yang terbukti efektif terhadap telur, larva dan Thrips dewasa.

Pengendalian secara Kimia

Pengendalian secara kimiawi biasanya dilakukan dengan penyemprotan insektisida kimia. Memang pengendalian secara kimia merupakan jenis pengendalian hama yang paling efektif. Tetapi cara terakhir ini harus dilakukan dengan bijaksana dan aplikasi yang tepat, seperti :

    • Aturlah noozle agar insektisida keluar dalam bentuk kabut (fogging), agar larutan merata pada tanaman hingga ke sela-sela bagian tanaman.
    • Lakukan penyemprotan pada pagi atau sore hari.

Biasanya untuk mengendalikan hama ini bisa menggunakan insektisida berbahan aktif Abamektin, Asefat, Imidakloropid, Profenofos, Dimetoat dan Spinetoram. Ingat, selalu gunakan insektisida sesuai dosis yang dianjurkan.

Demikian pembahasan mengenai hama Thrips. Selalu kenali jenis-jenis hama dan  gejala serangannya. Antisipasi serangan hama sejak dini agar tanaman tetap terjaga kesuburannya.